Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Jasa Kependidikan Mesti Bergayut Dengan Dunia Kerja

    2017-06-22 09:45:42
    Images

    Jasa Kependidikan Mesti Bergayut dengan Dunia Kerja

     

    Oleh Dr. Natsir B. Kotten, M.Pd.

    Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi,

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores

     

     

    Banyak orang mengatakan bahwa profesionalitas seseoranglah yang membuat sekolah menjadi unggul. Mereka benar. Namun, salah satu jawaban dari daftar variabel yang membuat sekolah menjadi unggul adalah pendidikan bermutu. Para pakar perancang pendidikan telah banyak memberikan pandangan tentang konsep-konsep baru pendidikan bermutu.

    Pendidikan bermutu adalah suatu pandangan yang didasarkan pada filosofi mutu yang terkandung dalam manajemen mutu terpadu (MMT), yaitu pandangan baru tentang pendidikan bermutu. Pandangan atau konsep-konsep baru ini, dipandang sebagai reformasi manajemen pendidikan. Pandangan atau konsep tersebut berorientasi pada filosofi mutu, seperti pendidikan berbasis komunitas (comunitty-based education), manajemen berbasis sekolah (school based management), kurikulum berbasis kompetensi (competency-bassed curriculum), dan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), kurikulum satuan tingkat pendidikan, dan kurikulum ‘13.

    Untuk mencapai pendidikan bermutu, paling tidak ada delapan variabel yang dapat dimaknai secara baik. Pertama, hakikat pendidikan. Hakikatnya, pendidikan itu sendiri adalah mekanisme jasa, dalam arti pelayanan (service), berupa proses-proses sirkuler, bukan linier. Jasa atau pelayanan mengandung makna esensial, yaitu adanya: (1) pelayan (yang melayani) dan pelanggan (yang dilayani), (2) hubungan baik dan saling membutuhkan antara pelayan dan pelanggan, (3) hubungan kemanusian yang logis, dan terbuka, serta (4) adanya kejujuran, kesungguhan, serta ketulusan untuk melayani dan dilayani. Pelayanan atau jasa dalam konteks pendidikan bermutu, tidak pada pengertian bisnis yang bersifat komersial. Lembaga pendidikan adalah industri jasa bukan investasi finansial (financial investment), melainkan investasi manusia (human investment).

    Kedua, jasa kependidikan. Jasa kependidikan, meliputi (1) jasa kurikuler kurikulum, silabus umum, bahan pembelajaran, evaluasi, praktikum, dan kegiatan-kegiatan pelayanan yang berkaitan dengan kurikulum; (2) jasa penelitian; (3) jasa pengembangan kehidupan bermasyarakat, mencakup kegiatan pelayanan untuk pengembangan pemahaman kehidupan bermasyarakat, seperti mengobservasi kehidupan petani, nelayan, pengusaha kecil,  mengunjungi rumah sakit, rumah yatim piatu, kelompok seni budaya; (4) jasa ekstrakurikuler, seperti berbagai kegiatan pelayanan keseniaan, olahraga, prakarya, kesehatan, yang ditujukan pada pengembangan minat peserta didik dan keterampilan hidup; dan (5) jasa administrasi, mencakup berbagai kegiatan pelayanan administrasi. Melalui pelayanan administrasi lembaga pendidikan, berbagai nilai pedagogis ditularkan kepada para peserta didik sebagai pelanggan primer.

    Ketiga, mutu pendidikan. Mutu pendidikan adalah kesesuaian paduan atribut-atribut produk pendidikan dengan kebutuhan para pelanggan atau pengguna jasa, baik pelanggan primer maupun pelanggan sekunder dan pelanggan tersier. Para lulusan lembaga pendidikan merupakan sumber penyalur nilai-nilai pedagogis yang arif dan bijaksana kepada masyarakat umum, terutama kepada dunia usaha tempat mereka bekerja atau berwirausaha.

    Dengan demikian, pendidikan bermutu dalam arti lembaga pendidikan bermutu (quality education) merupakan lembaga pendidikan yang menghasilkan jasa-jasa kependidikan yang sifat-sifatnya sesuai dengan kebutuhan para pelanggan pendidikan, sehingga para lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja, serta dunia usaha. Dalam pandangan ini, mutu pendidikan diukur bukan hanya berdasarkan daya serap peserta didik dan jumlah lulusan, tetapi terutama berdasarkan kesesuaian atribut-atribut jasa-jasa kependidikan dengan kebutuhan para pelanggan di atas. Karena atribut-atribut itu merupakan indikator mutu produk pendidikan, maka disebut juga atribut-atribut mutu pendidikan.

    Kempat, Standar mutu. Pemahaman tentang mutu pendidikan yang dikemukakan di atas mengimplikasikan perlunya standarisasi mutu dan perencanaan mutu pendidikan. Dalam dunia usaha, sudah berjalan standarisasi, terutama mutu manajemen yang menghasilkan standar mutu. Semua lembaga pendidikanpun demikian dapat membuat stadardisasi pendidikan untuk mendorong target pencapaian pendidikan di lingkuangannya masing-masing. Niscaya mutu pendidikanpun akan diraih secara baik.

    Kelima, Perencanaan mutu. Perencanaan mutu pendidikan menghasilkan rencana mutu pendidikan, berupa rencana mutu strategis atau rencana strategis, dan rencana mutu teknis atau rencana tahunan. Rencana startegis berisi pokok-pokok program yang sifatnya komperhensif dan berjangka waktu minimum lima tahun. Rencana tahunan adalah program kerja tahunan yang didasarkan pada rencana strategis sesuai dengan urutan prioritas, lengkap dengan anggarannya. Rencana tahunan itulah yang harus dilaksanakan oleh lembaga pendidikan bersangkutan sepanjang tahun dengan sebaik-baiknya sehingga standar mutu minimum tercapai.

      Keenam, pengendalian dan peningkatan mutu. Pengendalian mutu bertolak dari rencana strategis dan rencanan tahunan secara terkendali. Rencana tahunan tentunya termasuk juga pengendalian penggunaan anggaran. Dalam pengendalian ini berbagai alat pengendali dipergunakan, termasuk alat-alat evaluasi. Peningkatan mutu berkelanjutan ialah peningkatan yang didasarkan pada pengalaman pelaksanaan Renstra dan rencanan tahunan di masa lalu juga perkembangan kebutuhan aktual para pelanggan, mengakibatkan kebutuhan pelanggan pun berubah. Jadi, mutu pendidikan tidak statis, sehingga mutu pendidkan bersifat relatif bukan absolut.

    Ketujuh, pembelajaran bermutu. Pembelajaran bermutu merupakan proses-proses pelayanan kependidikan yang mendorong berbagai potensi yang ada dalam diri peserta didik bertumbuh dan berkembang secara mandiri. Pendidik berperan sebagai motivator dan fasilitator. Peserta didik akan bertumbuh dan berkembang secara mandiri dan memiliki inovasi dan kreativitas yang memadai.

    Kedelapan, ciri pokok kepemimpinan pendidikan bermutu. Untuk menyelenggarakan dan mengelola pendidikan bermutu, diperlukan pemimpin yang bermutu. Pemimpin yang visioner, berintegritas, pemersatu, dan pemberdaya. *

     

     

Berita Terkait