Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Filosofi Taman Pendidikan

    2017-03-07 12:56:29

    Filosofi Taman Pendidikan

    Nikolaus Tari

    Ketua BEM FKIP,

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika

    Hp. 081236975981

     

    Pendidikan adalah proses humanisasi yang mengacu pada perubahan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan demikian, orientasi dasar dari proses pendidikan adalah demi bonnum commune. Kemudian, sekolah sebagai institusi formal merupakan instrument yang memungkinkan ketercapaian sasaran pendidikan dimaksud.

    Melalui sekolah, para peserta didik belajar beragam pengetahuan. Belajar mengandaikan perubahan yang bercorak positif sehingga bermuara pada penguasaan keterampilan, kecapan, dan pengetahuan baru. Sementara itu, hasil dari proses belajar terpantul dari prestasi belajar. Namun, untuk meraih prestasi belajar yang optimal dibutuhkan proses belajar dengan dukungan dari berbagai elemen terutama para pendidik, orang tua, lingkungan, dan lembaga pendidikan itu sendiri.

    Tokoh pejuang pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara telah memperkenalkan filosofi berikut:“ing ngarso  sung tulodo, ing madya mangun karso tut wuri handayani” (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Konteks “di depan memberi contoh” maksudnya bahwa subyek yang berpengetahuan menjadi contoh dan pengetahuan yang dimiliki itu wajib “ditularkan” kepada orang yang sedang membutuhkan pengetahuan. Selanjutnya, ”di tengah memberi semangat” maksudnya bahwa orang yang sedang membutuhkan pengetahuan menyumbangkan energi positif untuk mendorong perubahan. Kemudian, “di belakang memberi dorongan” maksudnya bahwa sebagai orang tua, sudah sewajarnya mendukung anak-anak agar mampu menempuh pendidikan yang relevan dengan bakat dan minatnya.

    Ki Hadjar Dewantara adalah wartawan di zaman kolonial sehingga tidak berlebihan jika coretan-coretan kritisnya di media kolonial mampu mengusik kemapanan penjajah. Pil “pahit” dari  “buah penanya” yang sangat tajam telah menghantarnya ke pengasingan di Belanda. Tempat pengasingan baginya manjadi  moment penempaan diri untuk belajar.

    Ketika kembali ke Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, Budi Utomo,  dan para pahlawan pendidikan lainnya menggugat sistem pendidikan di negeri ini dengan konsep dan karakteristik keindonesiaan. Sekolah sebagai taman adalah konsep dasar pendidikan model Dewantara dan kawan-kawannya.

    Sebuah taman dapat divisualisasikan sebagai tempat yang rindang, asri, indah, sejuk, menyenangkan, teduh, nyaman bagi para pengunjung. Ketika mengujungi taman, muncul suasana kegembiraan yang meluap-luap. Bahkan saat meninggalkan taman, selalu ada rindu untuk tetap tinggal dan senantiasa terkenang dan terpanggil untuk datang lagi menikmati keindahan taman. Itulah suasana pendidikan yang diidamkan Dewantara dan kawan-kawannya.

    Bila mengacu pada konsep dasar Dewantara dan kawan-kawan, sekolah adalah tempat yang menyenangkan, gembira, nyaman dan aman. Idealnya, ketika memasuki lembaga pendidikan, saat itulah dimulainya suasana kegembiraan bagi peserta didik layaknya masuk ke sebuah taman. Lalu tiba waktunya pulang, kadang kita tidak mau pulang karena kita tidak menginginkan moment kesenangan itu berlalu.

    Ki Hadjar memandang bahwa seharusnya pendidikan merupakan media kebudayaan yang terpola dan harus memerdekakan manusia selaku subyek didik sesuai dengan kodratnya. Menurut Ki  Hadjar, peran pendidik hanyalah sebagai fasilitator bukannya menempa peserta didik sebagaimana yang mereka inginkan.

    Bagi Ki Hadjar, peserta didik adalah pribadi unik yang masing-masing memiliki bakat dan minatnya. Jadi, tidak seharusnya pendidik memaksakan para peserta didik mengikuti budaya yang diwariskan ataupun mengikuti ajaran-ajaran yang telah mapan.

    Menurut Indra Tranggono, Ki Hadjar mengidealkan sistem pendidikan yang trasformatif, bukan pendidikan yang cenderung menekankan pada sosialisasi. Pendidikan transformatif  bertujuan untuk menstimulasi perubahan jiwa anak dari kondisi tidak merdeka menjadi merdeka, dari kondisi tidak mandiri menjadi mandiri, dari kondisi tidak kreatif menjadi kreatif, dan dari kondisi kurang beradab menjadi beradab. Sebaliknya, pendidikan yang berorientasi sosialisasi cenderung mendroktrin peserta didik menjadi sekedar makluk penghafal pengetahuan atau robot yang patuh. Di dalamnya tidak berlangsung internalisasi pengetahuan dan pengalaman menjadi nilai. Salah satu kritik atas kegalalan pendidikan kita adalah dominannya praktik indoktrinasi daripada transformasi.

    Pertanyaan yang relevan, apakah lembaga pendidikan kita telah mengadopsi filosofi pendidikan taman bagi peserta didiknya? Apakah peserta didik merasa senang dan gembira berada dalam kelas dan selalu merindukan untuk datang ke lembaga pendidikan? Ataukah mereka datang hanya karena takut tidak dapat nilai atau dihukum karena alpa atau mengisi daftar hadir lalu pulang?. Apakah lembaga pendidikan adalah tempat yang nyaman, indah dan menyenangkan serta nyaman untuk berdiskusi dan mendengar materi. Ataukah malah lembaga pendidikan  masih seperti “neraka” karena peserta didik  bertemu dengan parapendidik yang galak, senyuman mahal, ruangan kelas yang pengap yang dapat mematikan kreativitas anak didiknya?

    Amanat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa kita mengusir penjajah dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, bahwa memperoleh pendidikan yang layak adalah hak dasar manusia Indonesia. Namun, bila berkaca pada realitas yang tampak sungguh ironis. Perlukah kita bertanya kepada rumput yang bergoyang karena tidak ada yang mendengarnya lagi?

Berita Terkait