Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Membaca sebagai Proses Belajar Mandiri

    2015-04-21 08:26:18
    Images

    Membaca sebagai Proses Belajar Mandiri

     

    Oleh Florentianus Loja

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Semester VIII,

    Universitas Flores, Hp 082359262553

     

    Belajar merupakan proses awal perkembangan seseorang. Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan dalam dirinya, terutama pola pikirnya. Potensi dirinya akan bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Dia akan memiliki daya kritis, kreatif, dan inovatif. Sebagai manusia yang terus melangkah maju, seseorang belajar tidak kenal batas waktu. Istilahnya, belajar sepanjang hayat masih dikandung badan.

    Proses belajar dimulai sejak kita lahir sampai mati. Kita belajar dari ibu tentang kasih sayang, rendah hati, jujur, serta sopan-santun. Belajar dari ayah tentang kerja keras, tanggung jawab, rela berkorban, dan disiplin. Semuanya itu  menuntut kita untuk mengalami  pengalaman berharga dari belajar. Dalam proses belajar peran para guru juga tidak kala pentingnya, mulai dari guru TK/SD sampai SMA/SMK, juga dari dosen pada waktu kuliah.

    Aron Quinn Sartain, mendefenisikan belajar sebagai suatu perubahan perilaku hasil pengalaman dan pelatihan. Pada dasarnya belajar merupakan suatu perubahan perilaku ke arah positif, yang tentunya membutuhkan pertimbangan kritis dan bijaksana.

    Banyak ragam dan jenis belajar yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan perubahan perilaku ke arah yang positif. Salah satu jenis belajar yang paling efektif dan efisien adalah dengan membaca. Adapun tujuan akhir dari belajar, termasuk belajar secara mandiri dengan membaca agar kita menjadi peribadi yang unggul, kreatif, kritis, dan inovatif. Tentang keempat hal ini, penulis menguraikannya berikut ini.

    Pertama, belajar untuk menjadi pribadi unggul. Artinya, dengan belajar kita bisa menjadi manusia atau peribadi yang memiliki kualitas hidup dan moral yang baik, beriman, cerdas secara intelektual maupun secara sosial, sehat jasmani dan rohani. Kita bisa hidup bersama dengan orang lain, memiliki etos kerja tinggi dengan mengedepankan etika dan moral, sopan-santun, menghargai nilai budaya baik yang bersifat lokal maupun nasional. Dengan pribadi yang unggul tentu tidak terlepas dari perhatian serius dari semua pihak, misalnya orang tua, guru, dosen, masyarakat, dan pemerintah, dalam membangun dan mencipatakan suatu generasi yang unggul.

    Kedua, belajar untuk menjadi peribadi kreatif. Artinya, menjadi peribadi yang memiliki pola pikir yang terus berkembang, berani menciptakan sesuatu yang baru sesuai dengan potensi yang dimiliki, baik potensi energi maupun potensi gagasan kreatif, ide cemerlang yang perlu dikembangkan, serta potensi di luar diri yang membutuhkan kreativitas dalam menumbuh dan mengembangkannya.

    Ketiga, belajar untuk menjadi peribadi kritis. Artinya, sebagai homo sapiens (makhluk  yang berpikir) kita harus memiliki sifat kritis dalam menilai, bertindak, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan kritis pula secara baik dan benar. Dalam kehidupan kita setiap hari, kita menemui banyak problema sosial yang terjadi di sekitar kita yang menuntut kita untuk menilai dan mengambil sikap atau keputusan secara kritis dan bijaksana.

    Keempat belajar untuk menjadi peribadi inovatif. Artinya, peribadi yang selalu memiliki banyak ide atau gagasan baru dalam dirinya, serta mencarai cara kreatif agar ide-ide yang dimilikinya bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang kita lihat sangat sukses dalam hidupnya, hal ini tentu karena daya inovasi mereka dalam menerapkan ide-ide yang mereka miliki.

    Dalam mewujudkan suatu generasi  unggul, kreatif, kritis, dan inovatif dibutuhkan peran serta berbagai pihak dalam menumbuh dan mengembangkan sifat-sifat tersebut kepada generasi muda. Selain peran serta berbagai pihak, yang paling penting adalah peran utama kita sendiri sebagai generasi muda, baik sebagai pelajar maupun mahasiswa.

    Kita perlu mengembangkan apa yang telah diberikan atau diajarkan, baik berupa ilmu pengetahuan (hard skill), maupun soft skill atau keterampilan mengelola diri-sendiri dan orang lain, tanggung jawab, disiplin, jujur, sopan-santun, rajin membaca, dan bergaya hidup hemat. Sebagai manusia pembelajar, penting juga bagi kita untuk mengembangkan dan menambah pengetahuan kita dengan banyak membaca sebagai suatu preoses belajar secara mandiri.

    Dengan menjadikan membaca sebagai kebiasan yang mandiri akan membawa pengaruh besar dalam diri kita (merefleksi diri), serta memiliki cakrawala berpikir yang luas dan mampu berbicara dan bertindak secara baik dan benar. Banyak di antara kita para pelajar/mahasiswa yang jarang sekali membaca buku, majalah, dan surat kabar. Bahkan ada yang menganggap membaca sebagai sesuatu yang membosankan, tidak penting, sehingga banyak pelajar dan mahasiswa lebih suka untuk mengakses internet daripada membaca buku, majalah, dan surat kabar. Ada kecenderungan lebih suka pada hal-hal yang kurang serius daripada hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan profesionalisme.

    Budaya membaca sebagai proses belajar mandiri harus dijadikan sebagai kebiasan dalam diri kita masing-masing. Dengan membaca kita bisa menjadi pribadi yang unggul, kreatif, kritis dan inovatif dalam berpikir dan bertindak terhadap diri sendiri, orang lain,  bangsa, dan negara. Jadikan peribadi yang mencintai budaya membaca sebagai proses belajar mandiri.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Rabu, 18 April 2015).

Berita Terkait