Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Kuliah Umum Kajian bahasa Lisan

    2014-12-03 07:12:22

    Flores Lembata memiliki bahasa lisan yang perlu segera dikaji karena hampir punah. Para penutur aslinya semakin berkurang. Salah satu contoh kajian bahasa lisan yang menarik adalah kajian variasi bahasa di wilayah Ende - Lio, Kabupaten Ende, yakni variasi bahasa Ende yang bersifat regional, etnis, ketertarikan, pekerjaan, ekonomi, dan sebagainya.

    Hal ini disampaikan Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum, Ketua Program Magister Linguistik, Program Pascasarjana Unud (Universitas Udayana) Denpasar Bali, dalam kuliah umum kepada para dosen dan mahasiswa program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) di Kampus VI Uniflor, Sabtu (22/11) yang hadir bersama pemateri lain Dr. Anak Agung Putu Putra, M.Hum dan Dr. Made Sri Satyawati, S.S, semuanya dosen Magister Linguistik Unud.

    Tema kuliah umum yang disampaikan adalah "Kajian Kelisanan Bahasa dan Tantangan Penelitian Linguistik Masa Depan". Dr. Sri Satyawati dalam materinya mengungkapkan sejumlah kiat dalam menentukan judul penelitian. Satu diantaranya penelitian Sintaksis (penggunaan kalimat) bahasa daerah tertentu. Misalnya mencari tahu fungsi, peran dan kategori sintaksis bahasa Ende yang berkaitan dengan nomina, verba, ajektiva, dan numeralia. Sedangkan peran sintaksis berkenaan dengan istilah pelaku, penderita atau penerima.

    Dr. Anak Agung Putu Putra membagi pengalamannya dalam meneliti variasi bahasa lisan Sumba dari perspektif dialektologi. Pada bahasa Sumba beliau meneliti perbedaan variasi bahasa berdasarkan perbedaan wilayah. Dialek bahasa Sumba Timur berbeda dengan dialek Sumba Barat .Hal ini disebabkan oleh perbedaan wilayah penutur bahasa.

     

  • Kuliah Umum Kajian Bahasa Lisan

    2015-05-11 12:04:00

    Kuliah Umum Kajian Bahasa Lisan

     

    Kajian bahasa lisan seringkali tidak menarik perhatian para dosen dan mahasiswa, karena terbiasa fokus pada kajian bahasa tulis. Masih banyak bahasa daerah di daratan Flores Lembata yang perlu segera dikaji karena hampir punah, para penutur aslinya semakin berkurang. Salah satu contoh kajian bahasa lisan yang menarik adalah kajian variasi bahasa di wilayah Ende-Lio, Kabupaten Ende, yakni variasi bahasa Ende yang bersifat regional, etnis, ketertarikan, pekerjaan, ekonomi, dan sebagainya.

    Pandangan di atas disampaikan Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum, Ketua Program Magister (S-2) Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Bali, dalam kuliah umum kepada para dosen dan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris dan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) di Kampus IV Uniflor pada Sabtu pagi, 22 November 2014.

    Di samping I Nyoman Suparwa, turut memberikan kuliah umum adalah Dr. Anak Agung Putu Putra, M. Hum dan Dr. Made Sri Satyawati, S.S, semuanya dosen Program Magister (S-2) Linguistik Unud. Suparwa tak lupa mempromosikan Program Magister (S-2) Linguistik dan mengajak untuk kuliah S-2 dan S-3 di Unud. Hadir dalam acara tersebut para dosen dan sekitar 200-an mahasiswa PBSI Uniflor.

     Pada Sabtu siang (22/11) ketiga dosen tamu dari Program Magister (S-2) Linguistik Unud memberikan kuliah umum kepada para dosen dan mahasiswa Prodi Sastra Inggris Uniflor juga bertempat di Kampus IV Uniflor dengan tema “Kajian Kelisanan Bahasa dan Tantangan Penelitian Lingustik Masa Depan.”

    Dalam materinya, Dr. Sri Satyawati mengemukakan sejumlah kiat dalam menentukan judul penelitian. Satu di antaranya penelitian sintaksis (penggunaan kalimat) bahasa daerah tertentu. Misalnya mencari tahu fungsi, peran, dan kategori sintaksis bahasa Ende yang berkaitan dengan nomina, verba, ajektiva, dan numeralia. Sedangkan peran sintaksis berkenaan dengan istilah pelaku, penderita, dan penerima.

    Dr. Anak Agung Putu Putra membagi pengalamannya dalam meneliti variasi bahasa lisan Sumba dari persepektif dialektologi. Pada bahasa Sumba beliau meneliti perbedaan variasi bahasa berdasarkan perbedaan wilayah. Dialek bahasa Sumba Timur berbeda dengan dialek Sumba Barat. Hal ini disebabkan oleh perbedaan wilayah penutur bahasa.

    Kuliah umum ketiga dosen tamu ini menarik perhatian para dosen dan mahasiswa di dua program studi tersebut. Cahyadi, mahasiswa Prodi Sastra Inggris merespons, “Saya ingin  meneliti penggunaan kata ada, dalam bahasa Ende, sebagian masyarakat menyebut rhatu separuhnya menyebut zatu dari perpektif dialektologi. (eis). ).(Suara Uniflor,Flores Pos,Sabtu,29/11/2014).

     

     

     

Berita Terkait