Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Bahasa Ibu dan Pembentukan Karakter

    2016-09-07 09:06:07
    Images

    Bahasa Ibu dan Pembentukan Karakter

    Dr. Kanisius Rambut, M.Hum

    Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra

    Universitas Flores

     

    Pada era globalisasi ini masih ditemukan banyak orang secara aktif menggunakan bahasa lokal di samping bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa lokal lebih populer dengan sebutan bahasa daerah dan dalam perspektif sosiolinguistik disebut bahasa Ibu (mother tongue). 

    Kehadiran ketiga bahasa itu menciptakan dua kondisi sosiologis yang berbeda yakni kondisi kedwibahasawan (bilingual speaker) dan keanekabahasawan (multilingual speaker). Selaini tu, ketiga bahasa itu, masing-masing memiliki peran spesifik bagi penuturnya. Bahasa lokal berperan membentuk karekter penuturnya pada tingkat lokal, bahasa Indonesia berfungsi membetuk kararakter seluruh pemakai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional berperan untuk membentuk sikap dan karakter bagi seluruh segmen penutur di seluruh dunia. 

    Sebagaimana temuan riset Rambut terdahulu bahwa di Pulau Flores dan Lembata tersebar 11 bahasa lokal yang merupakan anggota rumpun Astronesia. Kesebelas bahasa dearah itu adalah bahasa Komodo, Manggarai, Rembong, Rongga, Bajawa, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka, Lamaholot, dan Kedang.Gugus bahasa daerah di Flores dan Lembata berperan untuk membentuk karakter dan sikap masyarakat penuturnya.Misalkan bahasa Manggarai hadir di tengah masyarakat untuk membentuk sikap wicara dan sikap budaya dalam bentuk bahasa serta membentuk karakter penuturnya.

    Bahasa daerah merupakan instrumen yang paling mungkin dalam mengkomunikasikan agenda-agenda pembangunan kepada masyarakat setempat. Ternyata sarana komunikasi melalui bahasa lokal itu lebih efektif daripada bahasa Indonesia sebagai media yang sama untuk mengkomunikasikan program kerja pemerintah.Teridentifikasi bahwa masyarakat awam justru merasa sangat terpaksa mengambil bagian dalam sebuah pekerjaan.Penyebabnya adalah terjadinya distorsi makna dalam bahasa Indonesia yang dimanfaatkan untuk menjelaskan aktivitas yang akan dikerjakan.

    Sebaliknya, jika bahasa daerah yang digunakan maka masyarakat dengan aktif merespon aktivitas tersebut dengan penuh semangat dan diselesaikan tepat waktu. Contohnya pada tahun 90-an seorang misionaris Polandia, Pater Stanislaus Ograbek membuka jalan dari wilayah Beapela ke Nangaramut di Manggarai Selatan, Kecamatan Satar Mese. Walaupun tatabahasa Manggarai yang digunakannya kurang tepat tetapi efeknya justru pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu.

    Bahasa lokal adalah warisan leluhur sehingga perlu dijaga dan dilestarikan. Pelestarian bahasa lokal mengandaikan sikap penghormatan terhadap leluhur. Dengan demikian leluhur tetap menjaga dan memelihara penuturnya. Fakta memperlihatkan bahwa orang yang setia dan tekun menggunakan bahasa daerahnya pasti memiliki kepribadian yang kokoh dan sifat pemberani untuk menantang hal-hal buruk yang datang dari luar yang disebarkan melalui bahasa nasional dan bahasa Internasional.

    Misalnya orang tua di kampung yang tetap setia dan tekun berbahasa daerah, sulit sekali dipengaruh oleh hal-hal yang bertentangan dengan adat istiadatnya yang dikemas dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya,generasi muda yang jarang menggunakan bahasa daerah, cepat sekali berubah dan cenderung mengikuti kemajuan tanpa melalui proses filterisasi. Karena itu sebagian besar generasi muda terjebak dalam hal buruk sebagai akibat dari kemajuan itu, misalnya narkoba. Jika dikaji kelompok yang terjebak dalam masalah narkoba, mungkin salah satu faktor determinannya adalah mereka tidak biasa berbahasa daerah yang sesungguhnya adalah saran pembentukan kepribadian awal di dalam keluarga.

     

    Fakta lingual lain menujukkan bahwa orang tua yang tekun dan setia menggunakan bahasa daerah dengan baik dan benar sungguh memperlihatkan sikap sopan dan santun dalam bertutur dan dalam melakukan praktek berbudaya. Mereka memiliki kepribadian yang kokoh artinya tidak mudah dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, mereka selalu mempertimbangkan baik dan buruknya kemajuan itu.

     

    Berbeda dengan generasi muda yang jarang dan bahkan tidak pernah menggunakan bahasa daerah. Akibatnya, kelompok usia ini lebih mudah dipengaruhi oleh kemajuan teknologi tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya kemajuan itu.

               

    Penguasaan bahasa lokal secara baik dan benar berdampak pada penguatan kepribadian penuturnya.Biasanya kelompok penutur semacam itu sulit dipengaruhi oleh hal-hal buruk yang datang dari luar dirinya, misalnya pengaruh narkoba seperti yang telah dipaparkan terdulu.Disamping itu, kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan berbahasa daerah yang baik dan benar, biasanya bertutur dengan sangat sopan dan lagi pula mereka berperilaku dengan sangat sopan.Sebaliknya,kelompok masyarakat yang berkemampuan berbahasa daerah rendah seringkali menunjukkan sikap arogan dan menganggap bahasa daerah adalah kuno, bahasa yang melambangkan kekolotan.

    Mencermati isu-isu yang telah dipaparkan di atas, maka melalui tulisan ini diberikan aksentuasi penting berkaitan dengan bahasa lokal dalam pembangunan karakter bangsa, lebih khusus pembangunan karakter masyarakat penutur bahasa lokal. Betapa urgen eksistensi bahasa lokal dalam pembangunan bangsa, khususnya pembangunan karakter penuturnya. Kehadiran bahasa lokal itu, menjadi motivator dan inspirator dalam merancang pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).  

Berita Terkait