Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Fenomena Tanah Longsor

    2015-05-02 10:15:52

    Fenomena Tanah Longsor

     

    Oleh Veronika Miana Radja, S.T, M.T.

    Dosen Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,  

    Universitas Flores, Hp 085257559801

     

    Tanah longsor merupakan perpindahan massa tanah yang terjadi dalam waktu singkat dan dalam volume besar (Arsyad, 2000). Fenomena alam ini menjadi bencana alam manakala tanah longsor tersebut menimbulkan korban jiwa, harta benda, infrastruktur, dan hasil budaya yang lain.

    Bencara longsor yang terjadi pada jalur Trans-Flores, tepatnya di Km 16 Desa Tomberabu-1, Kabupaten Ende, antara lain disebabkan (1) Proses erosi atau penggerusan oleh aliran sungai pada bagian kaki lereng, (2) Lereng yang tersusun oleh batuan yang terkekarkan (retak-retak) secara intensif mengakibatkan lereng terganggu kestabilannya  sehingga terjadi jatuhan atau luncuran bebatuan apabila air meresap dalam retakan saat hujan atau apabila terjadi getaran pada lereng, (3) Pemotongan lereng untuk jalan tanpa memperhatikan struktur perlapisan tanah/batuan pada lereng dan tanpa perhitungan analisis kestabilan lereng, (4) Sistem drainase tidak memadai, (5) Getaran yang diakibatkan gempa bumi dan lalulintas kendaraan beban berat menyebabkan tanah badan jalan menjadi retak.

    Gerakan tanah yang disebabkan keruntuhan tarik diikuti dengan tipe gerakan jatuh bebas akibat gravitasi. Pada tipe runtuhan ini massa tanah atau bebatuan lepas dari suatu lereng atau tebing curam tanpa terjadi pergeseran (tanpa bidang longsoran) kemudian meluncur bebas, loncat atau menggelundung. Runtuhan batuan juga dapat terjadi karena adanya perbedaan pelapukan, tekanan hidrostatis akibat masuknya air ke dalam retakan, serta perlemahan akibat struktur geologi (antara lain kekar, sesar, perlapisan). 

    Untuk mencegah gerakan tanah perlu pengaturan dan pengarahan terhadap kegiatan yang dilakukan, dengan prioritas utama menciptakan keseimbangan ekologis lingkungan, antara lain dengan perlindungan sistem hidrologi kawasan. Upaya ini bertujuan untuk menghindari terjadinya resapan air hujan yang masuk dan terkumpul pada lereng yang rawan longsor. Jika telah muncul retakan-retakan tanah berbentuk lengkung agak memanjang (berbentuk tapal kuda), maka retakan tersebut harus segera disumbat dengan material kedap air untuk menghindari air permukaan (air hujan) lebih banyak meresap ke dalam lereng melalui retakan tersebut.        

    Munculnya retakan menunjukkan bahwa tanah pada lereng sudah mulai bergerak karena terdorong oleh peningkatan tekanan air di dalam pori-pori tanah pada lereng. Dengan disumbatnya retakan maka peningkatan tekanan air di dalam pori-pori tanah dapat diminimalkan. Cara lain adalah dengan penanaman kembali lereng yang gundul dengan jenis tanaman yang dapat mengendalikan laju air yang mengalir.

    Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan lereng perbukitan untuk pembangunan jalan adalah (a) Tidak mengganggu kestabilan lereng dan lingkungan, (b) Perlu dilakukan penyelidikan geologi teknik, analisis kestabilan lereng, dan daya dukung tanah sehingga upaya antisipasi resiko dalam pemanfaatan ruang pada kawasan tersebut dapat dilakukan, (c) Perlu diterapkan sistem drainase yang tepat pada lereng untuk meminimalkan penjenuhan pada lereng yang berfungsi untuk menguras atau mengalirkan air hujan yang meresap masuk ke lereng, (d) Perlu diterapkan sistem perkuatan lereng untuk menambah gaya penahan gerakan tanah pada lereng.

    Perkuatan kestabilan lereng menggunakan salah satu atau kombinasi dari konstruksi tembok/dinding penahan, angkur, paku batuan (rock bolt), tiang pancang, jaring kawat penahan jatuhan batuan, shotcrete, dan bronjong. Perkuatan tersebut harus dipancangkan hingga menembus batuan/tanah yang stabil. Hal ini berarti harus dilakukan penyelidikan lereng terlebih dahulu untuk mengetahui kedalaman bidang gelincir.

    Pembuatan saluran drainase permukaan dan bawah permukaan tetap diperlukan, meskipun lereng telah diberi tembok penahan. Pemasangan peralatan akan menjadi kurang efektif apabila drainase atau tata air pada permukaan dan di dalam lereng, tidak dapat terkontrol. Tanpa sistem drainase yang tepat, upaya penanggulangan yang dilakukan identik dengan melawan alam, yang pada umumnya hanya bertahan sesaat dan kurang efektif untuk pengamanan jangka panjang.

    Upaya lain mengurangi tanah longsor adalah (a) Meminimalkan pembebanan pada lereng melalui penetapan jenis kendaraan yang melewati jalan tersebut, penetapan batas beban yang dapat diterapkan dengan menyelidiki struktur tanah/batuan pada lereng, sifat-sifat keteknikan, serta melakukan analisis kestabilan lereng dan daya dukung, (b)Memperkecil kemiringan lereng, untuk meminimalkan pengaruh gaya-gaya penggerak dan sekaligus meningkatkan pengaruh gaya penahan gerakan pada lereng, (c) Transportasi direncanakan dengan mengikuti pola kontur lereng, (d) Mengupas material gembur (yang tidak stabil) pada lereng agar dapat memperkecil beban pada lereng, yang berarti meminimalkan besarnya gaya penggerak pada lereng, (e) Mengosongkan lereng dari kegiatan manusia apabila longsoran kecil telah muncul, terutama pada saat hujan tidak lebat tetapi berlangsung terus-menerus, (f) Penanaman vegetasi dengan jenis dan pola tanam yang tepat.

    Kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi dan mengalami penggundulan hutan, dapat ditanami kembali dengan jenis tanaman budidaya yang bermanfaat bagi masyarakat. Adapun jenis tanaman untuk dapat menguatkan tanah pada lereng adalah pohon kemiri, johar, mahoni, jati, kesambi, asam, dan lain-lain yang berakar tunggang.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Sabtu, 25 April 2015).

     

     

Berita Terkait