Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Memahami Arah Pendidikan dari Kampung Menuju ke Kampung

    2016-05-25 10:51:31
    Images

    Memahami Arah Pendidikan dari Kampung Menuju ke Kampung

    Oleh : Frumensius B. Dole, S.Fil., M.Pd

    Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Flores

    E-mail: dolefrumenn@gmail.com; Hp: 081236136219

     

    Pendidikan merupakan sesuatu  yang hakiki dan eksistensial bagi kehidupan manusia (Drikarya, 1980: 37-41). Disebut hakiki dan eksistensial karena menyangkut  eksistensi manusia atau cara manusia berada yang khas  di dunia. Cara berada yang khas tersebut adalah caranya menjadi manusia, menjadi manusiawi dan berperikemanusiaan. Sesuatu yang secara esensial membedakannya dari makhluk lain. Karena itu pendidikan adalah sesuatu yang khas insani, yang hanya terjadi pada manusia dan hanya dapat dijalani oleh manusia. Tidak mungkin ada pendidikan tanpa manusia dan sebaliknya tidak ada manusia yang dapat hidup dengan kualitas kemanusiaan yang utuh tanpa pendidikan karena manusia membutuhkan pendidikan untuk mengangkat martabat kemanusiaannya.

    Cara berada manusia yang khas di dunia adalah sosialitasnya. Adanya manusia di dunia adalah ada yang bukan dari ketiadaan dan ada yang tidak sendirian. Manusia ada dari yang telah ada sebelumnya dan adanya selalu dimaknai sebagai ada bersama manusia yang lain. Manusia tidak bisa berkembang  dan menjadi diri  sendiri tanpa hubungan  dengan manusia-manusia lain. Karena itu, pendidikan secara hakiki melekat pada eksistensi manusia sesungguhnya juga menyangkut relasi manusia dengan  manusia lain. Manusia yang saling memberi arti dan menyempurnakan. Dengan demikian, pendidikan sebagai sesuatu yang khas insani bertitik awal di kampung, tempat manusia tinggal, tempat manusia menyatakan dirinya, bertemu dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Dari sana pendidikan terbentuk dalam tahap yang paling dasar, dengan pemahaman yang sangat umum sebagai proses pengembangan potensi manusia yang bertumbuh dari waktu ke waktu dengan menggunakan naluri, akal, dan rasa.

    Pendidikan yang secara dasariah terjadi di kampung dalam relasi antaranggota masyarakat adalah pendidikan yang kemudian dilembagakan secara formal oleh kehadiran dan peran negara. Kebijakan dan tujuan pendidikan pun diatur secara yuridis formal oleh negara demi menjamin tercapainya tujuan dan cita-cita bangsa. Untuk kelancaran dan keberhasilan pendidikan inilah, dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang inilah menjadi patokan bagi pemerintah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Tujuan pendidikan nasional kita digariskan dalam Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003, yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

    Pasal tersebut menunjukkan bahwa tujuan pendidikan kita sangatlah erat berkaitan dengan kualitas-kualitas hidup yang dibutuhkan bukan saja dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga relasi dengan sesama manusia dan lingkungan. Sampai pada titik ini jelaslah bahwa kita tidak mungkin lagi menghindar dari pendidikan karakter. Tujuan pendidikan nasional secara mutlak telah menjadikan pendidikan karakter sebagai hal yang tidak mungkin hilang dari penyelanggaran pendidikan di negeri ini.

    Atas dasar inilah, pendidikan kita harus dikelola dengan baik dan benar agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, siap menghadapi dunia masa depan yang penuh dengan problema dan tantangan, serta memiliki karakter mulia, yakni kepandaian sekaligus kecerdasan, kreativitas tinggi sekaligus sopan dan santun dalam berkomunikasi, serta kejujuran dan kedisiplinan sekaligus tanggung jawab yang tinggi. Dengan kata lain, pendidikan harus mampu mengemban misi pembentukan karakter sehingga peserta didik dan para lulusannya dapat berpartisipasi dalam mengisi pembangunan tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter mulia (Marzuki, 2012). Pendidikan di setiap jenjang, harus dirancang dan diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut.

    Dengan melihat besarnya porsi tuntutan pencapaian berupa soft skil dalam tujuan pendidikan, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa tujuan pendidikan kita lebih menekankan pada kepemilikan karakter mulia oleh peserta didik. Kepemilikan karakter yang mulia menjadi harapan dan arah ke mana haluan perahu pendidikan kita diarahkan. Itu berarti, meminjam bahasa Aristoteles  (384-322 SM) yang mendefinisikan karakter sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar dalam hubungan antara seseorang dengan orang lain (Lickona 2012:81). Tujuan pendidikan nasional kita adalah menjadikan peserta didik memiliki kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar dalam hubungan antara seseorang dengan orang lain.

    Definisi karakter oleh Aristoteles maupun tujuan pendidikan nasional kita ternyata kembali menunjuk kampung, tempat manusia berinteraksi sebagai arah akhir pendidikan. Demikianlah mestinya pendidikan kita, dari relasi antarmanusia menuju kepada relasi antarmanusia, dari kampung, menuju ke kampung.*

    Opin telah diterbitkan  pada Rubrik Suara Uniflo,  Harian Umum Flores Pos edisi 23 Maret 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor


Berita Terkait