Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kompetensi Guru dalam Pembelajaran

    2015-04-14 08:33:31
    Images

    Kompetensi Guru dalam Pembelajaran

               

    Oleh Theodorus Uheng Koban Uer

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Universitas Flores, Hp 081355372301

     

                Menurut McAshan yang dikutip Sanjaya dalam buku Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (2011, halaman 6-7),  kompetensi adalah suatu pengetahuan, kemampuan atau kapabilitas, dan keterampilan yang dimiliki seseorang dan telah menjadi bagian dari ciri kepribadiannya sehingga mewarnai seluruh perilaku kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

                Kompetensi tidak hanya dalam tataran pengetahuan, tetapi juga tergambar atau tampak dalam pola perilaku pribadi yang bersangkutan. Oleh sebab itu, kompetensi dalam proses pembelajaran, baik yang dimiliki para guru maupun para siswa harus tergambar dan  diwujudnyatakan dalam perilakunya, baik sebagai guru agar menjadi profesional dalam bidangnya, maupun sebagai siswa dalam mempersiapkan masa depannya.  

                Secara garis besar, ada empat kompetensi guru yang harus dimiliki, yakni kompetensi  pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat  kompetensi ini perlu dikembangkan selaras dan seimbang agar guru mampu menyajikan pembelajaran semakin berkualitas.

    Tak dapat disangkal bahwa guru adalah tokoh kunci dalam upaya membangun sumber daya manusia (SDM) para siswanya. Banyak ahli pendidikan berpendapat, sebagus apapun sistem pendidikan dan kurikulum yang disiapkan, serta selengkap apapun sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia, tidak akan mencapai hasil yang maksimal dalam membangun SDM para siswa, tanpa guru yang berkompetensi. Oleh sebab itu, di beberapa negara yang sudah maju pendidikannya, seperti Jepang, Jerman, Swedia, dan Amerika Serikat, dilakukan berbagai upaya untuk menghasilkan guru yang berkualitas yang penuh kompetensi.

                Jepang adalah salah satu negara Asia yang sungguh memperhatikan pendidikan guru. Diceritakan, setelah bom atom menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki yang mengakibatkan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua, kaiser Hirohito yang berkuasa pada masa itu menyuruh mendata jumlah guru yang masih tersisa (bukannya mendata jumlah jenderal atau tentara yang masih hidup). Sang kaiser mempunyai keyakinan, untuk membangun kembali kondisi yang terpuruk hanyalah “melalui pendidikan manusia” sebagai sumber daya pembangun. Dan tokoh kunci pembangun itu adalah para guru.

                Hal tesebut terbalik dengan keadaan kita di Indonesia. Bertahun-tahun sesudah ditetapkannya UUD 1945 dengan Pembukaannya yang terkenal itu, di mana disebutkan tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun tetap saja sekadar wacana, tak pernah diimplementasikan dengan tepat melalui upaya pendidikan guru yang semakin berkualitas. Para penyelenggara negara ini sepertinya terus-menerus menyimpangkan cita-cita kemerdekaan bangsa ini, yakni membangun SDM yang berkualitas bagi bangsanya agar menjadi bangsa yang mandiri, kuat, dan bermartabat.

                Bahwa kesadaran akan pentingnya peranan para guru, baru mulai muncul pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang kemudian dilanjutkan oleh Presiden Megawati dan Presiden SBY dengan berbagai penghargaan kepada guru, seperti sertifikasi guru, tunjangan khusus bagi guru di wilayah terpencil, beasiswa bagi guru berprestasi, dan sebagainya. Guru yang dahulu pangkatnya mentok sampai Golongan IV/A, kini bisa lebih tinggi pangkatnya, apabila mampu menulis karya tulis ilmiah.

                Sementara itu para guru dituntut terampil mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran secara tepat dengan metode yang bervariasi, mengevaluasi secara konsisten dan berkesinambungan. Semua tuntutan ini akan dijalankan dengan baik jika kesejahteraan para guru terjamin.

    Adanya peluang yang lain adalah ditetapkannya 20% APBN dan APBD untuk pendidikan. Akan tetapi, di beberapa daerah otonom masih enggan memperhatikan kesejahteraan para guru di daerahnya. Kiranya keadaan ini ke depan akan berubah ke arah yang lebih baik, khususnya perhatian terhadap kesejahteraan guru.

                Selanjutnya, untuk mencapai cita-cita negara mencerdaskan kehidupan bangsa, sangat dibutuhkan guru yang berkarakter dan profesional dalam bidangnya. Dengan demikian, sangatlah diperlukan guru yang bermutu sesuai kompetensi yang perlu dimiliki seorang guru. Kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Keempat kompetensi ini perlu dikembangkan secara berimbang sehingga terciptalah guru yang berkualitas.

                Salah satu upaya untuk menghasilkan guru yang profesional adalah menjadikan guru yang inspiratif dan berkarakter. Di dalam kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang dikembangkan melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang kemudian melahirkan Kurikulum 2013, siswa dituntut untuk aktif, inovatif, kreatif dalam proses pembelajaran. Hal ini akan terpenuhi apabila guru menyajikan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan. Pola PAIKEM akan semakin bermakna apabila diaplikasikan dengan baik dan tepat dalam proses pembelajaran.

                Menjadi guru yang inspiratif adalah guru yang mampu menginspirasi para siswa agar dapat mewujudkan setiap potensi yang dimilikinya. Dan untuk mewujudkan guru yang berkarakter, sang guru harus memancarkan keluhuran karakter dalam dirinya. Melalui pancaran keluhuran karakter itulah upaya pendidikan dan pengajaran akan berhasil bagi para siswanya, karena pola tingkah laku guru yang terwujud melalui kepribadian yang stabil dan mantap.  Masalah kepribadian yang dimiliki guru akan sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran.

    (Flores Pos, Sabtu, 11 Januari 2014).     

     

     

     

     

Berita Terkait