Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Lokalitas dalam Sastra NTT

    2015-04-18 09:11:37
    Images

      Lokalitas dalam Sastra NTT

     

    Oleh Yohanes Sehandi

    Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende

     

                Secara umum, konsep lokalitas (bahasa Inggris locality) berkaitan dengan tempat atau wilayah geografis tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah geografis lain. Lokalitas mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang besifat permanen dan jelas yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu.

                Dalam konteks budaya, lokalitas tidak hanya berkaitan dengan tempat atau wilayah geografis tertentu, tetapi juga berkaitan dengan komunitas masyarakat dan kultural yang mendiami wilayah geografis tersebut, termasuk di dalamnya persoalan etnisitas.

                Menurut pengamat dan kritikus sastra Indonesia, Maman S. Mahayana (2012), lokalitas budaya merupakan sebuah wilayah yang masyarakatnya secara mandiri dan arbitrer bertindak sebagai pelaku dan pendukung kebudayaan tertentu. Komunitas masyarakat dan kultural itu mengklaim sebagai warga yang mendiami wilayah tertentu, merasa sebagai pemilik, pendukung kebudayaan tertentu, dan bergerak dalam sebuah komunitas dengan sejumlah sentimen, emosi, harapan, dan pandangan hidup yang dipresentasikan antara lain dalam kesamaan bahasa, adat-istiadat, kebiasaan, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

                Sebagai produk budaya, karya sastra memiliki pengertian lokalitas yang tentu tidak hanya sekadar ruang (space), lokus, tempat (place) atau wilayah geografi yang dibatasi atau berbatasan dengan wilayah lain secara fisikal yang kemudian dalam ilmu sastra disebut sebagai latar (setting), tetapi juga dimaknai sebagai wilayah kultural yang membawa pembacanya pada medan tafsir tentang situasi sosio-kultural masyarakat yang mendekam di balik teks karya sastra.

                Lokalitas dalam sastra, di samping abstraksi tentang ruang, waktu, dan situasi dalam teks yang beku, tetapi juga ruang kultural yang menyimpan sebuah potret sosial, budaya, ekonomi, politik bahkan ideologi yang dipresentasikan melalui tema dan interaksi tokoh-tokohnya dan dinamika kultural yang mengungkapkan dan menyimpan nilai-nilai tentang manusia dan kemanusiaan dalam kehidupannya.

                Dengan penjelasan singkat di atas, maka lokalitas dalam sastra NTT (Nusa Tenggara Timur) dapat dijelaskan dan ditelusuri. Sastra NTT yang kita pahami bersama  adalah sastra Indonesia warna daerah NTT. Sastra NTT lahir dari kegelisahan kultural  sastrawan NTT, yakni sastrawan Indonesia kelahiran NTT atau keturunan orang NTT.

                Hubungan terkait antara teks karya sastra dengan lingkungan masyarakat dan budaya tempat asal-usul pengarang karya sastra tersebut, dijelaskan dengan sangat bagus dalam perspektif teori strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldmann (1913-1970). Menurut Goldmann, karya sastra sebagai struktur yang bermakna mewakili pandangan dunia penulis, tidak saja sebagai individu, tetapi juga sebagai wakil masyarakat dan budayanya.

                Lokalitas dalam sastra NTT tercermin dalam berbagai karya para sastrawan NTT, baik prosa maupun puisi. Sebagian besar sastrawan NTT, yang dalam penelusuran saya sampai dengan saat ini berjumlah sekitar 30 orang, mengangkat lokalitas NTT dengan sangat bagus dalam karya sastra yang mereka hasilkan. Ini sesuatu yang membanggakan kita orang NTT.

                Meskipun saya belum tuntas menelaah buku-buku sastra NTT yang sampai dengan saat ini berjumlah 115 judul buku, namun sejumlah karya sastra NTT dapat disebutkan yang telah mengangkkat lokalitas NTT ke dalam karyanya. Lokalitas NTT saya membaginya dalam tiga wilayah besar, yakni wilayah Timor, Flores-Lembata, dan Sumba.

                Karya sastra NTT yang mengangkat lokalitas wilayah dan kultural masyarakat Timor dan sekitarnya berupa novel dan cerita pendek, antara lain (1) Nostalgia Nusa Tenggara (Gerson Poyk, 1975), (2) Cumbuan Sabana (Gerson Poyk, 1979), (3) Bugenvil di Tengah Karang (Maria Matildis Banda, 1998), (4) Petra Southern Meteor (Yoss Gerard Lema, 2006), (5) Surga Retak (Mezra E. Pallondou, 2007), (6) Badut Malaka (Robert Fahik, 2011), (7) Cinta Terakhir (V. Jeskial Boekan, 2011), (8) Membadai Pukuafu (V. Jeskial Boekan, 2011), (9) Perempuan dari Lembah Mutis (Mezra E. Pellondou, 2012), (10) Likurai untuk Sang Mempelai (Robert Fahik, 2013).

                Karya sastra NTT yang mengangkat lokalitas wilayah dan kultural masyarakat Flores-Lembata dan sekitarnya berupa novel dan cerita pendek, antara lain (1) Poti Wolo (Gerson Poyk, 1988), (2) Enu Molas di Lembah Lingko (Gerson Poyk, 2005), (3) Lembata (F. Rahadi, 2005), (4) Ata Mai (Maria D. Andriana, 2005), (5) Atma Putih Cinta Lamahala Kupang (Pion Ratulloly, 2010), (6) Loe Betawi Aku Manggarai (V. Jeskial Boekan, 2011).

    Selanjutnya, karya sastra NTT yang mengangkat lokalitas wilayah dan kultural Sumba dan sekitarnya berupa novel, antara lain (1) Loge (Mezra E. Pellondou, 2008), (2) Nama Saya Tawe Kabota (Mezra E.Pellondou, 2008), (3) Perempuan Itu Bermata Saga (Agust Dapa Loka, 2011), (4) Mata Liku (Christo Ngasi, 2013).

    Sedangkan untuk karya sastra puisi yang mengangat lokalitas wilayah geografis dan kultural masyarakat NTT, saya baru temukan dalam empat buku kumpulan puisi, yakni (1) Doa-Doa Semesta (John Dami Mukese, 1983), (2) Puisi-Puisi Jelata (John Dami Mukese, 1991), (3) Ketika Cinta Terbantai Sepi (Usman D. Ganggang, 2011), (4) Samudra Cinta Ikan Paus (Bara Pattyradja, 2013).

    Kajian terhadap lokalitas dalam sastra NTT atau lokalitas NTT dalam sastra ini sangat menarik dan menantang kaum akademisi sastra di NTT untuk meneliti dan menelaahnya, karena kajian ini akan memasuki wilayah sosiologi sastra dan antropologi sastra yang sungguh menarik dan akan mengangkat kekhasan dan keunikan kultural masyarakat NTT di tingkat nasional dan internasional.

    Secara sosiologis, sastrawan NTT adalah anggota masyarakat NTT, makhluk sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Maka ketika sastrawan NTT memutuskan untuk mengungkapkan kegelisahannya sebagai tanggapan evaluatif atas segala problema sosial budaya yang terjadi dalam komunitas budayanya, representasinya terakumulasi dalam teks karya sastra yang dihasilkannya.       

    Dengan demikian, karya sastra NTT dapat dijadikan semacam referensi sebagai pintu masuk untuk menyelami dan menelusuri secara lebih mendalam kebudayaan-kebudayaan yang beragam dalam komunitas masyarakat Provinsi NTT ini. *

    (Telah dimuat harian Pos Kupang (Kupang) pada Rabu, 1 Oktober 2014).

Berita Terkait