Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Dampak Teknologi Informasi bagi Kaum Remaja

    2015-04-18 09:22:06
    Images

    Dampak Perkembangan Teknologi

    Informasi bagi Kaum Remaja

     

    Yulita Londa, S.E, M.Si, Akt.

    Kepala UPT Pengabdian Masyarakat, dosen Program Studi Akuntansi,

    Fakultas Ekonomi, Universitas Flores, Hp 081339476156

     

    Perkembangan pengetahuan dan kemampuan analisis manusia dalam berbagai aspek kehidupan semakin hari semakin tinggi. Manusia selalu berupaya mencari sesuatu yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan dukungan pengetahuan yang dimiliki, manusia mampu menciptakan berbagai jenis teknologi, termasuk teknologi informasi. Teknologi infomasi merupakan daya kreasi dan inovasi manusia untuk menghasilkan, menyimpan, mengelola, dan mengomunikasikan informasi kepada berbagai pihak yang dituju.

    Kecepatan arus informasi yang membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Makin canggih perangkat teknologi tersebut, makin besar pula arus informasi yang dapat dialirkan dengan jangkauan luas dan berdampak global. Oleh karena itu, dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain.

    Perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat saat ini telah membawa manfaat yang penting bagi kemajuan kehidupan manusia. Namun, ada pula dampak negatif yang ditimbulkan dari perkembangan teknologi informasi komunikasi tersebut. Misalnya, pengaruh terhadap perkembangan terhadap kehidupan kaum remaja.

    Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, bisa saja melalui jalan yang benar atau jalan yang salah. Apabila remaja gagal dalam mengembangkan kepribadiannya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang tidak ada kompas, dan itu akan berdampak buruk  terhadap remaja itu dan masa depannya. Itulah sebabnya mengapa masa remaja adalah masa yang paling rawan terhadap pengaruh dari luar, termasuk pengaruh buruk teknologi irformasi.

    Berawal dari kebutuhan dan gaya hidup remaja yang semakin modern maka dibuat fitur-fitur bernuansa gaya hidup modern kaum remaja tersebut antara lain, catting, BBM, dan lain-lain. Ponsel dan internet memang hanya produk dari teknologi informasi untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan sesama dan dapat digunakan untuk mencari referensi bacaan dengan mudah, berkomunikasi dengan orang lain dengan fasilitas e-mail, chat, dan sebagainya. Tetapi, bukan berarti kemudian kita melepaskan ikatan aturan sehingga menggunakan dan memanfaatkan ponsel serta internet untuk tujuan yang justru dilarang.

    Adapun dampak negatif yang timbul dari perkembangan teknologi ini, misalnya munculnya para penipu yang memanfaatkan ponsel dan internet. Adanya budaya plagiarism, yaitu informasi dicetak ulang tanpa izin dari pemberi informasi atau tanpa menulis sumbernya. Munculnya pencurian dengan mengambil atau meng-hack data orang lain, serta pergaulan bebas di kalangan remaja akibat sering mengakses video porno.

    Perilaku menyimpang ini membuat masa depan remaja semakin suram, dan hal ini tentunya sangat tidak diinginkan oleh berbagai pihak. Untuk itulah pengawasan dari orang tua untuk mengenalkan dan mengajarkan anaknya sejak awal sebelum menerima informasi dari orang lain. Karena dengan belajar, ada beberapa aspek yang dapat diraih, yaitu aspek kognitif (ilmu pengetahuan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu), aspek afektif (perasaan atau emosi yang tadinya tidak mau menjadi mau), aspek psikomotorik (keterampilan yang tadinya tidak bisa menjadi bisa). Apalagi jika pengenalan dan pembelajaran dari orang tuanya membuat mereka nyaman dan percaya diri.

    Orang tua perlu mengetahui bahwa masa remaja ialah masa peralihan dari alam kanak-kanak menuju ke alam dewasa. Pada masa ini anak-anak tidak lagi dianggap kanak-kanak dan tidak juga orang dewasa. Upaya yang bisa dilakukan oleh remaja adalah: para remaja harus menjaga diri dan kehormatannya, khususnya dalam menjaga ekspresi verbal (bahasa lisan) di internet ataupun ponsel.

    Kemudian orang tua juga mendampingi dan mengarahkan anaknya jika sudah menerima terlebih dahulu informasi tentang internet dari orang lain. Meski demikian, para orang tua sebaiknya tidak putus asa mendampingi kehidupan mereka. Bahkan, bukan tidak mungkin jika akhirnya mereka lebih mempercayai orang tuanya yang aktif mendampingi mereka dengan kasih sayang yang tulus daripada orang lain yang hanya menunjukkan dan menyampaikan dalam bentuk wacana daripada membimbing dan mengarahkan sebagaimana dipraktikkan oleh orang tua mereka serta saling bertukar informasi (sharing) antara orang tua dan anak dan terlibat bersama dalam memanfaatkan internet.

    Misalnya memiliki e-mail, website keluarga, serta saluran chatting sendiri yang  sangat diperlukan. Terutama jika orang tua dan anak terpisah oleh jarak yang jauh, misalnya sang anak sekolah di luar kota. Ada baiknya menyediakan waktu luang yang khusus untuk berkomunikasi dengan anak dan mungkin saja harus siap menerima curhat dari mereka. Dengan demikian, remaja menjadikan internet dan ponsel sebagai kebutuhan sekunder dan bisa memberikan batasan dan kerangka berpikir kepada remaja bahwa internet dan ponsel bukanlah segalanya. Kedekatan dengan orang tua dan teman yang baik di dunia nyata, akan memberikan penguatan lebih bagus bagi perkembangan kepribadian remaja selanjutnya.

    (Flores Pos, Sabtu, 11 Oktober 2014).

     

     

Berita Terkait