Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Mata Air: Keniscayaan bagi Pejabat

    2015-04-14 08:57:29
    Images

    Mata Air: Keniscayaan bagi Pejabat

                                                                 

             Oleh Dr. Pius Pampe, M.Pd.

                 Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

               Dosen Program Studi PBSI, Universitas Flores, Hp 081337476837

     

    Tanggal 31 Desember 2013 Gubernur NTT, Frans Lebu Raya melantik sejumlah pejabat dalam jabatan pemerintahan Provinsi NTT sesuai dengan eselon yang dimilikinya. Yang dilantik adalah pejabat-pejabat muka lama yang hanya dimutasikan ke instansi lain dalam kedudukan sama, di samping ada juga yang menduduki kursi lebih tinggi dari kedudukan sebelumnya sebagai promosi jabatan.

    Pascapelantikan, muncul reaksi-reaksi bernada miring, seperti Gubernur NTT bermain halus, sarat muatan politis, menduduki jabatan dalam instansi ”mata air” dan “air mata, tidak sesuai dengan disiplin ilmu, sejumlah pejabat eselon II dikandangkan, dan yang lain dibuang ke tong sampah. Kedua hal yang disebutkan terakhir bergayut dengan pejabat eselon II yang dimutasikan menjadi staf ahli. Reaksi-reaksi seperti ini adalah bentuk turn giving dari orang-orang yang antipati atas keputusan itu, sehingga gubernur sebagai turn getting mendapat celaan.

    Memang wajar, mengingat manusia adalah homo volens, yakni makhluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan tertentu. Gubernur yang memilih dan melantik pejabat-pejabat itu juga digerakkan keinginginan-keingginan tertentu, terutama menjadikan instansi yang dipimpinnya  semoga menjadi “mata air” dan bukan menjadi “air mata” bagi warga masyarakat NTT khususnya.

    “Mata air” demikianpun “air mata” adalah ungkapan luapan emosi dalam bentuk metaforis yang sarat dengan kebencian dan penyesalan yang digerakkan oleh naluri tenathos-destruktif dan agresif sehingga mampu menembus benteng naluri eros. Kekecewaan akibat tidak menjadi bagian ataupun tempatnya kurang cocok dalam kabinet sang pengambil keputusan  termanivestasi dalam komunikasi tanpa berpikir viktimisme yang ditopang pula oleh koginitif-disonantif, yakni suatu objek yang diungkapkan mengendap dua pengetahuan yang isinya kontras, ibarat pengetahuan tentang rokok, di satu sisi yang menyenangkan, namun pada sisi lain merugikan kesehatan. Pola pikir ini akan menohok image pembaca dan pendengar, terutama pejabat terlantik yang dianggap kursi yang didukinya kurang pas, termasuk gubernur menjadi diri yang disonansi, kendatipun telah bertekad menjadi pejabat bagaikan  “mata air” dan bukan  “air mata”

    Pejabat “mata air” dan “air mata” masing-masing dipahami secara stipulatif yang penuh dengan plesetan ini bermakna identik dengan makna sebagimana yang lazim dipahami oleh publik, terutama kalangan-kalangan pejabat, yakni orang-orang  yang menduduki  tempat basah dan gemuk yang konon sehari-hari mati-matian berpikir mengelola proyek, seperti pada SKPD Pekerjaan Umum, Pendidikan Pemuda dan Olahraga, dan Kesehatan. Menjadi kepala dinas pada instansi tersebut adalah suatu “kerinduan.” Sebaliknya, pejabat bagaikan “air mata” adalah pejabat yang menduduki tempat kering dan kurus yang setiap tahun jarang berurusan dengan proyek.  Khusus  pejabat bagaikan “mata air,” maknanya yang paling hakiki dapat dipahami bila  dihubungkan dengan sains, terutama  yang terkait dengan asal-mula segala yang ada (arche) yang dapat dijangkau oleh indra manusia.

    Adalah Thales (640-546 SM) filsuf pertama Yunani yang berpikir dan mempertanyakan tentang  asal-mula dari segala yang ada di alam ini. Dalam perkelanaan yang tak pernah lelah ketika mencari cahaya kebenaraan indrawi, disimpulkannya bahwa asal-mula atau segala yang ada bersumber dari air. Secara empirik, memang air tak mengalir begitu saja tanpa mata air, sehingga mata air adalah sumber yang memiliki pelbagai dimensi, di antaranya dimensi fisiologis, magis, dan ekologis. 

    Berdimensi fisiologis ditandai oleh ciri  ada di hutan yang dikelilingi pohon, batu-batuan, dan di sekitarnya subur. Yang menunjukkan dimensi magis terkait dengan pandangan tradisional yang mengedepankan mata air dijaga makhluk halus yang selalu disembah sujud melalui  sesajen. Dimensi ekologis ditandai dengan kelestarian alam dan melarang menebang pohon di wilayah mata air.

    Mata air dalam pemahaman sains seperti ini mestinya menjadi dasar filosofi yang dapat menjadi “kenisyaan” bagi pejabat eselon yang dilantik di lingkup Pemda NTT, kenditipun tidak hadir secara eksplikatur dalam kata-kata pelantikan. Artinya, sungguh menjadi pengabdi masyarakat yang memberikan kesuburan untuk memakmuran masyarakat NTT sebagaimana tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang hidup di sekitar mata air sangat subur nan hijau.

    Yang dipikirkannya adalah apa yang harus dilakukannya untuk menjadi (what ought to be) yang dipadukan dengan apa yang dilakukan untuk menjadi (what can do for to be). Yakin dan percaya, filosofi mata air seperti ini, juga menjadi hasrat, niat, dan kehendak yang hadir secara  implikatur dalam hati dan jiwa gubernur sebagai pejabat yang melantik, mulai saat proses penjaringan dan penyaringan hingga pada pelantikan.

    Dalam proses itu, keraguan publik juga dibenarkan, manakala pejabat yang dilantik itu tidak menyemaikan filosofi air mata namun memandang jabatan diembannya adalah sebuah pembuangan ke bak sampah, termasuk SKPD yang dipimpinnya dikategorikan SKPD kering, karang, dan kersang yang berpeluang hanya mengeluarkan air mata sehingga tak ada waktu berpikir serius membangun masyarakat NTT.

    (Flores Pos, Sabtu, 25 Januari 2014).     

     

     

Berita Terkait