Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Bermain Drama: Audiovisualisasi Naskah Pentas

    2015-04-18 10:02:10
    Images

    Bermain Drama: Audiovisualisasi Naskah Pentas

     

    Oleh Dra. Maria Marieta Bali Larasati, M.Hum

    Pembantu Rektor II, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Universitas Flores, Hp 081236045995

     

    Naskah drama adalah kesatuan teks yang membuat kisah. Naskah drama dapat digolongkan menjadi dua, (1) part text, yakni naskah yang ditulis hanya sebagian saja, berupa garis besar cerita, biasanya diperuntukkan bagi pemain yang sudah mahir, (2) full text, yakni naskah yang ditulis komplit, meliputi dialog, monolog, karakter, iringan, dan sebagainya. Bagi pemain pemula, naskah jenis ini patut dijadikan pegangan.

    Sebelum pementasan drama diperlukan sebuah naskah drama yang menjadi sumber cerita yang harus ditafsirkan oleh sutradara, pemain, piñata pentas, dan penonton. Naskah drama ini berfungsi sebagai pemberi inspirasi kepada para penafsirnya. Naskah drama yang baik akan menjadi acuan tata pentas yang baik.

    Ada beberapa macam kategori naskah pentas. Pertama, naskah yasan, yakni  naskah drama yang sengaja diciptakan sejak awal oleh seseorang. Naskah semacam ini biasanya ditulis oleh seorang sutradara ataus spesialis penulis naskah. Kedua, naskah garapan, yakni naskah drama yang berasal dari olahan cerita prosa atau puisi yang digubah ke dalam bentuk drama. Naskah jenis ini sering digarap mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Uniflor selama lima tahun terakhir dalam mata kuliah Menulis Naskah Drama Pentas yang saya ampu. Ketiga, naskah terjemahan, yakni naskah yang berasal dari bahasa lain yang harus diadopsi dan diadaptasi.

    Naskah drama dibangun dari suatu struktur yang artistik. Struktur merupakan komponen utama sekaligus merupakan prinsip kesatuan lakuan (unity of action) dalam drama yang terdiri atas unsur-unsur yang disusun menjadi satu kerangka bangunan yang arsitektural.

    Unsur-unsur pembangun naskah drama adalah (1) tema, merupakan pokok persoalan, (2) tokoh, menyangkut cara pengungkapan, dimensi para tokoh, jenis tokoh, (3) alur, bersifat verbal dan gerak fisik, (4) latar, mencakup aspek ruang, waktu, dan suasana, (5) cakapan, berupa dialog dan monolog.

    Keunggulan sebuah naskah drama terletak pada konflik yang dibangun. Konflik menentukan penanjakan-penanjakan ke arah klimaks. Jawaban terhadap konflik akan melahirkan tegangan dan kejutan. Ini ditentukan oleh keterampilan penulis naskah.  Konflik dalam sebuah naskah merupakan salah satu strategi penulis naskah untuk menahan pendengar/penonton agar tetap bertahan menyaksikan pementasan sampai selesai. Konflik menimbulkan rasa ingin tahu para pendengar/penonton tentang bagaimana kisah itu selanjutnya terjadi.

    Bentuk dan susunan naskah drama berbeda dengan naskah cerpen atau novel. Naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penuturan ceritanya berupa dialog dan monolog para tokoh. Berdasarkan pembicaraan para tokoh itulah penonton dapat  memahami seluruh rangkaian ceritanya yang disusun dalam babak dan adegan.

    Babak  adalah bagian dari naskah yang merangkum semua peristiwa yang terjadi di satu tempat pada urutan waktu tertentu. Sedangkan adegan adalah bagian dari setiap babak. Sebuah adegan hanya menggambarkan suatu suasana yang merupakan rangkaian dari rentetan suasana-suasana yang terdapat dalam sebuah babak. Untuk menandai berakhirnya sebuah adegan biasanya terjadi penambahan atau pengurangan para pemain  di atas panggung, namun tidak mengubah setingnya.

    Sebuah naskah drama biasanya diawali dengan prolog, diakhiri dengan epilog. Prolog adalah pengantar dalam sebuah drama, biasanya berupa narasi yang menjelaskan tentang tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa. Prolog ini biasanya ditulis dengan huruf miring atau ditempatkan dalam tanda kurung. Epilog adalah kesimpulan yang mengakhiri pementasan, berupa nilai yang dapat dipetik dari seluruh rangkaian drama yang baru saja dipentaskan.

    Dalam naskah drama juga ada kalimat-kalimat yang berada dalam tanda kurung sebagai arahan bagi pemeran tokoh tersebut, apa dan bagaimana lakuan yang harus dilakukan para pemain drama.

    Naskah drama mempunyai hubungan yang mesra dengan sutradara, pemain, piñata pentas, dan penonton. Setelah mempelajari naskah drama, sutradara akan mengkoordinasikan segala persiapan pementasan, sejak awal latihan sampai dengan pementasan selesai. Semua yang telah dipersiapkan pemain dan piñata pentas harus sepengetahuan sutradara agar ada kesesuaian dengan kondisi naskah. Hubungan pemain dengan naskah drama adalah mengomunikasikan naskah drama kepada penonton.            

    Naskah drama menginspirasi pemain untuk berekspresi, menyesuaikan mimik dan gesture, dan mengatur nada suara. Semakin komunikatif para pemain, semakin sukses pementasan drama itu. Hubungan peñata pentas dengan naskah drama menyangkut perencanaan teknis, misalnya adegan kesekian dengan dekor apa, warna apa, properti apa, musik apa, efek suara apa, cahaya lampu bagaimana, busana dan tata rias bagaimana. Hubungan naskah drama dengan penonton dijembatani oleh sebuah pementasan. Jadi, hubungannya tidak secara langsung karena penonton hanya melihat apa yang terjadi di panggung yang merupakan perfoming art dari sebuah naskah drama.

    Semua produksi drama bertolak dari naskah sebagai prapementasan. Naskah drama berfungsi sebagai sarana pertama yang memungkinkan terjadinya proses pementasan di atas panggung. Jadi, pementasan drama merupakan konkretisasi naskah atau audiovisualisasi naskah pentas.

    (Flores Pos, Sabtu, 29 November 2014).

Berita Terkait