Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Intip Biografi Intelektual Dr. Dra. Imaculata Fatima, M.M.A.

    2016-05-25 11:04:01
    Images

    Nama                      : Dr. Dra. Imaculata Fatima, M.M.A.

    Jenis Kelamin           : Perempuan

    Agama                     : Kristen Katolik

    TTL                          : Wae Nenda (Manggarai), 30 November 1965

    Alamat                     : Jl. Prof. Dr. W. Z. Yohanes

    Nama Suami             : (alm.) Dr. Pius Pampe, M.Hum.

    Nama Anak               : Yulianus Usima Wisran Pampe

    Pendidikan Terakhir   : Doktor (S-3)

     

    Universitas Flores: rahim persemaian

    Berbekal ilmu pengetahuan dan ijazah yang dimiliki, Ibu Ima sarjana baru yang masih berusia belia dan energik itu memasuki gerbang dunia kerja. Pilihan hati jatuh ke Uniflor, dan mulai mengabadikan energi pengetahuannya pada 10 Oktober 1991. Perjalanan meniti karirpun juga pernah mengalami masa pasang-surut. Namun, Ibu Ima bukanlah tipe orang yang mudah terlarut dalam irama dinamika hidup. Tugas yang  pernah diemban, Tahun 1991 sebagai Kepala Unit Komputer Uniflor (1991), dan pernah menjabat sebagai Kepala Unit Perpustakaan Uniflor (1998).

     

    Awal meniti karir, sebetulnya ada banyak “godaan” untuk melamar kerja di instansi-instansi lainnya. Godaan itu justru ditepis jauh dari dunia angan-angannya dan pilihan hati membawa Ibu Ima ke gerbang Uniflor. Dalam palung kesadaran yang paling mendasar hati kecilnya berbisik nyaring “seluruh energi pengetahuan yang dimiliki dibadikan sepenuhnya di Uniflor”.

    Mengintip Biografi Intelektual

    Tahun 1989, Ibu Ima menyelesaikan studi kesarjanaanya di STIMI Handayani Denpasar. Kemudian di tahun 2005, gelar S-2 diraihnya dari Universitas Udayana dengan konsentrasi Agribisnis. Visi pengabdian pada pengetahuan itulah mendorongnya untuk melanjutkan studi doktoral. Februari 2016, Ibu Ima Pampe berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ilmu Pertanian dengan konsentrasi studi Agribisnis di Universitas Udayana Denpasar dengan judul “Modal Sosial dalam Pengembangan Agroekowisata di Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur” yang dipromotori oleh Prof. Dr. Ir. Wayan Windia, SU., dosen Universitas Udayana, sekaligus seorang Konsultan Pertanian Sistem Subak, Bali.

     Relevansi Praksis Keilmuan

    Melalui Disertasi yang ditulis dan telah dipertahankannya itu, secara eksplisit Dr. Ima Pampe ingin menempatkan tiga premis dasar. Pertama menghidupkan kembali modal sosial yang semakin kehilangan otentisitasnya, kedua mengubah ekologi berpikir orang tentang agroekowisata. Pemahaman yang holistik mengenai agroekowisata adalah bentuk riil dari konsep pemberdayaan terhadap publik, ketiga membangun opini bahwa para pengunjung wisata tidak saja sebagai penikmat semata, melainkan sebagai katalisator aktif dalam menjaga keseimbangan sistem lingkungan.

    Bagi Dr. Ima Pampe, segmen usia yang paling potensial untuk merealisasikan tiga premis dasar di atas, adalah kaum muda di NTT, terutama mahasiswa. Harapan perubahan atas paradigma berpikir dari para mahasiswa, yakni dibutuhkan sikap ilmiah untuk selalu proaktif, inovatif dan memiliki kemampuan untuk membangun jaringan baik secara internal maupun eksternal, memiliki kemampuan untuk merambah dan menimba pengetahuan positif  dari dunia virtual sebab internet telah berubah menjadi kebutuhan spesifik di zaman sekarang, menghadapi tantangan zaman, mahasiswa perlu membentengi diri dengan pengetahuan elementer mengenai etika dan moralitas berkomunitas, dan jangan pernah mengabaikan kebesaran Tuhan dalam setiap sukses yang diraih. 

    Kembali ke Dunia Kampus: Merajut Idealisme

    Dunia kampus merupakan lahan yang paling ideal untuk mengaktualisasikan gagasan atau ide-ide yang cemerlang. Untuk itulah warna “aura” kampus menjadi benar-benar terasa bagi seluruh civitas akademika. Dalam rangka menstimulasi kultur akademis di Universitas Flores, Dr. Ima Pampe mengajukan beberapa tesis berikut. Pertama seluruh pihak yang terlibat di dalam Uniflor perlu memiliki “kepekaan” tersendiri untuk membaca realitas aktual. Seorang dosen dituntut untuk mengimbangi segala perubahan tersebut agar aktivitas Tri DharmaPerguruan Tinggi berjalan secara normal berdasarkan regulasi yang ada. Kedua apabila aktivitas Tri DharmaPerguruan Tinggi dijalankan secara optimal, maka kultur akademik akan muncul ke permukaan. Ketiga, hasil riset para dosen mestinya bisa berfungsi praksis. Artinya, hasil penelitian itu bisa berguna secara nyata bagi masyarakat. Keempat diperlukan pendampingan secara intensif melalui terbentuknya desa dampingan yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Jadi, paradigma ke depan, lembaga pendidikan tinggi perlu melaksanakan kerja sama berskala nasional, regional, dan internasional. (2teh)

     

Berita Terkait