Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • KRITIK SASTRA INDONESIA MENCARI KAMBING HITAM

    2017-09-20 12:07:59
    Images

    KritikSastra Indonesia MencariKambingHitam

     

    OlehYohanesSehandi

    Dosen Prodi PendidikanBahasadanSastra Indonesia (PBSI)

    Universitas Flores, Ende, Blog: www.yohanessehandi.blogspot.com

     

     

    JDulu opini sama persis dengan judul buku antologi kritik sastra yang diluncurkan padaMusyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-2 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, pada 18-20 Juli 2017 lalu. Editor bukukritikusMaman S. Mahayana, diterbitkanBadanPembinaan dan PengembanganBahasa,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

    Buku yang terbit tahun 2017dengan tebal 179 halamanini, merupakan buku antologi kritik sastra dari 21 sastrawan, pengamat, dan kritikus sastra Indonesia yang diambil dari tahun 1935 sampai 1984 (rentang waktu 49 tahun).Sejumlah nama besar yang karyanya dihimpun dalam buku yang mau diperkenalkan ini, antara lain SutanTakdirAlisjahbana (STA),Sanusi Pane, SutanSjahrir, Chairil Anwar, PramoedyaAnantaToer, H. B. Jassin, IwanSimatupang, Dick Hartoko, Dami N. Toda, dan lain-lain. DimulaidarikaranganSTA(1935) yang dimuatdalammajalahPoedjanggaBaroeberjudul “MenujuMasyarakatdanKebudayaanBaru IndonesiaPra-Indonesia”diakhiridengankaranganDami N. Toda (1984) yang diambildaribukunyaHamba-HambaKebuayaan yang berjudul “KritikSastra Indonesia MencariKambingHitam.”Jadi, judulbukuinidiambillangsungdarijudulkaranganDami N. Toda,seorangkritikussastra Indonesia modernkelahiranManggarai, Flores, 29 September 1942, meninggaldunia di Hamburg, Jermanpada 10 November 2006.

    Sebagai editor sekaliguskurator, kritikusMaman S. Mahayana, menulispengantardengancukupkritisberjudul “CatatanKurator, JejakKritikSastra” (halaman xi-xxii).Mahayana dalamcatatanpengantarnyamenyatakanbahwasastra Indonesia sejakawalmulasudahmempunyaitradisikritiksastra.Kritiksastra Indonesia tidakmengadopsikritiksastradari Barat.PernyataanMahayana inimembantahsemuaanggapanumumselamaini yang menyatakansastra Indonesia tidakmempunyaitradisikritiksastra.Kritiksastra Indonesia diadopsidaritradisikritiksastraBarat.

    Mahayana menjelaskan,istilah“kritiksastra”,padaawalnyadiperkenalkan STAdalamartikelnyaberjudul “MenoedjoeKesoesasteraanBaroe” yang dimuatdalamrubrik “MemadjoekanKesoesasteraan” dalammajalahPandjiPosetaka, edisi Mei 1932.Di sini STA menjelaskanciri-ciripuisibaru, syair, kiasan, danibarat, berikutulasannya.Sejaksaatitulahistilah“kritiksastra”mulaidigunakanorang untukmenunjuksebuahtulisandi media massa yang membicarakan (karya)sastradengannamakritiksastra.

    Selanjutnya,lewatmajalahPujanggaBaru yang dipimpinSTA, tradisikritiksastraIndonesia bertumbuhdanterusberkembang.Kritikussastra pun mulaibermunculan.Dalamperkembangannya,kritikusyang paling menonjoladalahH.B. Jassin(1917-2000).Kedudukankritiksastra Indonesia menjadikokohsetelah H.B. Jassinmenerbitkanbuku-bukunya yang sangatterkenalberjudulKesusastraan Indonesia Modern dalamKritikdanEsai(1945) yang mencapaiempatjilidbuku. Buku-bukukritiksastra H. B. Jassininilahmenjadiacuandan model kritiksastra Indonesia selanjutnya.Kritikussastra Indonesia yang lainadalah A. Teeuw, M.S. Hutagalung, Umar Junus, Dami N. Toda, JakobSumardjo, Maman S. Mahayana, dan lain-lain.

                Mari kitakembalikejudulopiniini.Apakahbenarkritiksastra Indonesia mencarikambinghitam?Sepintastentang perjalanankritiksastra Indonesia.Sejakdahulusampaidengansaatini, kritiksastra Indonesia seringditudingsebagaimusababkurangmemasyarakatnyasastra Indonesia di kalanganmasyarakat Indonesia.Kritiksastra Indonesia dituduhtidakbisamengimbangiperkembangankaryasastraIndonesia yang pesat.Akibatnya, karya-karyasastra Indonesia hanyadikenaldi kalanganelitedanterbatas.Tudinganlain, selepaspensiunnya H.B. Jassin(1917-2000)darigelanggangkritiksastra Indonesia, sulitditemukankritikussastra yang sewibawadanseproduktif H. B. Jassin. Kurangberwibawadankurangproduktifnyakritikusdalammelakukankritiksastramenambahbebankritiksastrasebagaikambinghitam.

    Problem lain yang melilitkritiksastraIndonesia adalahketidakberdayaanteorikritiksastra yang dijadikanacuan. Apabilaadakritiksastra yang terlaluteoretikdanteknis, hasilnyakuranglentur, unsurseninyaberkurangsehinggamembosankan.Sungguhtidakmudahuntukmenyatakanteorimana yang tepatuntukbekalkritiksastra. Banyakteorikritiksastra yang umumnyabersumberdariteorisastra.Sekianbanyakteorikritiksastraituterasamenjadibebanbagiseorangkritikussastra.Calon-calonkritikussastra yang biasanyamunculdariduniaakademik di perguruantinggisepertinyasulitmencariteorikritiksastrayang tepatbagipengembangankritiksastra.

                Terhadapberbagaitudinganyang menjadikankritiksastrasebagaikambinghitam, Dami N. Toda lewattulisannya yang terdapatdalambukuini (halaman165-179) menyatakanbahwakritiksastratidakbisadijadikansebagaikambinghitamdarikeadaantidakmemasyarakatnyasastranasional Indonesia. MenurutDami N. Toda, untukmemasyarakatkansastranasional Indonesiaperludilakukankerjasamasinergisberbagaipihak,terutamaantarapemerintahsebagaipengelolamasyarakatbangsadannegaradenganparapendidik di berbagailembagapendidikan, tokoh-tokohmasyarakat, parasastrawan, pengamatdankritikussastra, penerbitbukudan media massa, tokobukudanperpustakaan. Semuanyabersama-samamembentukiklimkondusifbagipertumbuhandanperkembangansastranasional Indonesia. *

     

Berita Terkait