Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kode Semiotik Dalam Permainan Ceha Kila

    2017-08-31 10:07:02
    Images

    Kode Semiotik dalam Permainan Ceha Kila

     

     

     

     

    Oleh Maria Marietta Bali Larasati

    Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

     FKIP, Universitas Flores, Hp: 081236045995

     

     

     

    Konsep semiotik berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu semeion, yang berarti tanda. Semiotik didefinisikan sebagai ilmu yang menelaah sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Van Zoest mengartikan semiotik sebagai ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya (Sobur, 2006:95–96).  Sebaliknya, menurut Preminger fakta sosial maupun praksis kultural merupakan representasi dari tanda-tanda. Semiotika mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Kriyantono, 2007:261).

    Secara sosiologis, semiotika sosial beriringan dengan teks sosial, yang dalam cara pikir M.A.K Halliday selalu berbasis pada tiga elemen poros penafsiran teks secara kontekstual, yaitu medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode). Konsep-konsep ini yang digunakan untuk menafsirkan konteks sosial teks yaitu lingkungan terjadinya pertukaran makna (Halliday dan Ruqaiya, 1992:16).   

    Medan wacana (field of discourse) menunjuk pada hal yang sedang terjadi,  pada sifat tindakan sosial yang sedang berlangsung, apa sesungguhnya yang sedang disibukkan atau diwacanakan oleh para pelibat, yang di dalamnya bahasa berfaedah sebagai unsur pokok tertentu. Pelibat wacana (tenor of discourse) mengacu pada orang-orang yang mengambil bagian, pada sifat para pelibat, kedudukan dan peran mereka, jenis-jenis hubungan peranan apa yang terdapat di antara para pelibat, termasuk hubungan-hubungan tetap dan sementara, baik jenis peranan tuturan yang mereka lakukan dalam percakapan maupun rangkaian keseluruhan interelasi  yang secara kelompok mempunyai arti penting yang melibatkan mereka. Sarana wacana (mode of disourse) menunjuk pada bagian yang diperankan bahasa: bagaimana komunikator menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan situasi dan pelibat (orang-orang yang bermain), apakah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolis, eufemistis atau vulgar (Bungin, 2009:174).

    Fungsi tanda dalam analisis sosial sangat esensial karena tandalah yang menghadirkan kekhususan dan mendukung relasi-relasi sosial di tengah-tengah masyarakat. Dalam tanda ada sesuatu tersembunyi dan bukan merupakan tanda itu sendiri. Pada segi-segi tertentu, kekayaan makna pada suatu tanda seringkali tereduksi oleh pengetahuan, aturan, dan kode-kode yang dipakai oleh konvensi budaya tertentu.

    Sementara itu relasi antara manusia dan kebudayaan bercorak komplementer. Kebudayaan adalah ciptaan manusia sebagai hasil olah budi dan daya manusia. Kemudian, artefak budaya dapat berupa bahasa, kesenian, barang-barang tenunan, anyaman, tembikar dan gerabah, tradisi, adat istiadat, pranata, norma, dan tatanan yang diciptakan dengan tujuan menjadikan manusia berbudaya dalam satu kesatuan komunitas (Daeng, 2004:18).

    Kebudayaan Manggarai merupakan hasil olahan rasa, karsa, cipta, dan cita yang menjadi kekayaan esensial orang Manggarai, baik secara kolektif maupun perorangan (Dagur, 1997:2). Ceha kila (harafiah: menyembunyikan cincin) merupakan salah satu jenis praktik budaya orang Manggarai yang diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk permainan. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok, yakni kelompok 1 dan 2 dengan jumlah anggota di dalamnya tidak ditentukan. Setiap kelompok memiliki seorang pemimpin utama yang biasa disebut sebagai Sando. Kedua kelompok tersebut terlibat dalam permainan untuk menentukan pihak yang lebih jago, jeli, dan cerdik. Permainan ceha kila hanya dapat dimainkan ketika ada orang yang meninggal. Permainan ini dilangsungkan selama tiga malam berturut-turut, terhitung sejak jenazah atau jasad orang yang sudah meninggal dikuburkan. Permainan ceha kila bertujuan untuk menghibur keluarga yang sedang berduka.

    Permainan tradisional ceha kila merupakan kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang untuk menyaksikan, mengambil bagian dalam permainan, serta merasakan manfaatnya untuk mencapai tujuan bersama. Permainan ini menggunakan kila (cincin) sebagai sarana yang disepakati oleh dua kelompok pemain. Setiap kelompok menebak sambil menyanyi, plus pantun dalam lagu silih berganti sambil menunjuk orang yang memegang kila. Kalau tebakannya tidak tepat, maka yang ditunjuk atau yang ditebak menjawab toe (tidak).

    Sumber semiotik tidak terbatas pada perkataan, tulisan, atau gambar, namun hampir semua hal yang memiliki makna secara sosial dan kultural. Permainan tradisional ceha kila dapat dimaknai sebagai peristiwa komunikasi yang menghasilkan sumber-sumber semiotik, maka untuk memahami makna potensial sumber semiotik tersebut, hendaknya perlu memperhatikan konteks budaya, norma, hingga ‘aturan-aturan’ dalam permainan ini.

    Analisis semiotik sosial tidak hanya terarah pada ‘teks’ dalam ‘konteks’, namun mengkaji pula bagaimana orang menggunakan sumber semiotik dalam memproduksi artefak komunikasi dan peristiwa komunikasi, serta menafsirkannya dalam kontek sosial tertentu. Sosial semiotik menginvestigasi bagaimana sumber-sumber semiotik tersebut terintegrasi dalam sebuah peristiwa atau artefak, serta bagaimana orang-orang menggunakan sumber semiotik tersebut dalam konteks sosial tertentu. Atas dasar itulah sumber semiotik dalam permainan tradisional ceha kila, tidak terbatas pada kata-kata yang disampaikan oleh seorang Sando, namun juga setting, aksesoris, dan sumber-sumber semiotik lainnya yang berpotensi memiliki makna.*

     

     

     

     

Berita Terkait