Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Awal Mula Agama Katolik di Flores Lembata

    2015-08-08 18:56:04
    Images

    Awal Mula Agama Katolik di Flores/Lembata

     

    Drs. Yosef Tomi Roe, M.A

    Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dosen Program Studi

    Pendidikan Sejarah, Universitas Flores, Hp 081339184663

          

    Gerakan renaisans dan humanisme di Eropa sebagai awal mula kebangkitan ilmu pengetahuan adalah suatu gerakan yang mendorong kemajuan di berbagai bidang. Semangat kemajuan tersebut, melahirkan temuan baru oleh Nicholaus Copernicus pada abad ke-15 yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Temuan itu mendorong para pelaut Portugis, Spanyol, dan sejumlah negara Eropa berlayar menjelajahi samudera mencari daerah baru.

                Hal lain yang mendorong bangsa Eropa menjelajahi samudera adalah (1) Ditemukannya alat teknologi yang disebut “kompas” yang digunakan untuk menentukan arah dan posisi laut dalam pelayaran di samudera luas, (2) Adanya keinginan untuk menyebarkan agama Kristen (Katolik dan Protestan) ke berbagai wilayah baru oleh bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda.

    Konsep yang mendorong imperialisme kuno ini adalah Gospel, Gold, Glory. Gospel adalah konsep menyebarkan ajaran agama Kristen ke bangsa lain. Gold adalah konsep mencari emas (keuntungan), termasuk rempah-rempah untuk kepentingan ekonomi bangsanya. Glory adalah konsep penguasaan wilayah lain yang akan memberikan kehormatan bagi negerinya.

    Dalam perkembangannya terjadi persaingan antara Portugis dan Spanyol yang sama-sama beragama Katolik dalam penjelajahan samudera. Paus Alexander VI di Roma pada tahun 1494 memberikan hak kepada kedua bangsa untuk mengelilingi dunia. Keduanya mengadakan Perjanjian Tordesilas yang berisi, garis batas antara daerah kekuasaan Portugis dan Spanyol adalah Garis Meridian yang melalui Tanjung Verde. Namun pada tahun 1521 ketika Portugis dan Spanyol sampai di Maluku, kedua bangsa saling menuduh melanggar Perjanjian Tordesilas. Perselisihan keduanya diselesaikan dengan Perjanjian Saragosa tahun 1528, dengan kesepakatan, Spanyol menduduki Filipina, Portugis menduduki Indonesia.

    Ferdinand Magelhaens seorang berkebangsaan Portugis namun hidup dan menetap di Spanyol, dengan dukungan raja Spanyol berlayarlah ia sampai di ujung selatan benua baru Amerika dan di situ terdapat selat yang menghubungkan samudera Atlantik dengan samudera di seberang benua baru itu. Dari sana mereka berlayar sampai ke pulau pusat rempah-rempah, yang ternyata tidak lain adalah kepulauan Maluku (Indonesia).  

    Di daerah inilah Magelhaens menemukan Samudera Pasifik, yang artinya samudera yang damai dan tenang. Rombongan Magelhaens tiba di Filipina yang menjadi daerah koloni Spanyol. Sesuai dengan amanat Raja Spanyol, Magelhaens membujuk anak-anak negeri Filipina menganut agama Katolik. Kini, mayoritas warga Filipina menganut Katolik.

    Pada abad ke-16 kegiatan pekabaran Injil misionaris Portugis sangat gencara ke seluruh penjuru dunia dengan menumpang kapal dagang Portugis dan Spanyol. Salah seorang misionaris yang sampai ke Maluku adalah Fransiscus Xaverius (1506-1552). Ia membela rakyat yang tertindas oleh bangsanya sendiri.

    Di kalangan kaum pribumi Fransiscus Xaverius dikenal jujur dan ikhlas membantu kesulitan rakyat. Ia menyebarkan agama Katolik dengan berkeliling ke kampung-kampung. Kegiatan misionaris itu tidak hanya di Maluku, juga di Sulawesi Utara, Flores, Timor, Sangir, Kalimantan, dan Jawa Timur.        

    Penyebaran agama Katolik di Maluku menjadi tersendat setelah terbunuhnya Sultan Hairun yang menimbulkan kebencian rakyat terhadap orang Portugis. Namun, penyebaran agama Katolik tetap dilakukan di daerah-daerah lain oleh penduduk asli yang telah dibaptis menjadi Katolik. Dengan lampu lentera di tangan, mereka memasuki kampung-kampung mengajarkan agama Katolik kepada anak-anak dan orang dewasa.

    Penyebaran agama Katolik semakin maju dan berkembang karena langkah yang ditempuh oleh para misionaris adalah dengan mengadakan hubungan baik dengan para penguasa (raja) lokal. Kalau penguasa sudah menganut agama Katolik maka rakyatnya mengikuti rajanya.

    Setelah bangsa Portugis dan Spanyol, datang pula bangsa Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Dia tiba di Banten dan disambut baik oleh para pedagang. Namun tidak berlangsung lama karena ambisi mancari keuntungan besar. Atas saran Yohan van Olden Barnevelt, Belanda mendirikan kongsi dagang dengan nama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) tahun 1602 dengan tujuan memenangi persaingan dagang Belanda dengan pedagang Eropa lainnya.

    Untuk mempertahankan diri dari berbagai ancaman, VOC mendirikan benteng-benteng,  seperti benteng  kota Intan (Fort Peelwik) di Banten, Victoria di Ambon, Rotterdam di Makasar, Oranye di Ternate dan benteng Nasao di Banda. VOC mendapat kekuasaan dan tanggung jawab penuh memajukan agama Kristen Protestan dengan semboyan: “Siapa punya negara, dia punya agama!” Daerah-daerah yang dikuasai Belanda menjadi daerah penyebaran agama Protestan. Namun sejak Daendels berkuasa, agama Katolik dan agama Protestan diberi hak yang sama.

    Faktor sulitnya perkembangan agama Katolik dan Protestan di Indonesia waktu itu karena dianggap sebagai agama penjajah. Pemerintah kolonial Belanda tidak menghargai persamaan derajat antara bangsa.

    Akhirnya, upaya penyebaran agama Katolik dilakukan ke daerah-daerah padalaman yang belum tersentuh. Maka masuklah misionaris Ketolik ke wilayah Flores/Lembata. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Itulah awal mula mengapa agama Katolik sampai di Flores/Lembata. *

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Jumat, 15 Mei 2015).

     

Berita Terkait