Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • 2 MEI

    2017-05-22 09:26:08
    Images

    2 Mei

    Oleh Alexander Bala Gawen

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Email: abggawen@yahoo.com; Hp 081353989718

     

     

    Setiap tahun, tanggal 2 Mei dirayakan bangsa ini sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Berbagai macam cara perayaan dilakukan warga bangsa, terutama sivitas pendidikan untuk memberi perhatian akan pentingnya pendidikan dalam sejarah peradaban bangsa. Ada penyelenggaraan beraneka lomba, mulai dari lomba untuk sekedar hiburan hingga lomba yang memiliki semangat dan nilai edukatif membangun dan mengembangkan kecerdasan. Penetapan tanggal ini tak pernah lepas dari sosok seorang tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Ia mulai meratas dan meretas pendidikan untuk kaum pribumi melalui pendirian Taman Siswa. Mengalami peristiwa pembuangan ke negeri Belanda justru melahirkan cakrawala pemikiran baru tentang bagaimana membuat kaum pribumi keluar dari kerangkeng pendidikan. Sebuah lompatan pemikiran jauh ke depan telah “membuih” di puncak kesadaran seorang Dewantoro agar anak bangsa yang lahir dan hidup dirahim Pertiwi ini suatu kelak dapat menghirup udara segar kecerdasan.

    Sebagai sebuah “Taman”, sekolah mesti menjadi media tanam tempat persemaian berbagai karakter dan kecerdasan anak untuk mencapai kematangan tertentu. Media yang senantiasa menghargai aneka karakter dan kecerdasan itu. Media yang terus membenihkan aneka pembelajaran yang menyenangkan. Jauh dari benih dan perilaku kekerasan. Dengan demikian, sekolah menjadi “taman siswa” sebagaimana yang diidealkan oleh sosok Dewantora.

    Melalui filsafat Bunga Teratai, Dewantoro meletakkan tiga sikap atau prinsip dasar seorang pemimpin pendidikan. Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Sikap-sikap pendidikan ini secara implisit seaspirasi dengan apa yang termuat dalam  Pembukaan UUD 1945, juga dalam UU No. 30/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain sebagai pendidik, guru adalah pengajar yang nota bene adalah pemimpin pendidikan. Makna prinsip di depan pemimpin harus memberikan contoh/teladan yang baik (ing ngarso sung tulodo), di tengah pemimpin selalu membangkitkan semangat (ing madya mangun karso), dan dari belakang pemimpin selalu memberikan dorongan (tut wuri handayani).

    Dalam pemahaman yang lain, Kihajar Dewantoro menampilkan corak dan karakter kepemimpinan ideal dalam bidang pendidikan. Ia tampil sebagai pemimpin pendidikan yang “tahan banting” di tengah gempuran senjata kaum kolonial. Keterhimpitan menggagas pandangan akibat presure penjajah. Pengasingan ke Hindia Belanda baginya menjadi “terali keleluasaan” mendesain sebuah strategi pemberdayaan dan pencerdasan bangsa. Hemat saya, perjuangan pemikiran dan tindakan mendirikan “Taman Siswa” telah dengan terang menyampaikan kepada kita bahwa Dewantoro adalah seorang pemimpin pendidikan yang ulet, dan tak lelah berpikir, serta terus berkarya mencapai pemimpin yang berkualitas.

    Dalam konteks kekinian, Tampubolon (2005) menyebutkan lima syarat menjadi pemimpin pendidikan yang berkualitas. Syarat-syarat ini menjadi bagian dari permenungan kita untuk menjadikan aspek pendidikan sebagai idola, karena kita terpilih menjadi pemimpin pendidikan, pemimpin masa depan bangsa, yang tentunya punya ikhtiar yang sama membangun pendidikan Indonesia yang bermutu. Pemimpin pendidikan di taman pendidikan, taman keanekaragaman karakter, keanekaragaman cara pikir, cara bertindak, dan cara berkarya.

    Pertama, visioner. Pemimpin pendidikan perlu merumuskan dan menjalankan secara konsisten visi, misi, dan nilai dasar (prinsip) yang menjadi pedoman dalam mencapai tujuan. Paling penting dalah visi, misi, dan prinsip dasar tersebut perlu disosialisasikan kepada seluruh sumber daya manusia pada lembaga pendidikan tersebut agar semua memahami dan menjadikannya sebagai pedoman pelaksanaan semua tugas. Kedua, integritas. Pemimpin pendidikan hendaknya mempunyai integritas, baik dalam tataran kepribadian, keluarga, masyarakat juga dalam profesi keilmuan, moralitas dan hukum. Oleh karena itu, pemimpin pendidikan yang bermutu akan selalu tampil berwibawa dan penuh keteladanan. Ketiga, pemersatu. Pemimpin pendidikan mestinya menjadi pemersatu berbagai keberagaman perilaku dan kepribadian segenap sumber daya manusia yang dipimpinnya. Sudah selayaknya mengakomodir berbagai persoalan yang terjadi tanpa melihat siapa dia yang menghadapi masalah tersebut. Mampu menjadi mediator dalam keberagaman cara pikir dan cara pandang.

    Keempat, pemberdaya. Pemimpin pendidikan yang senantiasa memberikan kesempatan serta mendorong sumber daya manusia yang dipimpinya untuk meningkatkan kemampuan dan karier mereka, di samping memfasilitasi dan memberi motivasi. Kelima, pengendali, RE (Ratio–Emosi). Pemimpin harus mampu mengendalikan ratio–emosi. Pemimpin yang emotif cenderung menimbulkan konflik, sebaliknya pemimpin yang terlalu mengandalkan  ratio juga sering sulit mengakomodasi perasaan orang lain sehingga dapat menimbulkan sifat apatis yang menyebabkan keterpaduan sinregis tak tercapai.

    Tentang pemimpin, John C. Maxwell berpetuah, “Kata yang paling tidak penting adalah aku; kata yang paling penting adalah kita; dua kata yang paling penting adalah terima kasih. Tiga kata yang paling penting adalah semua sudah dimaafkan; empat kata yang paling penting adalah apa sebenarnya pendapat Anda; lima kata yang paling penting adalah Anda sudah menyelesaikan pekerjaan hebat, dan enam kata yang paling penting adalah aku ingin memahami Anda lebih baik”. Dan, kita  berani berkata, Anda adalah orang yang penting bagi saya. Akhirnya, 2 Mei tidak sekadar rutinitas tahunan, namun hendaknya menjadi momentum refleksi karya pendidikan. Tidak saja oleh para pekerja ilmu di “Taman Siswa”, melainkan semua kita yang menaruh perhatian pada bidang pendidikan. *                  

     

Berita Terkait