Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kritik Atas Politik Misogini

    2017-10-09 09:29:10
    Images

    Kritik Atas Politik Misogini

     

     

    Oleh Marianus Ola Kenoba

    Pengajar Sosiologi dan Sekretaris UPT Publikasi Universitas Flores

     

     

     

                Merujuk paradigma historis, lahirnya ideologi feminisme radikal sebagai bentuk otokritik terhadap kultur sexism. Rezim pengetahaun sexisme telah dituduh “memprovokasi” isu diskriminasi sosio-kultural berdasarkan perbedaan biologis di Barat sekitar 1960-an. Jadi, sebetulnya orientasi ideologis gerakan feminisme radikal terpusat pada gugatan atas fakta ketertundukan kaum perempuan oleh sistem yang kurang mengakomodir seluruh potensi alamiah yang dimiliki sejak masa pra-aksistensinya. Artinya, pranata sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan bahkan sistem agama-pun “dicurigai” sarat dengan “muatan” nilai patriarki yang potensial mendominasi kaum perempuan.

                Padahal, agenda strategis yang diajukan oleh kaum feminis liberal sebagai motor gerakan perempuan tertua di dunia, telah berupaya menarik perempuan agar keluar dari ketertindasan secara struktural. Agenda strategis yang dimaksud di sini adalah melalui perluasan akses perempuan pada dunia pendidikan dan mendorong kebijakan “politik hukum” yang netral dari pretensi politik seksualitas. Agenda yang diajukan oleh kaum feminis liberal ini memang awalnya manjadi isu pergerakan yang paling strategis. Namun, perlu disadari bahwa persoalan marjinalisasi terhadap kaum perempuan bukanlah fakta tunggal melainkan sangat problematis.

                Kompleksitas persoalan keterutundukan kaum perempuan itu justru menjadi sasaran kritik bagi gerakan perempuan gelombang berikutnya yang menamakan gerakannya feminisme radikal. Menurut feminis radikal bahwa meskipun akses pendidikan dan hak hukum bagi kaum perempuan sudah menjadi bagian dari kebijakan publik, namun kaum perempuan di dunia masih mengalami pengalaman ketertindasan. Dengan demikian, pemilahan ranah publik sebagai domain laki-laki dan ranah domestik sebagai domain kaum perempuan merupakan representasi pembagian wilayah kerja yang dipandang kurang proporsional terhadap kaum perempuan.

    Bertolak dari “wilayah” kuasa antar jenis kelamin di atas maka menurut penilaian kaum feminis radikal, akar dari ketidakberdayaan perempuan sebetulnya terletak pada dimensi biologis atau persoalan seksualitas itu sendiri. Memang, diskursus mengenai tubuh dan seksualitas menjadi isu sentral bagi gerakan feminisme radikal. Jadi, titik tolak ketidakberdayaan kaum perempuan berasal dari hegemoni dan dominasi atas seksualitas perempuan pada wilayah atau domain privat. Atas dasar itu-lah, kaum feminis radikal memiliki semacam spirit pendorong perjuangan yang dirumuskan dalam adigium the personal is political (yang pribadi selalu bercorak politis). Slogan semacam ini dapat berarti segala usaha marjinalisasi terhadap kaum perempuan di ruang privat selalu berkelindan pula dengan domain publik.

    Aksentuasi otokritik atas pembagian wilayah privat-publik tersebut, ternyata juga berimplikasi langsung pada agenda mendesak yang harus diselesaikan oleh kaum feminis radikal. Atas dasar itu-lah isu-isu mengenai kesehatan spesifik bagi kaum perempuan menjadi titik-tolak perjuangan feminis radikal. Muncul semacam opini umum bahwa seluruh wacana yang dihembuskan soal kesehatan perempuan adalah representasi dari diistribusi kuasa kaum laki-laki demi penguasaan sistematik atas kaum perempuan. Atas dasar itulah distribusi paradigma kesehatan terhadap perempuan yang sebelumnya selalu dalam kerangka umum laki-laki, ingin digantikan oleh paradigma kesehatan yang diandaikan lebih berpihak pada kaum perempuan.

    Bertolak dari adagium the personal is political, kaum feminis radikal juga ingin mempelopori argumentasi menyangkut tindakan aborsi dan pemanfaatan alat kontrasepsi yang betul-betul “ramah” bagi kaum perempuan. Hak untuk memilih merupakan argumentasi pamungkas yang diajukan bagi persoalan aborsi. Jadi, perempuan diberi opsi yang luas untuk menentukan apakah ia ingin punya anak atau samasekali tidak. Keputusan penting semacam ini menurut kaum feminis radikal mesti ada di tangan kaum perempuan sendiri sebab perempuan adalah pemilik tubuhnya sendiri dan bukannya terletak pada rezim seksual kelelakian.

    Situasi yang agak ironis, sering terjadi pada komunitas kaum perempuan kelas bawah yang sama sekali tidak memiliki posisi tawar yang proporsional terhadap sistem. Penggunaan alat kontrasepsi pada perempuan kelas bawah ini disinyalir bukan merupakan pilihan bebas kaum perempuan melainkan disebabkan oleh keharusan yang sukar untuk ditolak.

    Bahkan, hak untuk memperoleh informasi menyangkut perlalatan kontrasepsi yang akan digunakan terkadang disepelehkan begitu saja. Di Amerika Serikat misalnya, cukup banyak perempuan kulit hitam kelas bawah menjalani program sterilisasi tanpa dikehendaki mereka sendiri. Sterilisasi ini, secara politis dimaksudkan untuk membatasi populasi kulit hitam. Sebaliknya program sterilisasi untuk perempuan kulit putih peluang untuk aborsi diperketat agar memperpendek kesempatan perempuan untuk memasuki sektor-sektor pekerjaan formal.

    Gadis Arivia mengkompilasi analisis Kathleen Barry dalam karyanya Sexual Slavery 1979 yang mengupas topik perbudakan seksual. Sebelum abad ke-19 terjadi transaksi perbudakan. Selanjutnya, tahun 1970-an “program” turisme digalakan dan memungkinkan hadirnya turisme seks. Ketika membicarakan soal perbudakan seksual maupun turisme seks sebetulnya menyentuh esensi yang sebangun yakni tubuh perempuan. Padahal, makna tubuh bagi kaum feminis radikal, adalah sebuah domain yang paling otonom-terutama bagi kaum perempuan.

Berita Terkait