Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kecerdasan Emosional Remaja Putri

    2015-04-18 06:36:56
    Images

    Kecerdasan Emosi Remaja Puteri

     

    Oleh Drs. Alberth Nikolaus Sino, SM

    Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

     Universitas Flores, Ende, Hp 082237275145

     

    Menurut para ahli, kecerdasan emosional merupakan bagian dari aspek kejiwaan seseorang yang paling dalam dan merupakan kekuatan. Dengan emosi itu seseorang dapat menunjukkan keberadaannya dalam masalah-masalah manusiawi.

    Emosi menyebabkan seseorang memiliki rasa cinta yang amat dalam sehingga bersedia melakukan sesuatu pengorbanan yang sangat besar sekalipun, walaupun kadang- mungkin dapat mengorbankan dirinya sendiri.

    Kekuatan emosi sering kali mengalahkan kekuatan nalar, sehingga sering terjadi perbuatan yang secara nalar tidak mungkin dilakukan seseorang, tetapi karena terdorong oleh kekuatan emosi, kegiatan itu dapat dilakukan. Misalnya, seorang ibu yang sedang berdiri di pinggir jalan raya melihat anak kecilnya bermain di tengah jalan sementara ada kendaraan  lari kencang melewati jalan tersebut, ibu itu pasti akan secepat kilat lari menggendong anaknya walaupun dia tahu resikonya sangat besar, misalnya, keduanya akan mendapat kecelakaan atau tewas sekaligus.

    Emosi merupakan suatu kekuatan yang dapat mengalahkan rasio. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengendalikan, mengatasi, dan mendisiplinkan kehidupan emosional. Caranya dengan memberlakukan aturan-aturan yang mengurangi ekses-ekses gejolak emosi, terutama nafsu yang terlampau bebas tak terkekang dalam diri kaum remaja yang sering kali mengalahkan rasio.

    Hal ini lebih banyak terjadi pada anak-anak remaja yang parasnya cantik dan menarik yang  terkesan simpatik bagi setiap orang yang melihatnya. Memang hal itu normal, natural ciptaan Tuhan, namun kalau orang tua yang hanya bangga akan kecantikan anak gadisnya dan lupa menerapkan disiplin, aturan-aturan, tata tertib pergaulan, memberikan nasihat dan bimbingan kritis terhadap perilaku anak gadis dalam menghadapi godaan, maka sering terjadi anak tidak terlatih untuk membedakan antara emosi/dorongan rasa simpatik dan rasio.        Rasa emosional biasanya cepat memberikan keputusan tanpa dibarengi pertimbangan-pertimbangan rasio. Akibatnya dapat dimaklumi bahwa sering terjadi anak gadis yang baru saja berkenalan beberapa hari atau beberapa minggu dengan seorang pemuda, didukung oleh waktu, tempat dan kesempatan memungkinkan, langsung menyerahkan diri dalam keterlenaan oleh emosi/nafsu yang tidak terkendali sehingga terjadilah hubungan yang intim.        Setelah si gadis hamil, orang tuanya mendesak dengan ancaman,  menuntut agar anak segera dinikahkan, karena si gadis juga merasa takut, terpaksa setuju saja dengan laki-laki yang menodainya, namun belum sampai pada tingkat tertanamnya rasa saling mencintai. Sebaliknya, si laki-laki juga akan mengatakan (dalam hati) memang dia simpatik dan tertarik atas kecantikan si gadis itu, tetapi belum pada taraf cinta, bisa saja si lelaki akan berkata hubungan intim itu terjadi karena mau sama mau, atas dasar saling tertarik, bukan karena saling mencintai, sebab cinta harus melalui proses yang panjang.

    Di sini kita menyadari bahwa keluarga baru yang terbentuk dengan cara kebetulan seperti ini harus didampingi secara terus-menerus demi menumbuhkan rasa cinta dalam diri mereka, bukan orang tua melihatnya dengan setengah hati, marah-marah atau bersikap menyesali. Memang secara persentase boleh dikatakan kadar cinta dalam hati mereka mungkin baru 30% atau 40% maka harus dipupuk terus oleh orang tua agar kadar cinta mereka meningkat menjadi 80% atau 90% malah 100%.

    Kalau  dasar cinta perkawinan tidak mendalam seperti ini maka sering terjadi pertentangan, pertengkaran, percecokan dalam keluarga, saling mengatai satu sama lain dengan membangkitkan situasi awal perkenalan mereka yang memang hanya kebetulan dan tidak didasarkan atas rasa cinta sejati, tetapi hanya karena terdorong oleh rasa nafsu, sehingga kurang saling mendengarkan, yang bisa mengarah kepada rasa bosan malah bisa terjadi perselingkuhan.

    Demi mencegah terjadinya hal seperti ini, maka orang tua perlu terus-menerus  memberikan arahan, petuah dan nasihat kepada anak gadisnya agar bertingkah laku dengan penuh pertimbangan, baik secara emosional maupun rasional. Anak gadis sejak dini harus dilatih mengendalikan emosi dan rasio sehingga akan timbul kecerdasan emosional dalam dirinya karena kecerdasan emosional itu diperoleh melalui latihan atau pengalaman.

    Kadang-kadang orang tua menghadapi tantangan dari si anak gadis itu sendiri karena dia merasa diri sudah menginjak usia dewasa sehingga tidak mau terlalu dikekang oleh nasihat-nasihat orang tua. Orang tua harus bijaksana dalam memberikan nasihat kepada anak gadisnya sehingga anak tidak terlalu merasa didikte, namun dengan memberikan pengertian atas dasar kasih sayang kepada anak pasti akan diterima dengan hati yang ikhlas.

    Tantangan dari anak gadis remaja tidak akan terjadi jikalau si anak selalu dalam rangkulan penuh kasih sayang oleh orang tuanya, walaupun hanya beberapa menit setiap hari. Ada orang tua yang karena kesibukan, tidak terlalu memperhatikan anaknya karena sudah dipercayakan kepada pembantu. Akibatnya kurang terjalin rasa dekapan kasih sayang antara orang tua dan anak sehingga anak enggan menerima nasihat dari orang tuanya sendiri walaupun nasihat tersebut sangat bermanfaat bagi dirinya.

    (Flores Pos, Sabtu, 2 Agustus 2014).

     

     

Berita Terkait