Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Melacak Jejak Novel dalam Sastra NTT

    2015-04-16 16:00:57
    Images

    Melacak Jejak Novel dalam Sastra NTT

     

    Oleh Yohanes Sehandi

    Dosen Universitas Flores, Ende,

    Penulis Buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT

                           

                Usaha melacak jejak novel dalam sastra NTT tidaklah gampang. Kendala utama yang dihadapi adalah ketiadaan buku atau tulisan sebagai referensi. Satu-satunya referensi yang saya pakai yang kemudian saya kembangkan adalah buku saya sendiri, Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2012).

    Buku ini sendiri adalah kumpulan artikel opini sastra yang telah dipublikasikan oleh sejumlah media cetak di NTT yang sempat menjadi bahan diskusi bahkan polemik sejak akhir tahun 2011 sampai pertengahan 2012. Artikel-artikel opini sastra dalam buku inipun murni hasil pelacakan saya pribadi terhadap sastra dan sastrawan NTT.

                Menurut hemat saya, novel dalam sastra NTT itu lahir pada saat orang NTT pertama kali menulis dan menerbitkan karya novelnya dalam bahasa Indonesia kepada masyarakat umum. Siapakah orang NTT pertama yang menulis dan menerbitkan novel kepada masyarakat umum?

    Setelah melalui proses penelusuran yang panjang dan agak rumit terhadap sejumlah data dan informasi yang ada, akhirnya saya menemukan orang NTT pertama yang menulis dan menerbitkan novel. Orang yang sangat berjasa itu adalah Gerson Poyk. Gerson Poyk lahir pada 16 Juni 1931 di Namodale, Kabupaten Rote Ndao, kini berusia 82 tahun. Nama-nama orang NTT yang lain baru muncul kemudian setelah Gerson Poyk merintisnya.

    Gerson Poyk menerbitkan novel pertama kali pada tahun 1964 (49 tahun lalu). Pada tahun 1964 Gerson Poyk menerbitkan novel pertamanya berjudul Hari-Hari Pertama (BPK Gunung Mulia, Jakarta). Novel Gerson yang kedua berjudul Sang Guru terbit tahun 1971.  Novel yang ketiga berjudul Cumbuan Sabana terbit tahun 1979 oleh Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Sampai dengan Desember 2013 ini Gerson Poyk telah menerbitkan karya sastra berbentuk novel sebanyak 12 judul buku, namun menurut sejumlah pengamat sastra, masih sekitar 1/3 karya Gerson yang belum ditemukan dan perlu terus ditelusuri. Pada waktu ditanyakan, beliau sendiri tidak ingat lagi jumlah karya sastra berbentuk novel yang telah diterbitkannya. 

    Berdasarkan hasil penelusuran saya terhadap novel-novel karya para sastrawan NTT sejak pertama kali terbit tahun 1964 sampai dengan Desember 2013 (dalam rentang waktu 49 tahun) hanya berjumlah 48 judul buku novel. Rata-rata satu tahun hanya menghasilkan satu novel.

    Ke-48 judul buku novel karya para sastrawan NTT itu adalah (1) Hari-Hari Pertama (Gerson Poyk, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1964, 1968); (2) Sang Guru (Gerson Poyk, Pustaka Jaya, Jakarta, 1971, 1973); (3) Tuhan Jatuh Hati (Julius Sijaranamual, 1971); (4) Menaklukkan Benua Baru (Julius Sijaranamual, 1971); (5) Anak-Anak Laut (Julius Sijaranamual, 1971); (6) Teo Si Cilik (Julius Sijaranamual, Nusa Indah, Ende, 1975); (7) Saat untuk Menaruh Dendam dan Saat untuk Menabur Cinta (Julius Sijaranamual, 1978); (8) Cumbuan Sabana (Gerson Poyk, Nusa Indah, Ende, 1979); (9) Petualangan Dino (Gerson Poyk, Nusa Indah, Ende, 1979); (10) Giring-Giring (Gerson Poyk, 1982); (11) Seharusnya Aku Mengerti (Maria Matildis Banda, 1989); (12) Pada Taman Bahagia (Maria Matildis Banda, Grasindo, Jakarta, 1997); (13) Tabitha (Maria Matildis Banda, 1997); (14) Liontin Sakura Patah (Maria Matildis Banda, Grasindo, Jakarta, 1998); (15) Bugenvil di Tengah Karang (Maria Matildis Banda, Grasindo, Jakarta, 1998); (16) Pulang (Mezra E. Pellondou, 2000); (17) Rabies (Maria Matildis Banda, Care Internasional, Kupang, 2001); (18) Klise Hitam Putih (Mezra E. Pellondou, 2002); (19) Surat-Surat dari Dili (Maria Matildis Banda, Nusa Indah, Ende, 2005); (20) Enu Molas di Lembah Lingko (Gerson Poyk, Yayasan Trimedia, Jakarta, 2005, (21) Petra Southern Meteor (Yoss Gerard Lema, Gita Kasih, Kupang, 2006); (22) Surga Retak (Mezra E. Pellondou, Kairos, Kupang, 2007); (23) Loge (Mezra E. Pellondou, Frame Publishing, Yogyakarta, 2008); (24) Nama Saya Tawwe Kabota (Mezra E. Pellondou, Frame Publishing, Yogyakarta, 2008); (25) Zico & Nina (Yoss Gerard Lema, Gita Kasih, Kupang, 2008); (26) Cleo Kemarilah (Fanny J. Poyk, 2009); (27) Pelangi di Langit Bali (Fanny J. Poyk, 2009); (28) Sang Sutradara dan Wartawati Burung (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (29) Tarian Ombak (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (30) Meredam Dendam (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (31) Seruling Tulang (Gerson Poyk, Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (32) Atma, Putih Cinta Lamahala Kupang (Pion Ratulloly, Perum PNRI, Kupang, 2010); (33) Perempuan Itu Bermata Saga (Agust Dapa Loka, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2011); (34) Badut Malaka (Robert Fahik, Cipta Media, Yogyakarta, 2011); (35) Belis Imamat (Inyo Soro, 2011); (36) Cinta Terakhir (V. Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang, 2011); (37) Membadai Pukuafu (V. Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang, 2011); (38) Loe Betawi Aku Manggarai (V. Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang, 2011); (39) Perempuan dari Lembah Mutis (Mezra E. Pellondou, Frame Publishing, Yogyakarta, 2012); (40) Dua Malam Bersama Lucifer (Buang Sine, Andi, Yogyakarta, 2012); (41) Rumah Lipatan (Kopong Bunga Lamaruran, 2012); (42) Nyoman Sulastri (Gerson Poyk, Libri, Jakarta, 2012); (43) Seribu Malam Sunyi (Gerson Poyk, Libri, Jakarta, 2012); (44) Luka Batin yang Tersisa (Fanny J. Poyk, 2013): (45) Petualangan Bersama Malaikat Jibrail (Buang Sine, Andi, Yogyakarta, 2013); (46) Aku? (Yos Mau, Medium, Bandung, 2013); (47) Janji Sabana (Misel Gual, (2013); dan (48) Likurai untuk Sang Mempelai (Robert Fahik, Cipta Media, Yogyakarta, 2013).

    Karya sastra NTT sebagai produk budaya intelektual orang-orang NTT yang beragam suku, adat-istiadat, bahasa, dan budaya yang multikultural, dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang, dalam rentang jangka waktu selama 49 tahun, angka 48 buku novel ini dinilai masih sangat kurang. Apalagi, sebagian buku sastra NTT ini pada saat ini sulit ditemukan di pasaran buku dan perpustakaan, karena tidak dicetak ulang oleh penerbit maupun oleh pengarangnya.

    Dari segi produktivitas, sastrawan NTT yang sangat produktif adalah Gerson Poyk sendiri, telah menerbitkan 12 buku novel. Gerson juga telah menerbitkan 14 buku kumpulan cerpen. Novelis NTT yang sedikit mengikuti produktivitas Gerson Poyk adalah Maria Matildis Banda (7 novel), Mezra E. Pellondou (6), Julius Sijaranamual (5), sedangkan yang lain baru menerbitkan 3, 2, dan 1 novel.

    Beberapa tahun terakhir ini ada fenomena menarik dalam penulisan novel di NTT. Novelis Vincentcius Jeskial Boekan muncul pertama kali tahun 2011 dengan tiga  judul novel sekaligus, setelah itu vakum. Novelis NTT Buang Sine (polisi di Polda NTT) tampil fenomenal dengan menerbitkan dua novel, yakni novel Dua Malam Bersama Sucifer (2012) dan Petualangan Bersama Malaikat Jibrail (2013). Kedua novel ini sangat laris, sampai kini sudah terjual puluhan ribu eksemplar. (Telah dimuat dalam harian Victory News (Kupang) pada Rabu, 8 Januari 2014).

     

Berita Terkait