Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Budaya Membaca Teks Ilmiah

    2017-09-11 13:06:15
    Images

    Budaya Membaca Teks Ilmiah

     

    Oleh Marianus Ola Kenoba

    Pengajar Sosiologi dan

    Sekretaris UPT Publikasi Universitas Flores

     

     

    Mengenang hari-hari pertama menjadi bagian dari civitas academica terasa begitu berat sebab iklim akademisnya sangat “asing” bagi seorang mahasiswa baru. Hampir semua dosen pengampu mata kuliah selalu merekomendasikan tugas pada mahasiswa dan “beban” yang cukup banyak menguras energi otak adalah membaca plus membuat review mulai dari materi opini koran selembar sampai ke mereview sebuah text book.

                Tindakan yang tidak bisa dihindari dalam merancang sebuah review adalah membaca teks yang akan direview. Tidak akan pernah tercipta sebuah review jikalau tidak memiliki teks utuh untuk direview. Lebih penting dari itu adalah menyangkut kultur (budaya) membaca. Pertanyaannya kemudian, sungguhkah “orang” kampus memiliki kultur membaca? Atau lebih serius lagi, apakah membaca sudah menjadi bagian dari habitus dunia akademis?

    Idealnya ayunan langkah bisa jauh lebih ringan lagi jikalau jawaban afirmatif atas dua pertanyaan di atas betul-betul sudah terlampaui. Namun sebaliknya, jika sulit memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut maka sudilah jangan putus harapan karena hampir tidak ada jawaban terlambat untuk membangun kultur membaca dan menjadikannya sebagai habitus.

    Prototipe menyangkut kultur membaca dapat mengacu pada pengalaman “saudara tua” kita di Asia” yakni orang Jepang. Kalau sempat menyaksikan, dimana-pun tempatnya ”saudara tua kita” orang-orang Jepang tidak pernah melewatkan peluang emas untuk membaca. Entah itu sedang berada di loby hotel, stasiun kereta api, terminal, halte, di pantai, dan tentunya di kampus. Membaca di tempat umum bukanlah dipandang sebagai kebiasaan yang buruk dan memalukan bagi orang-orang Jepang.

    Anehnya, justru di negeri kita Indonesia, membaca di tempat umum bisa saja menjadi bahan celaan banyak orang. Bahkan, cenderung dianggap aktivitas memalukan karena takut dikatakan bodoh. Lebih ironis lagi di kalangan mahasiswa Universitas Flores, ketika ada yang membaca di area kampus acapkali diledek dengan ungkapan ”seni-seni diri”, sok pintar, kutu buku dadakan, dan berbagai “cap” lainnya. Bahkan, Taufik Ismail pernah dengan nada gemas menggambarkan kondisi dan masyarakat kita, terutama para pelajar dan mahasiswa yang telah “rabun membaca dan mengarang”.

    Kalau faktanya demikian maka tidaklah salah jikalau survey-survey Badan Pendidikan dan Kebudayaan Dunia (UNESCO) menyimpulkan bahwa minat membaca untuk orang-orang Indonesia-tentunya termasuk “orang-orang” yang berkecimpung di dunia kampus tergolong sangat rendah. Bahkan kalah “telak” dibandingkan “saudara muda” kita orang Malaysia, Singapura, dan Thailand.

    Agenda favorit orang Indonesia untuk mengisi waktu luang bukanlah membaca melainkan belanja di supermarket, berdesakan-desakan di tempat hiburan, nongkrong di tempat-tempat umum, makan di restoran, mendengarkan musik rock, nonton televisi, dan aktivitas-aktivitas massal lainnya. Kondisi seperti ini memang cukup menyedihkan tetapi itulah sebagaian realitas yang tidak perlu disesali secara berlebihan melainkan mendorong kita untuk belajar dari kebiasaan ”saudara” tua maupun “saudara-saudara muda” di Asia”.  

    Membaca teks ilmiah itu, seolah-olah analog dengan tindakan menilai sesuatu berdasarkan indikator tertentu. Misalnya, ketika sedang menonton pertandingan sepak bola acapkali muncul ujaran spontan berikut, “team X bermain buruk, “team Y bermain sangat bagus”, dan “team Z bermain sangat taktis”. Bahkan disertai pula dengan prediksi-prediksi menarik atas pertandingan tim lainnya.       

                Demikian pula, ketika sedang membaca sebuah teks apapun, mestinya diikuti dengan tindakan spontan untuk menilainya sebagaimana contoh di atas. Namun, ada kendala serius yang sering dihadapi. Ketika menonton sepak bola, menonton sinetron, mendengar radio, mendengar gossip, bisik-bisik tetangga, nampaknya sangat mudah untuk bereaksi secara spontan. Sebaliknya, ketika dihadapkan pada sebuah teks ilmiah maka justru berubah menjadi beban berat untuk sekadar berkomentar, apalagi membuat penilaian kritis terhadap teks yang sedang dibaca.

    Ada jalinan logika buku yang membuat pembaca terkagum-kagum, terpukau, bahkan terbenam di dalamnya dan menjadi sulit untuk keluar dari keterpukauan atas pendaran aura teks yang sedang dibaca. Sementara itu logika bahasa buku teks tertentu, terutama teks-teks ilmiah terkadang menyulitkan untuk sekedar berimajinasi maupun membuat interpretasi kritis. Padahal salah satu indikator penting untuk menilai apakah seseorang paham atau tidak dengan logika sebuah teks terletak pada persoalan interpretasi itu sendiri. Dari pokok pikiran semacam ini, menjadi jelaslah bahwa aktivitas membaca teks ilmiah dan merancang sebuah review kritis adalah satu tindakan berpikir yang secara inheren berbeda dengan respek atas gossip, pertandingan sepak bola, sinetron, telenovela, maupun isu-isu lainnya.

    Membaca sebuah teks menuntut kerja pikiran ekstra. Apalagi kategori teks yang dibaca itu adalah teks ilmiah. Sebuah teks ilmiah memiliki jalinan logika yang sangat ketat sehingga menuntut pembacanya berkonsentrasi secara penuh. Apabila sedang dilanda masalah pelik maka akan lebih baik jikalau menunda dulu untuk membaca, apalagi membaca bacaan-bacaan yang serius dan “berat”. Jadi, bukan soal waktu yang “tampan” saja melainkan disposisi batinpun sangat berpengaruh pada daya serap seseorang atas pokok-pokok pikiran yang ditawarkan oleh penulis teks. *

     

Berita Terkait