Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Koperasi Hadapi Tantangan MEA

    2016-05-27 11:42:42
    Images

    Koperasi Hadapi Tantangan MEA

    Oleh : Damianus Tola, M.Ec.Dev

    Dosen Prodi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

    Universitas Flores, Hp: 082340608063

     

    Kehadiran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) memacu pemerintah untuk mempersiapkan masyarakatnya secara baik. MEA sama dengan perdagangan bebas, di mana masing-masing individu, bahkan kelompok dipermudah melakukan hubungan dagang antara satu daerah, bahkan antara negara tanpa halangan yang berarti. Berbagai kesepakatan, jalinan kerja sama, perjanjian multilateral berbagai kelompok negara maju dan berkembang, penyatuan mata uang, dan lain-lain, merupakan wujud dari lintas batas geografis-regional menuju kepentingan ekonomi internasional semakin tak terhindarkan. Tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri. Ketahanan ekonomi suatu bangsa serta masyarakatnya diuji. Berbagai strategi perekonomian pun diramu untuk menghadapi badai pemberlakuan perdagangan lintas batas tersebut. Salah satunya adalah penguatan kapasitas lembaga koperasi sebagai soko guru dan fondasi perekonomian mencapai kesejahteraan masyarakat.

    Keberadaan koperasi di tengah kehidupan bangsa membawa berbagai dampak positif bagi proses pembangunan sosial maupun ekomoni. Koperasi mampu memproduksi produk sesuai kebutuhan pasar lokal ataupun global dan memiliki jati diri dan daya saing di tengah gempuran berbagai kekuatan ekonomi global. Kehadiran jumlah koperasi yang cukup besar sekarang ini menjadi aset kesejahteraan ekonomi yang harus terus diberdayakan. Selama ini koperasi hanya dianggap sebagai bentuk organisasi kemasyarakatan yang intensitas kegiatan maupun hasil ekonominya masih berskala kecil. Padahal, koperasi sebagai organisasi yang digerakan atas dasar semangat gotong royong antarsesama anggotanya mempunyai potensi besar, karena sifat masyarakatnya yang menjunjung tinggi asas kekeluargaan dan kegotongroyongan. Sejak lama bangsa Indonesia telah mengenal kekeluargaan dan kegotongroyongan yang dipraktikkan oleh nenek moyang kita. Sifat nonprofit ini, merupakan input Pasal 33 ayat 1 UUD 1945 yang dijadikan dasar atau pedoman pelaksanaan koperasi. Pelaksanaan yang bersifat pra-koperasi terus dihidupi oleh masyarakat pedesaan, dan masih dijumpai meskipun arus globlisasi terus merambat ke pedesaan.

    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan tata dunia ekonomi baru. Lembaga koperasi diimbau untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan daya saing agar dapat bersaing menembus kawasan ASEAN. Masyarakat tidak boleh mengganggap remeh, karena realisasi pencapian MEA, baik barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal akan bebas keluar masuk di antara anggota Negara ASEAN. Hal ini tentu akan menjadi peluang emas bagi setiap negara yang sudah memiliki persiapan yang matang, namun bisa menjadi bumerang bagi yang kurang mempersiapkan diri.

    Untuk mempersiapkan koperasi agar dapat bersaing dengan baik, maka langkah yang dapat dilakukan: pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan citra dan kepercayaan segenap pengurus, pengawas dan anggota sesuai dengan tugas dan fungsinya. Kedua, meningkatakan motivasi bisnis sesuai jati diri koperasi. Produk yang dihasilkan koperasi haruslah memenuhi kualitas dan standar yang sesuai. Ketiga, perbaikan infrastruktur penunjang bisnis, seperti infrastruktur fisik, informasi dan komunikasi dan sumber daya alam juga diperlukan untuk meningkatkan daya saing daerah. Persaingan usaha akan semakin ketat, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi meningkat, tuntutan akan sumber daya manusia yang berkualitas mampu mengantisipasi dan merencanakan masa depan meningkat pula. Dengan demikian, kedudukan dan keberadaan koperasi semakin terintegrasi dan berperan menentukan ke dalam perekonomian nasional.

    Sebuah koperasi masuk kelas dunia apabila, pertama, koperasi yang mampu bersaing dengan perusahaan multinasional yang beroperasi di pasar domestik, dan kedua, koperasi tersebut memiliki cakupan aktivitas di luar wilayah Indonesia dalam hal ekspor, impor maupun investasi. Kedua tujuan tersebut bisa tercapai apabila pemerintah terus menyediakan sejumlah fasilitas tidak hanya permodalan, penyuluhan, manajemen, tetapi juga potensi pengembangan teknologi dan informasi sehingga kapasitas koperasi dapat ditingkatkan sejajar dengan entitas usaha lain di dunia. Dalam proses pendampingan ini pemerintah juga tidak hanya memonitor perkembangan unit-unit usaha koperasi, tetapi juga melakukan sejumlah uji pemeringkatan demi memicu koperasi untuk terus mengembangkan diri dan mendapat kesempatan memperluas jangkauan usahanya dari aspek pasar maupun kapasitasnya.

    Para pelaku koperasi saat ini sedang menghadapi dua tantangan besar, adanya tuntutan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan manajemen unit koperasi yang dijalankannya, dan harus mampu berkembang lebih baik dalam kerangka manjemen yang kuat. Koperasi mesti mampu berkembang sebagai alat ekonomi berbasis masyarakat dalam skala besar dan mendorong roda perekonomian ke arah yang lebih baik disertai penguatan kelembagaan sebagai entitas bisnis modern. Koperasi pun dituntut membangun kultur kreatif, inovatif dan nilai tambah dalam kerangka meningkatkan daya saing koperasi. Hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah menerapkan nilai-nilai dan prinsip koperasi sejati, memberikan nilai tambah yang luar biasa kepada anggota untuk membangun loyalitas, komitmen kokoh, selain memperkuat jaringan kemitraan dengan stakeholders. Kita harus bisa menjadi ‘market leader’, terutama di pasar sendiri. Saatnya kita maju dan mandiri dalam menghadapi pasar bebas, melalui pemberdayaan koperasi secara lebih baik. Kita optimis akan tetap bertahan, di tengah kepungan pasar global, termasuk era pemberlakuan MEA sekarang ini.*

    Opini telah diterbitkan  pada Rubrik Suara Uniflo,  Harian Umum Flores Pos edisi 7 Mei 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor

Berita Terkait