Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kiat Menulis dan Mengedit Artikel Opini

    2015-04-18 09:17:58
    Images

    Kiat Menulis dan Mengedit Artikel Opini

     

    Oleh Drs. Yohanes Sehandi, M.Si.

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Universitas Flores, Ende, Weblog: www.yohanessehandi.blogspot.com

     

    Banyak calon penulis kita yang kesulitan untuk mulai menulis artikel opini yang akan dikirim ke media massa cetak atau elektronik. Ide atau gagasan sudah ada di kepala, tetapi persoalannya adalah bagaimana memulainya?

    Seorang penulis artikel opini kaliber dari Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, Mudrajad Kuncoro dalam bukunya Mahir Menulis (2009, halaman 67) memberikan nasihat kepada para calon penulis artikel opini. Kuncoro menawarkan dua kiat atau teknik sederhana untuk mulai menulis. Kedua kiat itu adalah kiat re-writing (menulis ulang) dan kiat free-writing (menulis bebas). Kedua kiat ini gampang diikuti dan dikembangkan oleh siapa saja, baik oleh para calon penulis maupun penulis yang sudah mahir.

    Pertama, teknik re-writing (menulis ulang). Menurut Kuncoro (2009, halaman 68) teknik re-writing adalah teknik menulis yang paling mudah. Proses yang dilakukan dimulai dengan mengumpulkan ide atau gagasan dengan jalan membaca banyak, yakni membaca buku, majalah, surat kabar, kliping, dokumen, membaca internet, atau dokumen yang lain. Ide juga bisa dikumpulkan dari hasil diskusi dengan orang lain, ikut seminar, ceramah, perkuliahan, pertemuan, wawancara, hasil penelitian, pengalaman pribadi, dan lain-lain.

    Ide atau gagasan yang terkumpul dan tersedia di kepala itu akan kita tuangkan dalam artikel opini kita. Kalau kita merasa ide sudah cukup di kepala, kita langsung saja mulai menulis, jangan tunggu lama-lama lagi.

    Lebih dahulu menulis judulnya yang menarik perhatian kita. Judul ini nanti bisa saja diubah pada waktu opini diedit atau disunting. Setelah tulis judul, mulai tulis kalimat pertama pada paragraf pertama. Setelah paragraf pertama, lanjut menulis paragraf kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai paragraf terakhir sebagai penutup artikel opini kita. Setelah semuanya selesai ditulis, dibiarkan dahulu untuk beberapa waktu, bisa untuk beberapa jam bisa pula beberapa hari. Setelah itu kita mulai mengedit atau menyuntingnya.

    Kedua, kiat free-writing (menulis bebas). Dengan kiat free-writing seorang penulis artikel secara bebas memilih topik atau pokok masalah yang menarik perhatiannya, tanpa mempedulikan bagus atau tidaknya topik atau masalah tersebut. Pokoknya, begitu ada ide atau gagasan yang terlintas di kepala langsung saja menulis, terus menulis, menulis sampai tidak ada lagi yang mau ditulis tentang topik atau masalah tesebut.

    Menurut Kuncoro, seseorang dalam kondisi tertentu, misalnya sedang marah, sedang gembira, atau dalam keadaan tertekan, secara psikologis, pikiran dan perasaannya terbuka. Momen tersebut merupakan peluang emas untuk menulis dengan menggunakan kiat free-writing. Hasil pertama tentu belum memuaskan karena tidak dilakukan secara teratur dan sistematis. Setelah semuanya selesai ditulis, dibiarkan dahulu untuk beberapa waktu, bisa beberapa jam bisa pula beberapa hari. Setelah itu kita mulai mengedit atau menyuntingnya. Tahap penyuntingan ini mutlak diperlukan dalam kiat free-writing ini.

    Banyak penulis artikel opini yang terkenal memberikan nasihat dan saran agar calon penulis artikel opini tidak perlu takut salah pada waktu menulis. Pada saat menulis seseorang tidak boleh terjerembab dalam penyesalan atas setiap kesalahan yang dilakukannya dalam menulis. Terus saja menulis sampai akhir dengan mengalir tanpa harus merisaukan kesalahan apapun. Kesalahan yang terjadi dalam menulis nanti ada waktu khusus untuk memperbaikinya, yakni pada waktu mengedit atau menyuntingnya.

    Ada dua jenis pengeditan, yakni pengeditan secara redaksional dan pengeditan secara substansial. Pengeditan secara redaksional bertujuan untuk memastikan bahwa artikel opini yang telah disusun tidak memiliki kesalahan bahasa, seperti kesalahan penggunaan tanda baca, penulisan huruf, penulisan huruf miring dan hurif tebal, penggunaan kata, penulisan singkatan, akronim, pengetikan, dan lain-lain. Ingat, artikel opini akan dibaca masyarakat luas sehingga kesalahan sekecil apapun harus dihindari.

    Pengeditan secara substansial bertujuan untuk memastikan bahwa artikel opini itu terhindari dari kesalahan isi atau substansi yang dibahas. Pengeditan ini sangat penting agar kekuatan atau bobot artikel yang disusun bisa terjaga dan terjamin benar isinya. Hal yang mesti diperiksa adalah koherensi atau kepaduan dari keseluruhan isi artikel dari awal sampai akhir. Setiap kata dalam kalimat, setiap kalimat dalam paragraf, dan setiap paragraf dalam keseluruhan artikel harus memiliki kepaduan yang semuanya mendukung tema atau pokok permasalahan yang diangkat dalam artikel opini.

    Jika semua unsur itu dirasa belum padu, editlah sekali lagi. Proses mengedit adalah proses yang terus-menerus dilakukan sampai penulis merasa bahwa semua unsur dalam artikel itu tidak ada lagi yang cacat, siap untuk dikirim ke media massa.

    Ada banyak artikel opini yang ditolak oleh redaktur media massa karena tidak cermat dalam proses pengeditan. Ini tentu disayangkan, ide brilian yang terdapat dalam artikel opini kita yang perlu diketahui banyak orang, menjadi gagal dimuat media massa hanya karena kesalahan pengeditan atau proses pengeditan yang tidak matang.

    (Flore Pos, Sabtu, 4 Oktober 2014)

Berita Terkait