Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Giat Bersastra sebagai Revolusi Mental

    2015-04-18 10:13:22
    Images

    Giat  Bersastra sebagai Revolusi Mental

     

    Oleh Rosa Dalima Bunga, S.Pd, M.Pd

        Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

         Universitas Flores, Hp 085239333356

     

    Pengamat dan kritikus sastra Indonesia modern, Jakob Sumardjo (1988), menggambarkan karya sastra sebagai ungkapan pengalaman, pikiran, perasaan, semangat, pandangan, keyakinan yang membangkitkan pesona melalui alat bahasa.

    Seorang penyair legendaris dunia dari Venosa Italia, Horatius (65-8 SM) dalam karyanya  Ars Poetica menyatakan, karya sastra berfungsi utama sebagai utile et  dulce, yakni bermanfaat dan menyenangkan bagi kehidupan manusia. Sebagai kreativitas, pengarang mengekspresi dan mengkreasikan imajinasi dan pengalaman hidupnya menjadi sebuah karya sastra yang memiliki keindahan dan bermanfaat bagi orang lain.  

    Peristiwa atau fenomena yang menjadi bahan karya sastra adalah hasil imajinasi dan fenomena yang terjadi pada diri seorang pengarang, pada orang lain, pada masyarakat yang dapat menjadi masalah kemanusiaan, sosial, ekonomi, pendidikan, hukum,  politik, dan sebagainya yang diangkat menjadi karya sastra.

    Bentuk karya sastra itu, antara lain berupa puisi, prosa atau drama yang berisi isyarat, wawasan, nilai, pedoman, pegangan hidup hingga kebenaran yang berguna sebagai pijakan bagi manusia untuk menjalani kehidupannya dalam suatu komunitas sosial. Dalam konteks ini, karya sastra diciptakan tidak hanya sebagai hasil imajinasi atau bentuk ekspresi jiwa pengarang, tetapi juga sebagai alat perjuangan sosial, menyuarakan aspirasi dan nasib orang lain yang perlu diperjuangkan.  

    Salah satu bentuk karya satra adalah puisi. Selain mengungkapkan keindahan, puisi mampu mengungkapkan kritik terhadap kehidupan sosial masyarakat, misalnya mengangkat masalah kemiskinan, keterbelakangan, korupsi, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan lain-lain.  

    Ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat, menjadi “bertuba” lewat suara  penyair. Sebut saja misalnya, penyair Taufiq Ismail lewat puisinya “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” atau penyair Rendra lewat puisinya “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta.” Puisi-puisi ini bernas, berisi kritik sosial yang tajam terhadap kemunafikan manusia Indonesia yang terus saja terjadi dalam lingkungan birokrasi dan lembaga politik di negeri ini sampai dengan saat ini.

    Dalam konteks mengangkat realitas sosial kemasyarakatan NTT pada saat ini yang ditemukan dalam beragam puisi karya para penyair NTT (sastrawan NTT), secara pribadi saya merasa bangga dan memberikan apresiasi mendalam terhadap semaraknya kegiatan bersastra di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Uniflor dalam beberapa tahun terakhir ini. Sejak tahun 2010 mahasiswa Prodi PBSI Uniflor secara intens melakukan berbagai kegiatan bersastra, seperti diskusi sastra, bedah buku puisi/novel, pementasan drama cerita rakyat, lomba penulisan puisi dan penulisan cerita pendek.

    Kegiatan bedah dan diskusi puisi dan novel yang berlangsung beberapa tahun terakhir ini secara khusus mengangkat kekuatan lokal NTT dalam bidang sastra, yang merupakan hasil “pelacakan” sastra dan sastrawan NTT yang dilakukan oleh Yohanes Sehandi. Dalam karya-karya sastra NTT yang ada ditemukan sejumlah karakter lokal masyarakat NTT yang kekuatan dan keunggulan sebagai sumbangan bernilai untuk pembentukan karakter bangsa. Sebuah kerja keras yang kreatif dengan kemauan yang tulus menjadikan kegiatan bersastra NTT sebagai ruang belajar menata hidup yang bernas untuk hari depan yang lebih baik. Menurut saya, kegiatan kreatif seperti ini merupakan  salah satu bentuk “revolusi mental” bagi kalangan mahasiswa kita di NTT.

    Menghargai kekuatan dan keunggulan budaya lokal Flores khususnya dan NTT umumnya, akan tertanam dengan sendirinya lewat kegiatan kreatif bersastra ini. Sastra mempunyai kontribusi dalam pembentukan karakter generasi muda bangsa. Paling kurang mahasiswa sebagai generasi muda diajak untuk berani merevolusi mental dirinya, berani mengambil langkah baru sebagai terobosan ketika komitmen awal sebagai agen perubahan sudah mulai luntur oleh berbagai pengaruh globalisme dan gaya hidup modern.

    Kegiatan bersastra bagi saya merupakan kegiatan yang terus “menjadi.” Bagus sekali kalau kegiatan bersastra ini agar menjadi efektif dan produktif dapat disatukan dalam wadah yang lebih mengangkar, seperti komunitas sastra atau komunitas teater atau sanggar sastra sebagai tempat mahasiswa mengekspresikan kemampuan dan kepeduliannya terhadap realitas sosial masyarakat melalui kegiatan bersastra sehingga para mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang menjadi agen perubahan yang cerdas dan  berwawasan luas, mampu meretas persaudaran lintas batas.

     Giat bersastra sebagai revolusi mental menjadi sebuah wadah untuk meletakkan dasar yang kuat bagi pembangunan bangsa. Inilah nilai bersastra dalam kontribusinya sebagai gerakan revolusi mental yang dimulai dari diri-sendiri,  melalui semangat kerja sama dan kerja keras dalam mengejar cita-cita bersama yang lebih besar dan bernilai.

    Hasil evolusi mental giat bersastra ini memang tidak terlihat kasa mata, namun  berpengaruh positif terhadap perubahan sikap, cara pandang, cara menyikapi persoalan dan tantangan hidup yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas yang lain terlihat pada kata-kata inspirasi yang tertera pada baju kaus yang mahasiswa kenakan pada waktu melakukan bedah dan diskusi puisi. Sadar atau tidak, ini adalah buah dari revolusi mental giat bersastra.

    (Flores Pos, Sabtu, 20 Desember 2014).

Berita Terkait