Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kepedulian Mengajar dan Mengajarkan Kepedulian

    2017-08-31 12:57:11
    Images

    Kepedulian Mengajar dan Mengajarkan Kepedulian

    Oleh John M. Balan, SVD, MACling

    Dosen & Campus Minister Universitas Flores

    Hp.081338767320

     

     

                Tahun ajaran–tahun akademik 2016/2017 jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sudah berakhir. Ada yang mengakhirinya dengan rasa bangga karena target kurikulum tercapai melampaui standar. Tetapi, ada yang harus menepuk dada, menghela nafas dalam-dalam karena gagal meraih capaian kurikulum, apalagi prestasi peserta didik di institusinya melorot di bawah standar ideal.

                Tahun ajaran–akademik baru 2017/2018 sudah dimulai. Slogan “back to school” di berbagai media,  mengingatkan kita untuk berbenah diri sepanjang tahun ajaran ini. Membaca buku “Caring To Teach and Teaching To Care,” dari dua tokoh pendidik profesional di negeri Paman Sam, Dave Opalewski dan Anna Unkovich (2011), saya tergerak mengulas gagasan mereka yang dapat saya artikan sebagai “kepedulian mengajar dan mengajarkan kepedulian”. Tulisan ini hendak menggugah semua pengabdi pendidikan, bahwa ketika berhadapan dengan slogan “back to school”, maka pertanyaannya adalah berbenah diri macam apa yang perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah dan di kelas di tahun ajaran–tahun akademik ini?

                Saya beranggapan bahwa setiap guru–dosen profesional perlu memiliki filosofi pribadi yang melandasi profesi keguruan dan kependidikannya dalam mengajar dan mendidik. Guru–dosen harus meyakini nilai-nilai dan pentingnya mentalitas akademik  yang solid di sekolah. Pengetahuan dan keterampilan penting diajarkan demi masa depan peserta didik kita. Muatan profesional guru–dosen sedapatnya memberikan pengaruh signifikan bagi prestasi akademik dan nilai-nilai kehidupan mereka.

                Berhadapan dengan realitas pendidikan yang terkesan fluktuatif antara sukses–gagal, membanggakan–mengecewakan, guru–dosen, dan institusi mutlak berbenah diri menjadi lebih profesional. Isu-isu yang disoroti Dave dan Anna, menjadi instrumen untuk mengkonfrotir diri dengan realitas pendidikan kita.

                Beragam isu dalam perspektif yang berbeda mereka paparkan demi menguji konsistensi dan komitmen profesi guru–dosen, seperti “mungkinkah tekanan kebijakan pendidikan kita memaksa para guru–dosen untuk sekadar berprestasi rata-rata setiap tahunnya, dengan menempuh jalan pintas yang mengaburkan gambaran yang jelas tentang kebutuhan dan kehidupan peserta didik kita? Sudahkah peserta didik kita berubah secara mental akademik? Apakah sudah terjadi perubahan dan pergeseran nilai-nilai hidup dalam keluarga, masyarakat, dan institusi kita, sehingga berdampak buruk pada peserta didik kita? Apakah peserta didik kita punya keinginan dan kebutuhan untuk membina hubungan baik dengan orang lain, tua dan muda? Apakah kita terfokus pada penguatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan akademis melulu, sambil mengabaikan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai hidup yang harus ditumbuh-kembangkan di sekolah secara sehat demi perkembangan sosio-emosional peserta didik? Apakah masalah kebutuhan peserta didik saat ini secara substansial berbeda dengan yang pernah kita alami di masa lalu?

             Mungkinkah bahwa guru–dosen dalam upaya mencapai hasil nilai tes yang tinggi, lebih konsen pada pencapaian target kurikuler dan pembenahan teknis administratif sehingga kehilangan kontak dengan peserta didik sebagai pribadi? Apakah  mereka hanya dijadikan sebagai obyek penimbunan materi ajar? Apakah mereka merasa terisolasi dan kurang mendapat perhatian lantaran guru–dosen hanya terfokus pada bahan ajar dan kesibukan administrasi? Pernahkah peserta didik kita memperlakukan guru–dosen dan teman sekelasnya dengan tidak hormat? Sudahkah pengajaran dan pendidikan kita membuat mereka menghindari sikap dan tindakan vandalistis terhadap ruang kelas, lorong, dan gedung sekolah?”

                Dave dan Anna, percaya bahwa jawaban atas isu-isu ini, adalah “ya”. Mereka yakin strategi, model, pendekatan, dan metode salah ajar dan salah didik, memungkinkan terjadinya isu-isu di atas. Dalam hal-hal tertentu kita bisa saja sepakat dengan mereka. Sebagai guru–dosen, kita harus berusaha memahami secara utuh peserta didik kita dengan potensi-potensi mereka, yang memotivasinya untuk berprestasi. Guru–dosen yang profesional harus bisa terlibat dengan mereka karena pendidikan di zaman ini menuntut agar kita masuk dan berurusan dengan seluruh dimensi dirinya, bukan cuma dengan otak atau pikirannya. Itulah, Dave dan Anna berharap bahwa pendidikan di belahan dunia mana pun, mestinya berbasis pada filosofi “kepedulian”, sehingga menghasilkan peserta didik sebagai pribadi-pribadi yang peduli dan berkarakter.

                Apa yang unik dari kepedulian mengajar dan mengajarkan kepedulian. Keunikannya terletak pada mengelola kelas dan pembelajaran. Guru–dosen terus sadar akan pentingnya membangun apa yang mereka namakan “five R’s”. Filosofi lima “R” meliputi membina hubungan sosial yang baik timbal balik (relationship), rasa hormat (respect), tanggung jawab (responsibility),  manfaat (relevance) dan ketelitian (rigor). Kelima prinsip ini harus menjadi roh yang menjiwai setiap mata pelajaran atau mata kuliah serta semua tindakan mengajar. Untuk tampil beda, apa yang dilakukan sekarang sebagai guru–dosen profesional? Jawabannya adalah memberi tekanan pada lima aspek “R” dalam kegiatan mengajar dan mendidik, dengan membangun relasi sosial yang produktif dan konstruktif, rasa hormat, tanggung jawab, kecermatan, dan memastikan relevansinya untuk kehidupan mereka. Ketika kita mulai sadar akan profesi kita yang sangat dihormati dan dibayar mahal, maka sukses untuk guru–dosen dan peserta didik sudah kita genggam di tangan. Di sini kita boleh tersenyum menebar sukses.*

     

     

Berita Terkait