Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Arsitektur Uniflor Masuk 10 Besar

    2015-04-18 06:42:03
    Images

    Arsitektur Uniflor Masuk 10 Besar

    (Lomba Desain Rumah Kayu 2014 di Bali)

     

    Oleh Mukhlis A. Mukhtar, S.T, M.T

    Dosen Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik,

     Universitas Flores, Hp 085234543731

     

    Tidak pernah terpikirkan bahwa Prodi Teknik Arsitektur, Uniflor masuk kategori 10 besar dalam Lomba Desain Rumah Kayu 2014 yang diselenggarakan Rumah Intaran Bali. Sebanyak 156 tim terdaftar di mana satu tim terdiri dari satu orang kapten tim dan dua anggota mewakili universitas ternama di Indonesia.

    Mahasiswa Prodi Teknik Arsitektur Uniflor mengirimkan tiga orang wakil dengan nomor peserta RK 064, yakni Eus Sabeus Seda (kapten tim), anggotanya Eus Sabius Woge dan Robert Saputra. Dari 156 tim terdaftar hanya 104 karya yang diterima panitia lomba.

    Karya peserta lomba diseleksi melalui empat tahapan, yakni 50 terbaik, kemudian  27 terbaik, kemudian 10 terbaik, dan terakhir 3 terbaik. Ada tiga orang juri, yakni Eko Prawoto (arsitek dan dosen UKDW Yogyakarta), Ida Bagus Agung Partha (pelaku indusrti kepariwisataan dan owner Santrian Grup, Sanur, Bali),  Gede Kresna (arsitek dan owner Rumah Intaran Bali). Setelah menyeleksi terpilihlah 10 karya terbaik, dan tim dari Uniflor masuk dalam 10 besar. Dari 10 karya terbaik diseleksi kembali menjadi 3 finalis yang menjadi pemenang lomba.

    Tiga finalis pemenang lomba adalah  finalis (1) RK 054, Universitas Sebelas Maret, Solo, finalis (2) RK 059, Institut Teknologi Bandung, finalis (3)RK 142, Universitas Parahyangan Bandung. Ketiga finalis ini akan mempresentasikan karyanya di Rumah Intaran, Desa Bengkala, Bali pada 15 Agustus 2014 mendatang.

    Diskusi matang para juri menentukan 3 finalis dari 10 besar karya terpilih membuahkan empat catatan penting, yakni (1) bangunan kayu lebih dari satu lantai akan memberikan persoalan desain dan penyelesaian lebih menantang untuk menghemat lahan, (2) bagaimana karya kekinian memperbaiki dan mengembangkan arsitektur tradisional, misalnya dalam hal pencahayaan dan penghawaan juga dalam konstruksi dan detail-detail sambungan, (3) munculnya desain pengaplikasian kayu-kayu bekas, bagaimana menata bangunan dari kayu bekas yang dimensinya kecil dan utuh, (4) butuh inovasi struktur dan khazanah sambungan baru dalam arsitektur kekinian dengan memperhatikan penggunaan kayu secara hemat dan seefisien mungkin (sumber Rumah Intaran).

    Karya tim Uniflor berjudul “Rumah Peristirahatan.” Konsepnya diambil dari bangunan tradisonal Suku Lio. Bangunan rumah peristirahatan ini memiliki struktur panggung dengan tiang induk membentuk konstruksi bangunan. Konsep awal bangunan ini menyerupai bangunan sao keda (rumah musyawarah) yang terdapat di Suku Lio Kabupaten Ende.

    Arsitektur tradisional Suku Lio mempunyai kekhasan, baik bentuk arsitekturalnya maupun filosofi yang terkandung dalam bentuk bangunannya. Memiliki dua lantai sebagai fungsinya. Lantai pertama terdapat ruang tamu yang memiliki dua kamar tidur, lantai dua memiliki satu ruang digunakan sebagai ruang serba guna yang dapat dijadikan fungsi yang berbeda-beda. Konsep ini muncul karena mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor ingin memperkenalkan potensi kearifan lokal arsitektur Kabupaten Ende ke dunia luar.

    Rumah peristirahatan menggunakan pondasi batu sebagai tumpuan bangunannya. Pondasi ini menggunakan batu lonjong dipasang berdiri secara vertikal. Bentuk pondasi rumah unik, yakni kolong bangunan hanya diletakkan di atas sebuah batu datar. Tujuan pondasi seperti ini untuk menghindari keretakan pada kolong bangunan pada saat terjadi gempa, sedangkan bentuk lantai panggung bertujuan memungkinkan sirkulasi udara dari bawah lantai berjalan baik, sehingga tidak terjadi kelembaban pada lantai bangunan. Lantai rumah terbuat dari bilah papan disusun sejajar satu arah. Struktur lantai terdiri dari dua bagian, lantai teras gantung dan lantai ruang dalam. Yang membedakan keduanya adalah tinggi lantai tersebut.

    Pada bangunan rumah peristirahatan struktur atas lantai mempunyai empat buah sudut kolong penyangga yang ditopang dari balok kayu palang bagian atas di mana bentuk dari kolong berbeda dengan kolong bangunan lainnya. Tiang kolong berbentuk bulat di bagian bawah dan bagian atasnya berbentuk menyerupai kerucut segi empat. Di antara tiang kolong samping kanan dan samping kiri rumah terdapat satu tiang badan rumah letaknya di bagian tengah.

    Struktur rangka atap merupakan struktur bagian atas bangunan rumah peristirahatan terdapat tiang nok berfungsi sebagai pembentuk struktur kuda-kuda dihubungkan dengan bubungan. Pada struktur rangka atap terdapat gording terbuat dari bilah bambu  panjang. Struktur terakhir adalah atap berbahan ijuk sebagai pengikat dipasang selang-seling dari bawah ke atas.        Selain membuat konsep karya rumah peristirahatan, mahasiswa juga membuat maket dengan skala 1:10 bangunan yang secara keseluruhan terbuat dari kayu bekas yang kemudian dikirimkan ke panitia lomba di Bali. Hasil karya yang dikirim masuk kategori 10 besar menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Uniflor. Ternyata Uniflor bisa bersaing dengan mahasiswa universitas ternama lainnya. Di sinilah peran dosen pembimbing sangat dibutuhkan untuk membimbing mahasiswa berkompetisi. Hasil karya 10 besar akan dipamerkan di Studio Rumah Intaran Bali yang akan dihadiri tokoh arsitek Indonesia pada 15 Agustus 2014 nanti.

    (Flores Pos, Sabtu, 9 Agustus 2014).

Berita Terkait