Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Jejak Novel dalam Sastra NTT

    2015-04-14 08:23:29
    Images

    Jejak Novel dalam Sastra NTT

          

           Oleh Drs. Yohanes Sehandi, M.Si.

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Kepala Lembaga Publikasi, Universitas Flores, Hp 081339004021

     

    Jejak novel dalam sastra NTT ditelusiri dengan menghimpun berbagai data dan informasi tentang penerbitan novel dalam bahasa Indonesia oleh para sastrawan NTT. Sastrawan NTT yang pertama kali menerbtikan novel dalam bahasa Indonesia, dialah yang disebut sebagai novelis perintis dalam sastra NTT.

    Setelah melalui proses penelusuran yang panjang dan agak rumit terhadap berbagai  data dan informasi yang ada, akhirnya saya menemukan sastrawan NTT pertama yang menerbitkan novel. Novelis perintis dalam sastra NTT adalah Gerson Poyk. Gerson lahir pada 16 Juni 1931 di Namodale, Kabupaten Rote Ndao, kini berusia 82 tahun. Masa kecilnya dihabiskan di Ruteng, Manggarai.

    Gerson Poyk menerbitkan novel pertama pada tahun 1964 (49 tahun lalu), berjudul Hari-Hari Pertama (BPK Gunung Mulia, Jakarta). Novel kedua berjudul Sang Guru (Pustaka Jaya, Jakarta, 1971), dan ketiga Cumbuan Sabana (Nusa Indah, Ende, 1979). Sampai  Desember 2013, Gerson telah menerbitkan novel minimal sebanyak 12 judul. Dalam perjalanan kariernya sebagai sastrawan, Penerbit Nusa Indah berjasa besar dalam mempublikasikan karya-karya Gerson di tingkat Nasional.

    Berdasarkan penelusuran saya, sejak terbit pertama tahun 1964 sampai Desember 2013 (selama 49 tahun) buku novel dalam sastra NTT berjumlah  48 judul. Satu tahun hanya menghasilkan satu judul buku novel. Sebagai produk budaya intelektual orang-orang NTT yang beragam suku, adat-istiadat, bahasa, dan budaya yang multikultural, dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang, dalam rentang jangka waktu 49 tahun, angka 48 buku novel ini dinilai sangat kurang.

    Ke-48 judul buku novel karya para novelis NTT itu adalah (1) Hari-Hari Pertama (Gerson Poyk, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1964); (2) Sang Guru (Gerson Poyk, Pustaka Jaya, Jakarta, 1971); (3) Tuhan Jatuh Hati (Julius Sijaranamual, 1971); (4) Menaklukkan Benua Baru (Julius Sijaranamual, 1971); (5) Anak-Anak Laut (Julius Sijaranamual, 1971); (6) Teo Si Cilik (Julius Sijaranamual, Nusa Indah, Ende, 1975); (7) Saat untuk Menaruh Dendam dan Saat untuk Menabur Cinta (Julius Sijaranamual, 1978); (8) Cumbuan Sabana (Gerson Poyk, Nusa Indah, Ende, 1979); (9) Petualangan Dino (Gerson Poyk, Nusa Indah, Ende, 1979); (10) Giring-Giring (Gerson Poyk, 1982); (11) Seharusnya Aku Mengerti (Maria Matildis Banda, 1989); (12) Pada Taman Bahagia (Maria Matildis Banda, Grasindo, Jakarta, 1997); (13) Tabitha (Maria Matildis Banda, 1997); (14) Liontin Sakura Patah (Maria Matildis Banda, Grasindo, Jakarta, 1998); (15) Bugenvil di Tengah Karang (Maria Matildis Banda, Grasindo, Jakarta, 1998); (16) Pulang (Mezra E. Pellondou, 2000); (17) Rabies (Maria Matildis Banda, Care Internasional, Kupang, 2001); (18) Klise Hitam Putih (Mezra E. Pellondou, 2002); (19) Surat-Surat dari Dili (Maria Matildis Banda, Nusa Indah, Ende, 2005); (20) Enu Molas di Lembah Lingko (Gerson Poyk, Yayasan Trimedia, Jakarta, 2005);  (21) Petra Southern Meteor (Yoss Gerard Lema, Gita Kasih, Kupang, 2006); (22) Surga Retak (Mezra E. Pellondou, Kairos, Kupang, 2007); (23) Loge (Mezra E. Pellondou, Frame Publishing, Yogyakarta, 2008); (24) Nama Saya Tawwe Kabota (Mezra E. Pellondou, Frame Publishing, Yogyakarta, 2008); (25) Zico & Nina (Yoss Gerard Lema, Gita Kasih, Kupang, 2008); (26) Cleo Kemarilah (Fanny J. Poyk, 2009); (27) Pelangi di Langit Bali (Fanny J. Poyk, 2009); (28) Sang Sutradara dan Wartawati Burung (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (29) Tarian Ombak (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (30) Meredam Dendam (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (31) Seruling Tulang (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (32) Atma, Putih Cinta Lamahala Kupang (Pion Ratulloly, Perum PNRI, Kupang, 2010); (33) Perempuan Itu Bermata Saga (Agust Dapa Loka, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2011); (34) Badut Malaka (Robert Fahik, Cipta Media, Yogyakarta, 2011); (35) Belis Imamat (Inyo Soro, 2011); (36) Cinta Terakhir (V. Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang, 2011); (37) Membadai Pukuafu (V. Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang, 2011); (38) Loe Betawi Aku Manggarai (V. Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang, 2011); (39) Perempuan dari Lembah Mutis (Mezra E. Pellondou, Frame Publishing, Yogyakarta, 2012); (40) Dua Malam Bersama Lucifer (Buang Sine, Andi, Yogyakarta, 2012); (41) Rumah Lipatan (Kopong Bunga Lamaruran, 2012); (42) Nyoman Sulastri (Gerson Poyk, Libri, Jakarta, 2012); (43) Seribu Malam Sunyi (Gerson Poyk, Libri, Jakarta, 2012); dan (44) Luka Batin yang Tersisa (Fanny J. Poyk, 2013): (45) Petualangan Bersama Malaikat Jibrail (Buang Sine, Andi, Yogyakarta, 2013); (46) Aku? (Yos Mau, Medium, Bandung, 2013); (47) Janji Sabana (Misel Gual, (2013); dan (48) Likurai untuk Sang Mempelai (Robert Fahik, Cipta Media, Yogyakarta, 2013).

    Novelis NTT yang produktif adalah Gerson Poyk, telah menerbitkan 12 buku novel. Setelah Gerson adalah adalah Maria Matildis Banda (7 novel), kemudian Mezra Pellondou (6), Julius Sijaranamual (5), novelis NTT yang lain baru menerbitkan di bawah angka lima.

    (Flores Pos, Sabtu, 4 Januari 2014)

Berita Terkait