Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Lera Wulan Tana Ekan

    2016-05-25 09:09:27
    Images

    Lera Wulan Tana Ekan

    Oleh : Marianus Ola Kenoba

    Sekretaris UPT Humas dan Publikasi

     

    Gegap-gempita disertai sorak-sorai perayaan kemenangan gemilang logos atas mitos menjadi euforia tersendiri dalam abad modernisme. Mitos dengan sengaja ditarik menuju ke titik yang paling marjinal, kemudian digantikan begitu saja dengan istilah teknis, sikap ilmiah-eksak-kritis. Tidaklah berlebihan jikalau segala sesuatu yang dinilai bercorak irrasional disingkirkan sejauh mungkin dan sikap ilmiah-kritis menjadi obsesi tersendiri yang ingin direngkuh oleh manusia moderen. Implikasi logisnya, pesona kemilau nilai-nilai modernisme menyilaukan mata manusia-manusia modern.

    Pesona kemilau dunia modern justru melahirkan tragedi-tragedi kemanusiaan mengerikan yang hampir tak dapat dicarikan solusinya. Berhadapan dengan situasi ini, orang-orang modern mulai mengalami situasi chaos. Kecemasan eksistensial merasuki manusia-manusia yang hidup di dalam abad modern ini karena ketiadaan pegangan nilai hidup. Betatapun demikian kecemasan yang bersifat eksitensial ini, kemudian melahirkan kerinduan yang begitu kuat untuk mereguk kembali ”oase” di tengah tumpukan stereotipe mengenai struktur dunia arhais yang telah lama ditinggalkan.

    Bertolak dari spirit penemuan kembali ”oase” arkhaisme inilah, ingin penulis letakkan konteks pengalaman kesadaran religiositas yang dahulunya pernah dipraktikan oleh orang-orang “arkhais” Flores Timur. Secara kultural-genealogis orang Flores Timur terintegrasi dalam budaya Lamaholot. Menurut pranata bahasa adat, konsep orang-orang Lamaholot mengenai Yang suci disebut dengan istilah  Lera Wulan Tana Ekan (Bapa-Ibu bumi)

    Jika dipandang dari paradigma sosiologis kehidupan masyarakat “lama” Flores Timur dan pola-pola relasional dalam masyarakat dapat dipetakan dalam matriks konseptual struktural-fungsional. Karena secara mendasar masyarakat hidup dalam sebuah komunitas yang saling mengandaikan, dipolakan atau dikelompokan dalam suku-suku (clan) yang jelas. Keberadaan suku-suku asli ini-pun memiliki sistem pembagian kerja yang sedemikian rupa telah terpolakan. Sistem pembagian kerja ini, tidak hanya menyangkut dunia yang bersifat profan semata melainkan juga dipresentasikan secara intens di dalam kultus-kultus yang berhubungan dengan Yang suci.

    Konsep Lera Wulan-Tana Ekan, secara harfiah bisa diterjemahkan dengan matahari dan bumi. Barangkali pada pemahaman yang sifatnya sangat sederhana ini, mau mendeskripsikan sebuah tatanan kosmik yang selaras. Pada tataran yang lebih mendasar, konsep Lera Wulan Tana Ekan, merupakan wujud tertinggi, yang memiliki realitas otonom dan mengatasi segala realitas yang dihadapi oleh manusia. Dengan demikian, dapat ditegasakan bahwa fenomena sistem  religi masyarakat Flores Timur, telah lama terbentuk. Memang dalam masa modern ini, dominasi gereja Katolik dalam sistem religi sangat nampak. Akan tetapi, pemahaman jejak-jejak realitas maupun pemujaan terhadap unsur Yang suci masih dihayati dan dipraktikan oleh orang-orang Lamaholot hingga saat ini.

    Homo religiousus atau (manusia beragama) merupakan term pokok untuk memahami fenomena religi pada masyarakat primitif. Inti dari homo religiosus adalah pengalaman keberimanan manusia yang memberi efek kepuasan batiniah bagi manusia. Pengalaman ini, lebih bersifat mistik dan merupakan inti pengembaraan iman. Bahwa manusia konkrit mengalami hierofani atau penampakan yang justru membawa manusia pada pengalaman satori, (pencerahan) batiniah. Homo relogiosus mendeskripsikan pengalaman kesakralan dan dipenuhi dengan nilai-nilai religius. Implikasinya adalah manusia dapat mengubah pola relasinya yang tidak seimbang dalam tatanan kosmik. Dengan demikian homo religiosus merupakan tipikal ideal dari manusia yang telah mengatasi berbagai fenomena yang melingkupinya. 

    Konsep masyarakat Flores Timur tentang Lera Wulan-Tanah Ekan merupakan gambaran religiositas yang dipraktikkan oleh masyarakat primitif. Melalui cerita rakyat teridentifikasi bahwa keberadaan Lera wulan Tanah Ekan tidak dapat dijangkau oleh manusia, yakni jauh di pangkal langit yang dalam bahasa adat disebut heti kelen rau wadan. Menurut masyarakat primitif Flores Timur, hidup adalah sebuah gerak yang dinamis. Dengan demikian, manusia akan ikut dalam mekanisme alamiah. Akan tetapi, terdapat sebuah kekuatan yang luar biasa yang merupakan sumber energi di dalam hidup.

    Secara simbolik lambang wujud kehadiran Yang suci di dunia disimbolkan dalam bentuk onggokan batu-batu licin dan menjulang yang disebut dengan Nuba Nara. Batu-batuan licin yang dipandang suci ini, pada umumnya ditempatkan di bagian depan Kork’e. Secara semantik, Nuba berarti: muncul, timbul, kuat, dan subur. Sementara itu, Nara berarti: anggota, sekutu, keturunan, dan anak. Namun, dari skemata fenomenologis, Nuba Nara merepresentasikan kehadiran Yang suci di dunia.

    Pengalaman kehadiran Lera  Wulan Tana Ekan, yang dilambangkan dengan Rie Lima Wana, merupakan tanda penyatuan pengalaman manusia dengan yang sacret meminjam konsep Eliade. Jadi Lera Wulan Tana Ekan merupakan fakta inheren yang berisi tentang hakikat religiositas suku Lamaholot. Dalam terang gagasan Eliade, Lera Wulan Tana Ekan bisa dimaknai sebagai unsur Yang Suci dan menampakan diri secara empiris melalui pengalaman hierofani. Pada saat ini, memang Flores Timur lebih dikenal dengan simbol ke-Katolikan dengan berbagai “artefak” dan kultus tradisi keagamaan Katolik. Namun, dalam upacara adat, orang-orang Lamaholot masih meyakini bahwa Lera Wulan Tanah Ekan adalah satu-satunya sumber energi yang menghidupkan.*

    Opin telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor pada Harian Umum Flores Pos edisi 20 Februari 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor


Berita Terkait