Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Bahasa Lokal di Flores Lembata

    2016-07-02 11:19:18
    Images

    Bahasa Lokal di Flores Lembata

    Dr. Rambut Kanisius, M.Hum.

    Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores;

    Ketua Asosiasi Peneliti Bahasa Lokal Flores

     

    Bahasa lokal atau bahasa daerah disebut juga sebagai bahasa minoritas (minority language). Dan, oleh karena itu, pada kenyataannya dipandang sebelah mata, terutama penutur generasi muda. Hal ini sangat mengusik pikiran dan perasaan generasi tua yang sangat gigih mewariskannya, sebab bahasa daerah bagi mereka adalah tidak sekadar ucapan satu orang kepada orang lain, namun ada yang lebih urgen, yakni soal  harkat dan martabat sebagai penutur bahasa minoritas itu.

    Untuk itulah bahasa-bahasa lokal di Flores–Lembata sebagaimana juga bahasa-bahasa lain di semesta ini mengemban seperangkat fungsi dan menjadi modal sosial masyarakat penuturnya. Selain itu, bahasa daerah berperan sebagai alat perekat masyarakat dan suku, sebagai alat pernyataan dirinya sendiri, sebagai simbol identitas suku-suku, sebagai alat ekspresi budaya, dan sebagai roh pembangunan, khusus pembangunan wisata budaya, serta sebagai alat komunikasi verbal dalam berinteraksi di antara masyarakat di dalam suku.

    Inyo (1996) menyebutkan bahwa di Flores–Lembata terdapat 9 bahasa daerah, antara lain bahasa Komodo, bahasa Manggarai, bahasa Rembong, bahasa Bajawa, bahasa Ende, bahasa Lio, bahasa Sikka, bahasa Lamaholot, dan bahasa Kedang. Secara kuantitatif, pada saat ini di Flores dan Lembata terdapat 11 bahasa lokal. Jumlah itu bertambah karena kehadiran 2 bahasa daerah baru berdasarkan temuan penelitian, yaitu bahasa Rongga (Arka, 2012), dan bahasa Nagekeo (Pita, 2012).

    Kesebelas bahasa lokal tersebut, misalnya, salah satu di antaranya adalah bahasa Rongga di Manggarai Timur. Berdasarkan penelitian Arka (2012) menunjukkan bahwa jumlah penutur bahasa Rongga saat ini adalah sekitar 1000 orang. Jumlah penutur ini mengindikasikan kepunahan bahasa tersebut. Ini tentu menerangkan bahwa bahasa daerah ini kondisinya mengkhawatirkan. Apakah betul-betul akan punah? Jawabannya bisa ya. Sebab salah satu sebab bahwa sebuah bahasa itu akan mati (genocide) apabila bahasa tersebut kehilangan penutur. UNESCO pernah mensinyalir bahwa akan ada 3000 bahasa lokal atau bahasa ibu (daerah) dari 6000 bahasa ibu di seluruh dunia akan terancam punah, dan 700 di antaranya berada di Indonesia yang tersebar di pelosok daerah. Lantas, apakah angka kepunahan tersebut akan terjadi juga pada bahasa-bahasa lokal di Flores dan Lembata?

    Terlepas dari faktor yang disebutkan di atas, pada umumnya jumlah penutur bahasa-bahasa lokal di Flores–Lembata cenderung berkurang karena beberapa faktor. Rambut (2015) mengungkapkan bahwa ada dua faktor, yaitu faktor dalam diri bahasa itu sendiri (intern), seperti ciri dan sifatnya yang dianggap kaku dan kolot oleh generasi muda, dan merupakan simbol kelampauan yang berkonotasi kuno atau kolot, dan bahasa daerah adalah bukan bahasa ilmu pengetahuan. Faktor yang datang dari luar (ekstern) adalah faktor yang memengaruhi penuturnya terutama generasi muda, yakni bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

    Kondisi kehidupan bahasa daerah kita sebagaimana yang disajikan di atas diibaratkan seperti sebatang pohon di tengah hutan rimba yang diimpiti oleh pohon-pohon besar yang akarnya merambah kuat dan jauh mengisap unsur-unsur hara atau gizi makanan di dalam tanah. Hal ini mengakibatkan pohon kecil itu bertumbuh dengan sangat kerdil bahkan bisa mati. Demikian pula halnya, nasib bahasa-bahasa daerah di Flores-Lembata, yang hidup dan berkembang di era globalisasi ini terhimpit dan terkikis oleh derasnya arus bahasa nasional dan internasional, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

    Bahasa Indonesia mengambil alih posisi bahsa-bahasa lokal di Flores dan Lembata dalam ranah-ranah pemakaian bahasa seperti: ranah pendidikan, ranah pertemuan resmi (rapat di kantor, seminar, dsb.), ranah pasar, kecuali ranah pasar tradisional, ranah pertemuan muda-mudi. Pada ranah tersebut nyaris bahasa-bahasa lokal tidak dipedulikan. Hal ini membuktikan bahwa betapa dipinggirkan bahasa daerah, betapa lemah dan tidak berdayanya bahasa daerah yang dibaptiskan sebagai bahasa ibu (mother tongue).

    Fenomena lingual-kultural mestinya memicu generasi tua, tua adat, orang tua, tokoh masyarakat unsur-unsur adat lainnya yang tengah dibayangi perasaan ketakutan kehilangan atau kematian sebuah budaya secara khusus bahasa daerah yang merupakan warisan leluhur yang ditandai dengan kepunahan bahasa lokal. Bisa jadi pula kelompok atau generasi tua akan menangis meratapi  kehilangan jati dirinya itu. Tangisan kelompok tua itu, mengekspresikan kepasraan, bahkan mungkin gambaran ketidakmampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang menimpah kehidupan bahasa daerah di Flores-Lembata. Di pihak lain, fenomena lingual-kultural tersebut dipandang sebagai masalah yang serius untuk ditelaah dalam rangka merumuskan alternatif model penyelesaian masalah kebahasaan bahasa-bahasa daerah di Flores-Lembata. Di lain sisi, kekhawatiran tersebut justru memberi semangat baru kepada pemerhati bahasa, pakar bahasa, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kehidupan bahasa-bahasa lokal dimaksud, sebagai upaya penggalian, penelitian, publikasi secara intensif demi pelestarian bahasa-bahasa daerah yang adalah jati diri dan identitas kita. *

     

    Opini telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor, Harian Umum Flores Pos Edisi 2 Juli 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor.

Berita Terkait