Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kemitraan dalam Pendidikan

    2015-04-18 07:26:55
    Images

    Kemitraan dalam Pendidikan

    (Menyelisik Peran Uniflor)

     

    Yohanes Y.W. Kean, S.Pd, M.Pd

    Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah,

    FKIP, Universitas Flores, Hp 081329444306

     

    Sejarah Indonesia dari masa ke masa menempatkan pendidikan sebagai agenda utama dalam perjalananan kehidupan bangsa dan negara. Pendidikan berperan penting dalam perjuangan kemerdekaaan Indonesia. Sejarah perjuangan kemerdekaan tidak terlepas dari peranan pendidikan swasta. Sekolah-sekolah Muhamadiyah, perguruan Taman Siswa, sekolah swasta lainnya merupakan bentuk lembaga pendidikan tandingan terhadap sekolah-sekolah zaman kolonial yang berorientasi kepada kepentingan penjajah.

    Demikian pula dengan peran perguruan swasta dalam sejarah pendidikan Indonesia sudah jauh sebelum masa kemerdekaan. Dalam masyarakat tradisional sudah dikenal lembaga pendididikan. Pada masa Hindu-Budha adanya pengajaran sekitar wihara ataupun candi, dan pernah ada pertukaran pelajar dari India ke Sriwijaya dan sebaliknya.

    Pada masa Islam kita mengetahui adanya pendidikan tinggi sekitar pesantren. Masa misi-zending kaum misionaris menyelenggarakan pendidikan dari seminari kecil hingga seminari tinggi.  Menurut  Prof. Tilaar, seorang pakar pendidikan, ada dua hal penting (1) adanya perguruan swasta menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah suatu masyarakat belajar,  (2) perguruan swasta telah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia.

    Masyarakat dan pemerintah mengakui peran perguruan swasta dalam usaha bangsa kita, yakni usaha mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Namun, keberadaan perguruan swasta diterima dengan sikap ambivalen. Melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), pemerintah melakukan pengawasan akan keberadaan semua perguruan tinggi swasta (PTS). Perkembangan PTS secara kuantitas sangat cepat tentu membawa implikasi terhadap kualitas. Jika peningkatan mutu tidak sesuai standar maka pengawasan dapat berubah arah menjadi bumerang, apalagi berkaitan dengan sistem birokrasi yang kaku.

    Pemerintah mengambil peran setidaknya menurut hemat penulis dalam rangkaian kerja sama antara PTN dan PTS dengan tiga model kerjasama, yakni (1) Sub-ordinasi, di dalam hubungan ini, PTN di atas PTS, meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama dalam Sisdiknas, namun ruang gerak PTS akan sangat terbatas karena segala sesuatunya mengikuti model yang diarahkan PTN, termasuk supervisinya, (2) Koordinasi, antara PTN dan PTS terdapat hubungan yang setara sebagai subsistem dari Sisdiknas. Hubungan keduanya dapat berbagi fungsi sehingga terjadi fertilisasi silang di antara kedua subsistem itu. Kesulitan dari hubungan itu ialah menghilangkan rasa superioritas atau egositik dari kedua pihak. Yang perlu dipacu ialah persaingan sehat demi mencapai kualitas yang semakin meningkat, (3) Kemitraan, merupakan hubungan yang ideal seperti diamanatkan dalam UU Nomor 2 Tahun 1989 mengenai peran PTS dalam pengembangan Sisdiknas, yaitu sebagai mitra PTN.

    Ditandai dengan ada hubungan antara PTN dan PTS dalam status yang sama-sama berkualitas. Keduanya tunduk dalam Ssidiknas, evaluasi nasional, kurikulum baku dengan konten lokal atau muatan ciri khas. Hubungan kemitraan merupakan juga hubungan dalam seluruh sistem pendidikan nasional diarahkan untuk mencari keunggulan. Kedua subsistem (PTN-PTS) akan saling mengisi dan terjadilah fertilisasi silang di antara kedua subsistem itu dengan keunggulan komparatif masing-masing.

                Peran Universitas Flores (Uniflor) sebagai salah satu PTS dalam peningkatan kualitas Sisdiknas di Provinsi NTT dapat kita lihat sebagai berikut. Pertama, memerankan inovasi dan eksperimen dalam dunia pendidikan. PTS dengan ciri khasnya akan menambah warna dalam Sisdiknas, dalam arti memberi corak atau alternatif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini PTS mempunyai peluang yang lebih besar dibandingkan dengan PTN dalam hal melakukan eksperimen dan inovasi pendidikan karena adanya kemungkinan berimprovisasi dengan kekhasannya. Jadi, PTS dapat memainkan peranan pelopor berbagai inovasi dan eksperimen peningkatan mutu pendidikan nasional.

    Kedua, sebagai aktor pelopor excellent in education. Ciri khas PTS akan memberikan peranan sebagai lembaga di bawah suatu manajemen yang kuat dan profesional karena rentang kendalinya yang relatif kecil. Demikian pula dapat dikembangkan perencanaan strategis dan manajemen strategis yang dapat memacu pencapaian kualitas pendidikan. Dengan demikian, PTS dapat berperan sebagai pelopor excellent education.

    Ketiga, sebagai pelopor dalam kedisiplinan. Pada umumnya di Indonesia, realitas menunjukkan bahwa mutu pendidikan bertalian erat dengan manajemen, termasuk disiplin. Sekolah yang memegang disiplin dan dikelola secara baik cenderung berkualitas baik dan sebaliknya. PTS yang mempunyai kewenangan otonomi dalam membuat aturan-aturan menyangkut kedisiplinan dapat menegakkan disiplin dengan baik, yaitu disiplin partisipatif di mana peserta didik diarahkan kepada kepatuhan terhadap peraturan kehidupan PTS itu sendiri. PTS yang dikelola secara profesional akan menghasilkan tumbuhnya kehidupan yang berdisiplin tinggi bukan saja dalam lingkungan kampus, melainkan juga dalam kehidupan bermasyarakat.

    Kesamaan derajat antara PTN dan PTS akan mengubah persepsi masyarakat mengenai partisipasinya terhadap PTS yang kini relatif dirasakan mahal. Demikian pula persepsi masyarakat terhadap PTN yang pasti baik mutunya dan relatif murah “akan berubah.” Pendidikan yang berkualitas memang relatif mahal. Dengan kemitraan yang memprioritaskan mutu yang tinggi, masyarakat akan rela menyisihkan pendapatannya untuk membiayai pendidikan yang berkualitas, yang diselenggrakan oleh PTS. Singkatnya, kemitraan akan memacu dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berkualitas.

    (Flores Pos, Sabtu, 13 September 2014).

Berita Terkait