Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • In Memoriam Bapak Ema Gadi Djou

    2015-04-16 17:25:15
    Images

     In Memoriam Bapak Ema Gadi Djou

     

    Oleh P. John M. Balan, SVD, MACling

    Pastor Campus Ministry dan Dosen Program Studi PGSD,

    Universitas Flores, HP 081338767320

     

                Ibu Mia Gadi Djou bersaksi tentang suaminya, Bapak Ema Gadi Djou. Kesaksiannya  berjudul “Hidup Bersama Si Ema yang Penuh Warna,” tertuang dalam buku 75 Tahun Sang Visioner H.J. Gadi Djou (Editor Natsir B. Kotten dan Umar Ibnu Alkatab, 2012).

    Ibu Mia menceritakan bahwa beliau mengenal Ema pertama kali sebagai seorang pemain bola kaki. Hobinya ini sejak kecil. Sepak bola yang awalnya hanyalah sebuah hobi, akhirnya berkembang menjadi falsafah hidupnya, sebuah falsafah hidup yang bisa melenting dan melambung seperti sebuah bola atau sebuah permainan sepak bola.

    Katanya, sekurang-sekurangnya ada dua pelajaran yang bisa diperoleh dari bermain bola. Pertama, dalam bermain bola sasarannya jelas dan pasti, yaitu memasukkan bola ke gawang lawan. Tetapi tidak semudah dibayangkan orang. Dalam bermain bola ada perintang dan penghadang yang harus dihadapi, itulah tim lawan. Butuh perjuangan, semangat, energi fisik untuk mengatasi rintangan. Seorang pemain bola harus kreatif, lincah, sportif, strategis dan taktis,  untuk mencetak gol dan menang.

    Kedua, sepak bola adalah kerja sama tim. Sepak bola bukan perjuangan perorangan, tetapi perjuangan bersama, meraih tujuan bersama, yakni menjadi juara. Seorang striker yang mencetak gol bukanlah pahlawan satu-satunya, tetapi bagian dari hasil kerja bersama yang dibangun secara rapi di arena pertandingan.

    Dua hal dari bola inilah yang menjadi falsafah hidup bagi Bapak Ema, menurut Ibu Mia, dan memberikan manfaat besar bagi perkembangan pemikiran, kepribadian, dan karier selanjutnya.

    Dalam Injil, Santu Paulus bersaksi untuk meyakinkan Timotius bahwa hidup sebetulnya adalah sebuah pertandingan, sebuah perjuangan yang luhur dan mulia. Paulus berpesan pada Timotius untuk melayani Tuhan dan sesama dengan sungguh-sungguh. Melayani Tuhan dan sesama menurut Paulus adalah tujuan yang harus dimenangkan dalam pertandingan rohani. Karena itu, Paulus memberikan alasan, mengapa perlu melayani Tuhan dan sesama dengan sungguh-sungguh, dari sudut pandang masa depan. Maka bukan tidak mungkin alasan-alasan ini yang diperhatikan, dihayati lalu menjadi falsafah hidup dari seorang Ema Gadi Djou.

                Pertama, berkaitan dengan tugasnya sebagai pemberita Firman dan pengajar rasul awam, karena akan datang masa di mana orang lebih suka dengan hal-hal yang tidak benar dan dongeng. Menjadi Bupati Ende dua periode bukanlah sebuah dongeng. Beliau bertanding sebagai bupati untuk membangun masyarakat kabupaten ini dari berbagai aspek kehidupan.

    Kompetensi akademik sebagai sarjana ekonomi dan pengalaman bekerja di berbagai instansi dan lembaga, menjadi modal besar untuk memperjuangkan nasib banyak orang. Memperjuangkan hadirnya Universitas Flores yang ada di depan mata kita, untuk anak-anak Flores dan NTT, bukanlah sebuah dongeng, melainkan sebuah bukti pertandingan melayani Tuhan, dengan modal visi masa depan yang dimiliki sang visioner, Ema Gadi Djou.

    Di era Bapa Ema, kehidupan masyarakat penuh tantangan, maka ia menghayati betul nasihat rohani Santu Paulus: “Siap sedialah, baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah yang salah, tegurlah, dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” Yang dihayati Bapa Ema adalah bagaimana ia mengaplikasikan prinsip manajemen pengawasan dan evaluasi dalam hidup dan karyanya.

                Kedua, karena penghakiman yang akan datang. Dua kali Santu Paulus menyinggung pengajaran tentang Allah sebagai hakim. Kesadaran ini juga menjadi inspirasi yang membuat Timotius dan bahkan Bapak Ema makin sungguh-sungguh melayani Tuhan dan sesama.
                Ketiga, karena apa yang menanti Paulus “mahkota kebenaran,” seperti atlit pada pertandingan olahraga Yunani atau Romawi purba. Tetapi, mahkota kebenaran ini bukanlah imbalan setimpal atas jerih payah pelayanan Paulus. Paulus dengan jelas menyebutnya sebagai sesuatu yang akan dikaruniakan. Mahkota kebenaran itu melambangkan pembenaran yang datangnya dari Tuhan sendiri, walaupun di hadapan pengadilan dan di mata dunia, Paulus adalah pesakitan yang duduk di kursi terdakwa.

    Sudut pandang ke masa depan inilah yang menjadi dasar supaya Timotius sebagai pemberita Firman bersikap siap sedia, menguasai diri dalam segala hal, dan “menunaikan” tugas pelayanannya, seperti seorang atlit untuk mencapai garis finis dengan gemilang. Bukankah “mahkota kebenaran” layak disandangkan kepada Bapak Ema Gadi Djou karena kualitas diri dan pelayanan yang diwarisi dari sang rasul dan muridnya?

                Ketika Tuhan Yesus datang untuk mengangkat gereja-Nya, akan menghadapi penghakiman Kristus. Ini bukanlah penghakiman mengenai dosa, tetapi merupakan evaluasi mengenai tata kelola pelayanan kita. Apakah kita akan menerima mahkota kebenaran atau tidak, bergantung pada bagaimana cara hidup kita sebagai pengikut-Nya. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini kamu telah melakukannya untuk aku.” Sedikit banyaknya Bapa Ema memenuhi kriteria ini sebagai seorang rasul awam.

    Sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius diminta untuk memberitakan firman. Demikian pula halnya Bapak Ema sudah bertanding dan berjuang, sudah mencapai garis batas perjuangan dan kehidupannya. Ada banyak gol yang dicetaknya, berbasiskan iman, harapan, dan cinta kasih kepelayanan dan pengabdian, kepada Tuhan dan sesame. (Flores Pos, Sabtu, 12 Juli  214).

     

Berita Terkait