Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Cinta Sayur Lodeh, Soekarno dan Hartini

    2016-06-03 08:04:03
    Images

    Cinta Sayur Lodeh: Soekarno dan Hartini

    Samingan

    DosenPendidikan Sejarah Universitas Flores

    Hp: 085643588418

     

    Menarasikan kembali jalinan kasih Soekarno dengan para istrinya, tentu kurang lengkap jika tak mengenal sosok Hartini. Hartini adalah sosok perempuan yang setia menemami Soekarno dan menjadi istri keempat Soekarno. Hartini lahir di Ponorogo tanggal 20 September 1924. Pendidikan Hartini diawali di Sekolah Dasar Holland scheIndische School (HIS) di Malang. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Bandung karena diangkat anak oleh Usman sahabat ayahnya. Setelah tamat di HIS Hartini melanjutkan ke Meer Uitgrebeid Longer Onderwijs (MULO) hingga Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Hartini berhenti di kelas II SMT karena menikah dengan Suwondo tahun 1942.

    Hartini sering dilukiskan sebagai sosok perempuan cantik Jawa tulen. Kepribadiannya lemah lembut, tutur bahasanya halus, dan sikap sopan yang ditunjukkan melalui bahasa ngoko dan krama. Dalam berpakaian sungguh anggun dan mempesona ketika jarik cokelat motif batik tulis, baju kebaya ditambah selendang tenunan menghiasi tubuhnya.

    Kecantikan, kelembutan budi pekertinya membuat Suwondo mempersuntingnya dan setelah menikah Hartini diboyong ke Salatiga. Pernikahan dengan Suwondo berujung pada perceraian ketika Hartini berusia 28 tahun. Setelah bercerai, Hartini harus bekerja keras seorang diri untuk menghidupi kelima anaknya.

    Pertemuan Hartini dengan Soekarno boleh dikatakan unik, romantis, dan dramatik. Jalinan cinta diawali kunjungan Presiden Soekarno ke Solo, Jawa Tengah dan Yogyakarta tahun 1954. Sebelum kunjungan ke Yogyakarta, Soekarno dijadwalkan mengunjungi Salatiga. Untuk menjamu Presiden, Hartini mendapat tugas memasak sayur lodeh. Hartini bekerja bersama ibu-ibu lain untuk menyiapkan menu santap siang. Anehnya, Soekarno justru tertarik pada hidangan sayur lodeh. Soekarno segera mencicipi sayur lodeh tersebut. Tiba-tiba Soekarno memanggil Sang Walikota dan bertanya “Siapa yang memasak sayur lodeh yang enak ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepadanya”.

    Setelah sesi santapan siang, Hartini didaulat oleh ibu-ibu untuk menghadap Soekarno dan menerima ucapan terima kasih. Berawal dari jabat tangan, tatapan mata lantas turun ke hati. Ketika berjabat tangan Hartini merasakan suasana yang begitu hangat. Sementara, Soekarno seperti terhipnotis pesona kecantikan dan kelebihan Hartini. Sambil berjabat tangan Soekarno bertanya “Rumahnya di mana? Anaknya berapa? Suami?”

    Setelah pertemuan tersebut, Soekarno terbayang terus pesona Hartini. Soekarno merasakan sebuah getaran aneh dan tak biasa. Senyum manis dan paras cantik Hartini selalu terbayang di pikiran dan hati Soekarno setiap saat. Suatu hari Soekarno terbangun dari lamunannya dan menulis di secarik kertas “Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir”. Kata-kata mematikan diucapkan lewat surat ini membuat hati Hartini gelisah. Terlebih isi surat merayu dan mendayu membuat Hartini berbunga-bunga bercampur was-was.

    Pertemuan kedua terjadi empat bulan setelah pertemuan pertama. Pertemuan kedua sudah diatur, yakni pada acara peresmian teater terbuka Ramayana di Candi Prambanan, Jawa Tengah. Seminggu kemudian datang surat Soekarno untuk Hartini dengan nama samaran Srihana. Untuk menyebut Hartini, Soekarno menggunakan samaran Srihani. Soekarno sengaja menggunakan nama samaran supaya pihak istana tidak mengetahui jalinan hubungannya dengan Hartini.

    Surat-surat yang ditunjukkan kepada Hartini terus mengalir melalui kata-kata indah nan romantis. Perlahan-lahan hati Hartini semakin luluh. Di sisi lain, Hartini tidak ingin dianggap perusak rumah tangga presiden. Namun, Soekarno sudah terlanjur cinta dan bukan Soekarno jika harus menyerah untuk mendapatkan cinta Hartini. Akhirnya, jalinan kisah cintanya berujung pada sebuah moment peminangan. Menanggapi pinangan Soekarno, Hartini belum bisa memutuskan secara cepat, sebab perlu mendapatkan pertimbangan dari kedua orang tuanya. Selain itu juga, Hartini tahu betul Soekarno masih memiliki Fatmawati sebagai first lady

    Hartini masih ragu akan statusnya ke depan jika menikah dengan Soekarno. Walaupun begitu Soekarno sekuat tenaga membangun keyakinan dan cintanya kepada Hartini“Tien I can’t work without you”. Meski kamu istri kedua, kamu tetap istri saya yang sah. Biarpun kamu tidak tinggal di Istana Negara, kamu tetap menjadi ratu. Kamu akan menjadi ratu yang tidak bermahkota di Istana Bogor”.

    Sesudah menjalani hubungan selama satu tahun, Hartini memutuskan menerima pinangan Soekarno dengan syarat “Ibu Fatmawati tetap menjadi first lady, saya istri kedua.  Saya tidak mau Ibu Fatmawati diceraikan, karena kami sama-samawanita”.

    Soekarno dan Hartini berencana segera menikah. Namun, Soekarno perlu minta izin dahulu pada Fatmawati. Besar cinta Fatmawati kepada Soekarno sehingga mengizinkan suaminya menikah lagi. Soekarno dan Hartini menikah di Istana Cipanas 7 Juli 1953. Keberadaan Hartini di sisi Soekarno benar-benar memegang peranan penting. Hartini sering menemani Soekarno bertemu dengan tamu-tamu kenegaraan, seperti Ho Chi Minh, Norodom Sihanouk, Akihito dan Michiko. Lebih dari itu, Hartini menunjukkan rasa cinta, kesetiaan, serta pengabdiannya yang begitu tulus sampai Soekarno tutup usia.*

Berita Terkait