Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Ilusi Tubuh Fantastis

    2016-11-23 11:01:44
    Images

    Ilusi Tubuh Fantastis

    Oleh Marianus Ola Kenoba

                                                         

     

    Hidup di persimpangan peradaban moderen acapkali dihantui oleh berbagai kepanikan yang bersifat eksistensial. Salah satu bentuk kepanikan manusia moderen adalah imajinasi soal potongan tubuh ideal. Imaji mengenai bentuk tubuh proporsional tersebut termanifestasi dalam praktek manipulasi atas bentuk tubuh.

    Suntik silikon telah terbukti khasiatnya untuk merekayasa bagian tertentu tubuh manusia. Tidaklah berlebihan jika institusi seperti salon kecantikan, klinik kebugaran, maupun klinik kecantikan (se)-begitu intensnya menawarkan jasa untuk memanipulasi bagian tubuh tertentu yang secara alamiah dipandang belum terlalu simetris.

    Institusi-institusi penyokong mimpi bagi tubuh-tubuh ideal tersebut,  terutama di kota-kota besar laris manis bagai kacang garuda; dikonsumsi oleh konsumen yang terbius oleh iklan-iklan yang menggiurkan. Menariknya sebagian besar konsumen yang memanfaatkan jasa institusi penjual mimpi tersebut adalah kaum perempuan kelas sosial atas.

    Ada konsumen yang batang hidungnya “pesek” minta dipermak agar nampak lebih mancung menyerupai bentuk batang hidung orang bule. Konsumen lainnya lagi yang dagunya persegi, meminta ”dipermak” menjadi mode tirus. Timbunan lemak di sekitar wilayah perut adalah momok yang menakutkan sehingga menjadi ”target” untuk dieksplorasi. Lebih ”aneh” lagi, ada yang maaf payudaranya mungil minta supaya “diformat” menjadi lebih menonjol dan menantang. Berhasilkah semua permintaan “gila” itu? Cukup banyak referensi memperlihatkan bahwa mimpi indah untuk memperoleh formula tubuh yang ideal tersebut menuai tragedi sosial yang hampir tak terelakan.

    Barangkali “order” untuk payudara ideal sedikit lebih beruntung. Formatnya? memang benar-benar menantang dan produk inilah yang dikehendaki lelaki tipe Don-Juan. Harus diakui bahwa hasil “kloter” permak payudara relatif maksimal namun sudilah dipertimbangkan; dada montok, menantang, dan indah dipandang mata tersebut, bukan tanpa resiko. Pada satu sisi “proposal” potongan dada ideal itu, memenuhi standar nilai sosial. Akan tetapi pada sisi yang lain berimplikasi pada kesehatan tubuh secara holistik. Suntikan silikon memang dapat merangsang perkembangan jaringan otot di sekitar dada namun kalau pemakaiannya over dosis maka akibatnya menjadi sangat fatal.

    Bila suntikan silikon memiliki efek yang serius bagi kesehatan tubuh, mengapa kaum perempuan mengabaikan resiko yang tinggi itu demi kemolekan tubuhnya?. Jawaban atas pertanyaan ini bisa saja simpel ”barangkali memang sedang modenya”. Jawaban semacam ini-pun masih bersifat tentatif, relatif, dan nampaknya sulit juga mengeneralisir fenomena tersebut; mengapa demikian? Matinya kejernihan bernalar tidak muncul begitu saja melainkan memiliki pertautan dengan selubung ideologis yang bersemayam di balik diskursus menyangkut bentuk tubuh ideal. 

    Sistem ide yang ingin dipertahankan itu adalah kekuasaan patriarki di dalam masyarakat kita. Namun, bukan hanya patriarki yang turut dilanggengkan kepentingannya melainkan ada sistem lain lagi yang nampak sangat halus bak benang sutra yang mampu mengontrol dan menggerogoti kesadaran manusia pada hasrat-hasrat sosial yang tak terkendali. Sistem yang dimaksud adalah ideologi kapitalisme yang celakanya terlanjur digandrungi masyarakat kita.

    Perempuan selalu dihadapkan pada wacana mengenai tubuh-tubuh ideal yang layak diterima di dalam pergaulan sosial. Atas dasar itu, muncullah obsesi untuk terus mengkonsumsi “iklan” tubuh ideal yang ditawarkan oleh apparatus pendukung sistem kapitalisme. Pada level ini dapat diungkapkan bahwa secara sosio-psikis sebenarnya perempuan sedang diteror untuk memenuhi standar nilai kelayakan tubuh agar mampu survive dalam komunitas referensialnya.  

    Fakta yang menarik sekaligus ironis bahwa dalam masyarakat moderen ini muncul hasrat sosial yang luar biasa terutama dari kaum perempuan agar tampil seksi, menarik, cantik, dan ingin lebih feminin. Dengan demikian, tidaklah terlalu mengherankan jika keindahan tubuh telah menjadi skala prioritas puncak. Persoalan biaya? Konon itu urusan sekunder. Justru yang dikejar adalah dapat memenuhi target bentuk tubuh fantastis.

    Logika sosial telah mengariskan seperangkat premis sosial berupa sistem, pranata, aturan, nilai serta norma sosial untuk mengontrol bahkan mengarahkan manusia untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan matriks sosial. Misalnya bentuk tubuh ideal, dada menantang, montok, seksi dan entalah ungkapan lainnya telah menjebak dan menempatkan perempuan dalam problematika alienasi atau keterasingan eksistensial. Menjadi logis-lah bila opsi yang paling buruk-pun dilakukan dan tentunya sudah lazim bahwa hampir setiap perempuan ikut larut dan terlebur di dalam “adonan” tubuh sosial kemasyarakatan yang ideal tersebut.

    Padahal, tubuh merupakan wilayah yang sangat privat atau otonom dan justru di sinilah letak identitas eksistensial manusia. Tetapi apabila tubuh telah terkontaminasi dengan berbagai pilihan kepentingan maka sesungguhnya manusia telah kehilangan otentisitasnya. Barangkali sejenak kita terjaga dan menakar nasihat bijak filsuf David Hume berikut: “mencari kecantikan yang real atau kelemahan yang real merupakan sebuah pencarian yang sia-sia sama seperti memaksakan diri untuk memastikan rasa manis yang real atau rasa pahit yang real”. *

     

Berita Terkait