Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Konflik Sosial Antara: Kita, Kami, Kamu, dan Mereka

    2017-04-07 10:10:37
    Images

    Konflik Sosial

    Antara: Kita, Kami, Kamu, dan Mereka


    Oleh : Theodorus Uheng Koban Uer

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Fakultas Keguruan danI lmu Pendidikan

    Universitas Flores

     

    Bahasa Indonesia mengenal dua macam pronomina persona jamak orang pertama, yakni kitadan kami. Sementara, bahasa-bahasa fleksi umumnya hanya satu macam. Misalnya, we (bahasa Inggris) ataupun nos-nobis (bahasa Latin). Kami bersifat eksklusif, artinya pronominal itu mencakup pembicara/penulis atau pendengar/pembaca di pihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain di pihak pendengar/pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif, artinya pronominal itu mencakup tidak saja pembicara/penulis tetapi juga pendengar/pembaca, dan mungkin juga pihak lain.

    Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. Pada umumnya kata mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain, misalnya melalui repetisi nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. Namun, dalam cerita fiksi atau narasi lain, kata mereka kadang-kadang digunakan untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Jadi, kata mereka dipakai untuk menyebut orang-orang di luar saya, kita, kami, dan kamu.

    Pemaknaan semantis seperti itu dapat dimanfaatkan sebagai “optik” untuk menalar dimensi historisitas perjuangan bangsa Indonesia demi mereguk oase kemerdekaan. Bagaimana kita, kami, kamu, dan mereka yakni masyarakat ‘akar rumput’ terlibat dan melibatkan diri dalam berinteraksi memperjuangkan kemerdekaan?.  Rakyat yang dalam keadaan buta huruf, hampir tak berimajinasi tentang target perjuangan sehingga pandangannya cenderung berorientasi pada kepentingan kelompok saja, dan mereka akan bersikap tidak mau tahu dengan perkembangan di luar dirinya. Tidak mengherankan jika komunikasi politis yang diarahkan untuk menentang kaum imperialis hanya dilakukan oleh kita, kami, dan mereka dari golongan kelas menengah saja. Kenyataan ini semakin dipertegas dalam karya-karya sastra Pramudya Ananta Toer, Roman Tetralogi Buru. Secara singkat perjuangan tersebut baru berawal dan bermakna pada moment Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Inilah dua pilar perjuangan yang menentukan Nasionalisme kita bangsa Indonesia.

    Sementara menapaki dan melakoni hasil perjuangan tersebut untuk memberi makna kepada kemerdekaan yang sejati, para founding father merasa terusik dengan munculnya polemik antara para pemimpin tentang arah dan tujuan pembentukan Negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Kekitaan kolektif mulai terganggu dengan kekamian eksklusif.

    Apabila jejak sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa dibaca berdasarkan “optik” Pramudya Ananta Toer terutama dalam opus magnum-nya yang ditulis dalam masa pembuangan di pulau Buru akan tampak jelas proses kekitaan kolektif. Roman Tetralogi Buru merupakan roman sejarah yang terdiri atas empat serial: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

    Pesan yang disampaikan dalam ‘Bumi Manusia’ merupakan periode penyemaian dan kegelisahan untuk menemukan ke-Indonesiaannya. Roman kedua ‘Anak Semua Bangsa’ adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari dan menemukan arus kehidupan masyarakat ‘akar rumput’ yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropah. Untuk itu dimunculkannya roman ketiga yakni ‘Jejak Langkah’ yang mencita-citakan pengorganisasian perlawanan lewat medium jurnalistik dengan seruan ‘Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan. Roman keempat ‘Rumah Kaca’ yang menggambarkan pergerakan nasional yang transparan tetapi masih terselubung dalam ‘rumah kaca’.

    Cita-cita ini terwujud dalam Sumpah Pemuda. Sejak saat itu ‘persatuan dan kesatuan bangsa’ Indonesia yang pluralistik menjadi harga mati. Jadi bukan homogenitas. Meskipun konsepnya diawali dengan kata ‘kami …’, namun makna semantik dalam pernyataan atau sumpah tersebut adalah kekitaan kolektif. Karena para pemuda yang datang dari berbagai pelosok Nusantara itu berasal dari beragam etnis, budaya, agama. Mereka adalah Jong Jawa, Jong Sumatera, Jong Borneo, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islam, Jong Kristen, dan lain-lain yang bersatu di Batavia untuk bersumpah

    Meskipun demikian, kekitaan kolektif dalam keberagaman tersebut menjadi rentan terhadap konflik jika tidak dikelola secara proporsional selaras dengan prinsip-prinsip politik moderen yang beradab. Kekitaan kolektif dalam budaya, etnik, dan agama mengalami konflik dengan kekamian eksklusif. Konflik tersebut berawal dari perdebatan seputar relasi antara Negara dan agama khususnya agama Islam. Apabila kita menyimak “Polemik Negara Islam antara Soekarno versus Muhammad Natsir” (dalam Suhelmi, 2012) cukup jelas bahwa Sukarno menginginkan adanya garis demarkasi yang tegas antara Negara dan agama; sedangkan Muhammad Natsir menghendaki pertautan yang erat antara agama dan negara. Perdebatan ini tak perlu diperuncing tetapi dikelola dalam bentuk dialog yang tulus sehingga eksistensi kelompok minoritas termasuk berbagai aliran kepercayaan terakomadasi.

    Kekitaan kelektif perlu dikelola dalam diskursus intelektual sehingga tidak muncul kekamian inklusif. Oleh sebab itu semboyan Bhineka Tunggal Ika dan spirit toleransi beragama yang sudah diwariskan harus terus dihidupkan guna mengantisipasi tragedi berdarah yang terjadi di berbagai tempat di Nusantara.*

Berita Terkait