Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Guru Kehidupan Itu Telah Pergi

    2015-04-16 17:34:38
    Images

    Guru Kehidupan Itu Telah Pergi

     

    Oleh Alexander Bala Gawen, S.Pd, M.Pd

    Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Universitas Flores, Hp 081353989718

     

    “Kalau ingin membangun masyarakat dalam waktu satu tahun, tanamlah padi; kalau ingin membangun masyarakat dalam sepuluh tahun, tanamlah pohon; kalau ingin membangun masyarakat dalam seratus tahun, didiklah rakyat” (Kon Fu Tse, ahli filsafat Cina, yang disitir H.J Gadi Djou dalam bukunya Uniflor: Sejarah Berdirinya, Perjuangannya, dan Misi Depan Bangsa, 2005).

                Bapak H.J. Gadi Djou (panggilan akrabnya Bapak Ema Gadi Djou) lahir di Ndona, 4 April 1937. Menamatkan SD tahun 1950 di Ndona, SMPK Ndao tahun 1953, SMAK Syuradikara Ende tahun 1956, gelar sarjana lengkap (Drs. Ekon) pada Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta tahun 1965.

    Bapak Ema Gadi Djou menjadi Bupati Ende dua periode (1973-1983). Setelah itu menduduki sejumlah jabatan penting di tingkat Provinsi NTT. Selama memimpin, beliau memberi perhatian besar pada dunia pendidikan sebagai satu titian prioritas pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kiblat kepemimpinan dan perjuangannya terinspirasi oleh pemikiran seorang filsuf Cina, Kon Fu Tse, sebagaimana dikutip di atas.  

    Perjuanganya mengangkat harkat dan martabat masyarakat dimulai dari dunia pendidikan. Di sini, Bapak Ema menjadikan dirinya seorang pemimpin yang pendidik. Beliau memulai dari dirinya dan keluarganya. Beliau secara implisit  berusaha mengubah cara berpikir masyarakat untuk memandang pendidikan sebagai sebuah proses panjang. Sebuah wadah investasi pembangunan jangka panjang.

    Beliau juga seorang visioner dan model bagaimana mengelola dan menata kehidupan masyarakat. Bukti keberpihakannya pada dunia pendidikan dengan berdirinya Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan monumental Universitas Flores (Uniflor).

    Bapak Ema menyitir banyak pendapat para ahli bidang pedagogik bahwa pendidikan haruslah ditebar sebagai “matahari kedua,” sebagai proses pencerahan, di samping menjadi investasi masa depan yang tak tergantikan. Dikatakan investasi karena selain membutuhkan waktu lama, juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Artinya, masyarakat kita harus digerakkan dan disadarkan tentang hal ini, kendati kondisi perekonomian pada waktu itu fluktuatif.

    Beliau tentu tersenyum tatkala dalam sebuah kondisi yang paradoksal, di tengah himpitan krisis ekonomi yang tak memiliki ending  jelas, para orang tua Flores masih tegar membiayai sebuah generasi yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa di daerah ini. Demikianlah kemauan, kerja keras, pengorbanan beliau untuk keberlanjutan kepemimpinan bangsa yang menjadi implikasi dan keniscayaan dalam menggapai asa yang diidamkan oleh setiap anak bangsa. Singkat kata, anak-anak kita harus bersekolah.

    Melalui pencapaian dan kemajuan di bidang pendidikan di Flores inilah, tak bisa dipungkiri bahwa beliaulah salah satu motivator ulung, inisiator yang ulet dalam ranah pencerdasan anak-anak bangsa. Hemat saya keikhlasan hati dan keceriaan budi Bapak Ema turut melapangkan sisa hidupnya hingga mengakhiri pengabdiannya pada Sabtu, 5 Juli 2014 di RS Panti Rapih, Yogyakarta.

    Dalam kiat, asa, dan harapan yang demikian, sebagai orang yang peduli pendidikan dan generasi di daerah Flores ini, almarhum terus berharap agar cita-cita pendidikan sekaligus upaya pemerataannya tak henti-henti diarahkan kepada semangat egalisasi: semua orang sama dan berhak memperoleh pendidikan. Demikianlah, kiat dan  asa almarhum dalam menanamkan sebuah perubahan masyarakat jangka panjang melalui pendidikan.

    Dalam konteks membaca dan membuat hidup lebih hidup, secara pribadi saya menganggap kehidupan Bapak Ema sebanding dengan apa yang ditulis sastrawan besar Chairil Anwar yang menganggap hidup adalah perjuangan “binatang jalang” yang menghadapi tantangan yang tidak ada habisnya sekaligus berusaha untuk memenangkannya. Maka di mata saya, Bapak Ema juga sedang berlari dan terus berlari menghayati elan vital, daya hidup untuk hidup seribu tahun lagi. Hidup baginya dihayati sebagai medan pengembaraan untuk pencarian kedalaman makna.

    Dapatlah kita pahami bahwa baginya setiap hirupan napas pada tapak hidupnya  sungguh berharga, sungguh penting dan bermanfaat. Oleh karena itu, begitu ia bangun tidur, selalu diisi dengan untaian kehidupan dengan apa yang paling berharga yang bisa disumbangkan untuk orang banyak. Dalam kehidupan semacam ini beliau berusaha untuk selalu sadar diri dan cerah budi, membiarkan pikirannya terbuka untuk tidak sedikitpun menyerah pada kekalahan perjuangan hidup yang sedang dilewatinya dalam melawan kebodohan dan kemalasan yang merendahkan makna hidup.

    Dia tidak berpangku tangan, malahan terus berikhtiar menggandakan talentanya untuk setiap mereka yang berada di sekitarnya, melalui kerja keras dan pengorbanan. Itulah Bapak Ema di usianya yang ke-77 tahun 2014 ini beliau telah menoreh jejak-jejak kaki yang penuh semangat sebagai warisan berharga bagi mereka yang ditinggalkannya. Ia meninggalkan sikap disiplin yang luar biasa untuk semua mereka yang dicintainya.

    Beliau menjadikan dirinya sebagai pendulum semangat dan asa. Akhirnya, dia adalah seorang magistra, guru kehidupan bagi anak-cucu dan lingkungan sosialnya. Selamat jalan Sang Magistra menuju rumah Bapa di Surga. (Flores Pos, Sabtu, 19 Juli  2014).

Berita Terkait