Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Bersyukur Menjadi Pendidik

    2015-04-14 08:48:14
    Images

    Bersyukur Menjadi Pendidik

     

    Oleh Natsir B. Kotten

    Pembantu Rektor 1, Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi,

    FKIP, Universitas Flores, Hp 085239454904

     

    Bersyukur menjadi pendidik karena pendidikan merupakan awal dari  ketaqwaan. Ungkapan religius ini identik dengan pesan moral Pater Leo Kleden, SVD (Provinsial SVD Ende) dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru bersama di  Auditorium Uniflor pada Sabtu, 11 Januari 2014, bahwa pendidikan adalah sebuah pelayanan. Pesan moral ini sejalan dengan filosofi pendidikan, bahwa pendidikan itu sebuah pilihan, dan pilihan itu sebuah kemenangan.

    Tanpa filosofi, pendidikan kita terkesan kering, tidak menarik. Dengan filosofi, para pendidik memiliki kekuatan pembeda dan pembeda itu abadi. Itulah sebuah kemenangan. Karena itu, pendidikan harus dikelola oleh seorang pemenang. GURU dan GURU BESAR-lah menjadi PEMENANG yang selalu mendorong sahabat-sahabatnya untuk lebih sukses. Untuk menjadi pemenang, tidak ada jalan lain, selain semangat untuk berubah.

    Sejenak kita menengok sejarah masa kelam, bahwa pendidikan kita seperti penjara, pendidikan kita telah kehilangan makna, yang ada hanyalah pemaksaaan. Pembelajaran di kelas, dimulai dengan membuka bab, mencatat, meringkas, dan pulang dengan setumpuk beban tugas. Jarang ada yang bertanya, hal apa yang menarik untuk dibahas hari ini? Yang ada hanya KAMU... KAMU... dan KAMU.

    Jika proses pembelajaran hanya dilandasi oleh keinginan para pendidik saja, maka akan cenderung kaku, mekanistik, dan tidak bermakna. Proses pembelajaran demikian tidak akan bisa menginternalisasikan nilai-nilai hakiki kehidupan, tidak akan mampu mengaktualisasikan potensi anak didik. Hasilnya adalah robot-robot yang hanya pandai secara akademik, tetapi bodoh secara emosional. Hanya sebagian kecil kecerdasan yang bisa dimunculkan dan dikembangkan, sedangkan sebagian besar lainnya akan mati.

    Jika cinta sejati menjadi landasan setiap pendidik dalam melakukan proses pembelajaran, maka potensi, minat, dan bakat pelajar dan mahasiswa akan muncul, tumbuh dan berkembang optimal. Tidak diragukan bahwa cinta yang tulus dapat mengembang-keluarkan (inside out) potensi-potensi yang dimiliki orang lain termasuk para pelajar dan mahasiswa. Dengan mencintai anak didik secara tulus, maka talenta anak didik itu tumbuh berkembang.

    Para pendidik bukan diktator, tugas pendidik sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator yang humanis dalam proses pembelajaran. Seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk pandai mengajar, mendeliver ilmu pengetahuan, tetapi juga dituntut untuk memiliki rasa cinta kepada anak didiknya. Idealnya seorang pendidik harus berperan seperti orang tuanya sendiri bagi para anak didiknya. Dengan demikian, relasi guru/dosen dengan pelajar/mahasiswa akan dilandasi oleh cinta sejati, tanpa pamrih. Relasi proses pembelajaran merupakan relasi yang harmonis layaknya orang tua dengan anak, sehingga kondisi lingkungan belajar pun akan menyenangkan.

    Dengan kata-kata, tindakan, dan perilaku guru/dosen, serta bahan-bahan ajar yang dirancang dengan dipenuhi oleh rasa cinta sejati, maka proses pembelajaran dengan sendirinya akan menjadikan setiap anak merasa diperhatikan, istimewa, dan memiliki percaya diri yang besar. Hasilnya, potensi anakpun akan terangsang meloncat keluar, menerobos belenggu-belenggu penghalang. Belenggu-belenggu penghalang sebagian besar justru disebabkan oleh orang dewasa termasuk orang tua dan guru/dosen serta masyarakat sekitar di mana anak-anak bertumbuh.

    Tradisi, pengetahuan, pengalaman, kebiasaan serta kepercayaan pendidik, adalah belenggu-belenggu bagi pertumbuhan-perkembangan potensi anak. Apalagi kalau para pendidik bersikeras membentuk masa depan anak didiknya hanya berdasarkaan keinginan sendiri, maka jangan berharap anak akan tumbuh sesuai dengan potensi yang sebenarnya. Yang akan muncul adalah karakter dan kepribadian sang pendidiknya. Anak didik tidak menjadi dirinya sendiri, melainkan tumbuh menjadi seperti keinginan sang pendidiknya.

    Salah satu cara untuk mengeliminasi hal tersebut, para pendidik harus melaksanakan proses pembelajaran dengan didasari oleh cinta yang tulus. Melibatkan hati nurani dalam setiap langkah proses pembelajaran. Sosok para pendidik masa depan bukan manusia yang mengumpulkan kekayaan duniawi, tetapi yang tengah bersuka cita dengan para pelajar/mahasiswa, pekerja keras, toleransi, arif dan bijaksana, ramah dan akrab, humanis dan bersahaja, dan menghormati akan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Para pendidik akan melihat wajah setiap anak didiknya dengan penuh cinta, rela dan tulus ikhlas membantu mengeluarkan setiap potensi yang dimiliki anak didiknya.

    Idealnya adalah sosok para pendidik yang mampu menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening dan menghilangkan dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.

    Profesi para pendidik adalah profesi yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridha dari Tuhan Pemilik Bumi. Falsafah hidupnya adalah ringan tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Hanya memberi tak harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S (salam, sapa, sopan, senyum, dan sabar) dalam kesehariannya. Bersyukurlah menjadi pendidik, karena pendidikan adalah awal dari ketaqwaan.

    (Flores Pos, Sabtu, 18 Januari 2014).     

Berita Terkait