Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Bahasa Dan Sastra Sebagai Jatidiri Bangsa

    2017-12-12 11:53:01
    Images

    Bahasa dan Sastra sebagai Jati Diri Bangsa

    Oleh Zainab Jamaludin, S.Pd.,M.Pd.

    Dosen Program Studi PendidikanBahasadanSastra Indonesia

    Hp: 081236971934; E-mail: zaenab190686@gmail.com

     

    Jati diriatau identitasmerupakan ciri khas yang menandai seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa. Seperti halnya bangsa lain, bangsa Indonesia juga memiliki jati diri untuk membedakannya dengan bangsa yang lain di dunia. Salah satu jati diri bangsa Indonesia itu adalah bahasa Indonesia.Hal itu sejalan dengan semboyan yang selama ini kita kenal dengan “bahasa menunjukkan bangsa.”

    Bahasa Indonesia merupakan jati diri penutur bangsa ini. Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus senantiasa kita jaga, kita lestarikan, dan kita kembangkan agar tetap memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan bangsa kita dari bangsa-bangsa lain. Lebih-lebih dalam era global sekarang, jati diri kebahasaan suatu bangsa menjadi variabel yang amat penting.

    Perkembangan penggunaan bahasa Indonesia saat ini cukup membanggakan. Bahasa Indonesia telah mampu menjadikan dirinya sebagai bahasa penghubung dan media pemersatu antarsesama dan antaretnis. Namun, sebagai penutur kita perlu melakukan evaluasi pada fenomena penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya, penggunaan pada ruang publik, seperti pada nama bangunan, pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, dan restoran, serta kompleks perumahan.Fenomena penggunaan bahasa Indonesia seperti inilah kita sikapi dengan bijak agar kita tidak menjadi asing di negeri sendiri.

    Sebagai simbol jati diri bangsa, bahasa Indonesia harus terus dikembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi yang modern dalam berbagai bidang. kehidupan. Di samping itu, mutu penggunaannya pun harus terus ditingkatkan agar bahasa Indonesia dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif dan efisien untuk berbagai keperluan. Upaya ini telah memperoleh landasan hukum yang kuat dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-Undang ini merupakan amanat dari Pasal 36 UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, dan sekaligus merupakan realisasi dari tekad para pemuda Indonesia sebagaimana diikhrarkan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yakni menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.

    Tentang bahasa Indonesia di ruang publik, misalnya, Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 menandaskan dengan jelas pada Pasal 36 bahwa (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nama geografi di Indonesia, (2) Nama geografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya memiliki 1 (satu) nama resmi, (3) Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi  yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia, dan (4) Penamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan/atau keagamaan.

    Di sisi lain, kita juga melihat sikap sebagian masyarakat yang tampaknya merasa lebih bergengsi, jika dapat menyelipkan berbagai kata asing dalam berbahasa Indonesia. Padahal kosakata asing yang digunakannya ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Misalnya, sebagian masyarakat lebih suka menggunakan kata di-follow up-i, di-pending, meeting, dan on the way.Kita telah memiliki padanannya, seperti ditindaklanjuti untuk di-follow up-i, ditunda untuk di-pending, pertemuan atau rapat untuk meeting, dan sedang di jalan untuk on the way.

    Kondisi penggunaan bahasa Indonesia yang demikian tentu tidak akan kita biarkan terjadi. Diperlukan berbagai upaya agar jati diri bangsa kita tetap hidup di antara bangsa lain di dunia. Dalam konteks kehidupan global seperti itu, bahasa Indonesia sesungguhnya selain merupakan jati diri bangsa, sekaligus juga merupakan simbol kedaulatan bangsa.

    Selain bahasa Indonesia, sastra Indonesia juga merupakan bagian jati diri bangsa. Hal itu karena sastra pada dasarnya merupakan pencerminan, ekspresi, dan media pengungkap tata nilai.Segala sesuatu yang terungkap dalam karya sastra Indonesia pada dasarnya merupakan pencerminan jati diri bangsa Indonesia.

    Jika sebagai sebuah bangsa, salah satu jati diri kita adalah bahasa dan sastra Indonesia, sebagai anggota suatu komunitas etnis jati diri kita adalah bahasa dan sastra daerah, maka kitapun meelestarikan bahasa dan sastra daerah untuk menunjukkan jati diri dan kebanggaan kita sebagai anggota masyarakat daerah. Kita tidak boleh kehilangan jati diri kita sebagai bangsa dan putra daerah, agar kita tidak tercerabut dari akar budaya kita.

    Jati diri kita tercermin pula pada keragaman seni budaya, adat istiadat atau tradisi, tata nilai, dalam berbagai budaya masyarakat. Jati diri yang lain adalah kearifan lokal. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal dengan berbagai manfaat di dalamnya.Ada pepatah, tembang, permainan, syair, kata bijak, dan berbagai bentuk lain. Kearifan lokal itu sarat nilai yang dapat memperkuat kepribadian dan karakter masyarakat, sekaligus sebagai penyaring pengaruh budaya dari luar.

    Untuk memperkuat jati diri itu, baik yang lokal maupun nasional, diperlukan peran serta berbagai pihak, di samping dukungan sumber daya yang memadai. Dengan jati diri yang kuat, bangsa kita akan makin bermartabat sehingga mampu berperan, bahkan juga bersaingdalam kancah kehidupan global.*

     

Berita Terkait