Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Dua Mahasiswa PBSI Raih Juara Pemilihan Duta Pangan Lokal Kabupaten Ende

    2016-07-14 09:54:45
    Images

    Karolina Bhoki Lede, mahasiswi semester VIII, dan Yohana Eka, mahasiswi semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Flores meraih juara II dan III dalam ajang Pemilihan Duta Pangan Lokal Kabupaten Ende. Malam grand final berlangsung 30 Juni 2016, di Aula RRI Ende. Suara Uniflor berkesempatan menjumpai Yohana Eka usai lomba.

    Informasi tentang Pemilihan Duta Pangan Lokal Kabupaten Ende diperoleh Yohana Eka dari Sr. Wilda (Imelda Olivia Wissang, M.Pd., Ketua Prodi PBSI). Mahasiswi yang sehari-harinya akrab disapa Eka ini mengaku tertarik mengikuti ajang ini karena ada dorongan untuk mencoba bidang lain di luar minatnya mempelajari dunia bahasa dan sastra Indonesia. Lewat tulisan berjudul “Ubi Nuabosi Menggugah Selera”, Eka berhasil melewati tahap pertama penjurian.

    “Tulisan saya mempromosikan Ubi Nuabosi. Cita rasanya beda dari ubi daerah lain.” Mahasiswi kelahiran Maukaro ini ingin mengajak masyarakat luas untuk tidak menjadikan beras sebagai satu-satunya sumber makanan pokok, tetapi juga mengonsumsi olahan bahan pangan lokal, seperti ubi sebagai alternatif pengganti.

    Tahap penjurian berikutnya adalah tes tertulis dan wawancara. Materi tes tertulis meliputi pengetahuan umum dan pengetahuan khusus tentang bahan pangan lokal non beras yang saat ini sedang popular dan mulai langka. Ketika mempersiapkan diri untuk mengikuti tes tertulis dan wawancara, dirinya kembali mempelajari jenis dan karakter olahan bahan pangan lokal yang sudah jarang dikenal. Ia bertanya kepada orang tua dan mencari referensi dari bahan bacaan cetak dan internet. “Uwi ndota dan alu ndene, makanan tradisional kita, saya pelajari lagi.” ujarnya.

    Bersama dua belas peserta lainnya, ia menyampaikan rencana kerja, yaitu sosialisasi bahan pangan lokal kepada lingkungan di sekitarnya. Strategi untuk melakukan sosialisasi, dirinya mengaku akan menerapkan ilmu bahasa yang telah digelutinya selama ini, selain menyesuaikan diri dengan latar belakang orang-orang di sekitarnya. “Kalau misalnya omong dengan petani, kita pakai bahasa yang akrab dengan mereka. Beda lagi kalau omong dengan mahasiswa.” Lanjutnya.

    Acara grand final yang disiarkan langsung oleh RRI Ende, Eka kembali mengampanyekan program kerjanya dengan durasi dua menit. Ia menjawab tiga pertanyaan yang diajukan dewan juri. Penampilannya sebagai finalis pada grand final ditutup dengan ajakan kepada masyarakat luas untuk memanfaatkan sekaligus melestarikan bahan pangan lokal Ende. Motivasi Eka mengikuti ajang ini adalah ingin memanfaatkan peluang untuk mengembangkan dirinya. “Jangan berpatokan pada program studi saja, kalau ada peluang lain mahasiswa harus pintar memanfaatkannya.” Demikian Eka yang bercita-cita menjadi guru yang profesional dengan motto. “tegas dalam prinsip, enjoy tapi disiplin.” (eka).

Berita Terkait