Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Membaca: Sumber Energi Menulis

    2017-01-18 11:55:54
    Images

    Membaca: Sumber Energi Menulis

    Oleh Marianus Ola Kenoba

    Sekretaris UPT Publikasi Universitas Flores

    Goenawan Muhamad sastrawan garda depan Indonesia pernah mengungkapkan bahwa pengalaman menulis itu mirip-mirip dengan pengalaman berlatih mengendarai sepeda onthel. Anda yang pernah belajar naik sepeda, pasti merasakan betapa tidak selalu mudah serta-merta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mampu menggenjot sadel sepeda secara benar.

    Jatuh-bangun adalah pengalaman yang sudah lumrah. Sehingga hanya orang-orang yang tekun berlatihlah yang dimungkinkan menguasai “seni” mengendarai sepeda secara benar. Demikian pula halnya dengan seni menulis. Keterampilan atau skill menulis secara logis, sistematis, dan imajinatif membutuhkan “energi” plus untuk melakukan eksperimen berkali-kali.

    Menyandang status mahasiswa acapkali menuntun imajinasi orang melambung nun jauh ke angkasa. Betapa posisi kemahasiswaan sudah mulai diakui atau minimal diperhitungkan di dalam masyarakat. Diskusi-diskusi kecil di pelosok sering memperlihatkan bahwa status kemahasiswaan cenderung diperlakukan sebagai “species” khusus dan bukan tidak mungkin dijadikan “kamus” pengetahuan. Kendatipun kadang terselip perasaan risih karena pengalaman empirik di kampus, tidaklah sedemikian istimewa.

    Apa mau dikata imajinasi masyarakat awam adalah bagian dari imajinasi mereka atas dunia kampus. Kalau demikian kenyataannya, maka identitas sebagai mahasiswa menjadi problematis karena idealnya status mahasiswa menuntut responsibilitas etis. Belum lagi menyangkut tuntutan-tuntutan akademis yang praktis-perlu dilakoni selama berada di dalam “rahim” Alma mater. Tuntutan akademis itu berupa keterampilan membaca, menulis, dan berbicara secara ilmiah.

    Apakah tuntutan dasar akademis ini menjadi problematis? Sejauh pengalaman penulis mendampingi mahasiswa memang ada masalah, bahkan boleh dikatakan mendesak untuk diatasi. Salah satu adalah bertolak dari produksi teks ilmiah mahasiswa. Teks ilmiah yang dihasilkan itu memperlihatkan bahwa betapa rumitnya mahasiswa mendeskripsikan gagasan-gagasan mereka secara koheren, sistematis, dan logis.  Hemat saya, permasalahan ini dapat diatasi dengan persiapan membaca sebaik mungkin.

    Seorang sahabat pernah mengeluh pada penulis bahwa ia sungguh mengalami kesulitan untuk merampungkan tulisan ilmiahnya. Padahal secara akademik, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sahabat penulis ini tergolong dalam kategori “summa cum laude”. Ternyata kendala menulis karya ilmiah sahabat ini terletak pada minimnya pengalaman membaca.

    Pengalaman seorang sahabat mengenai problema menulis di atas sebetulnya banyak juga penulis temukan pada sebagian besar mahasiswa, terutama di saat menulis skripsi. Sebelum bertemu dengan jadwal pembimbingan dalam menulis skripsi, pada umumnya para mahasiswa lebih sering menghabiskan waktu luangnya untuk aktivitas-aktivitas yang tidak terlalu produktif. Namun, ketika tiba saatnya untuk menulis skripsi, maka berbondong-bondonglah mahasiswa mulai mengunjungi perpustakaan. Padahal pada waktu sebelumnya posisi perpustakaan analog dengan museum tua ketimbang dipahami sebagai sumber segala pengetahuan yang dibutuhkan oleh mahasiswa.

    Ilustrasi menyangkut perilaku intelektual mahasiswa di atas sebetulnya mau memperlihatkan “virus” kegamangan yang cenderung “diderita” mahasiswa. Apabila ada tuntutan untuk menulis paper, ringkasan materi, atau skripsi barulah mahasiswa mulai “bersentuhan” atau menjajaki isi buku. Kalau demikian, maka tidaklah mengherankan bobot karya ilmiah mahasiswa hampir tidak pernah mencapai titik optimum.

    Pada tataran ini dapat dinyatakan bahwa seluruh teks tertulis dalam hal ini buku dengan kategori apapun adalah sahabat terbaik dalam menemani ziarah akademis kita. Melalui aktivitas membaca pikiran seseorang semakin terbuka, horizon pengetahuanpun semakin luas, dan dengan sendirinya paradigma berpikir kitapun semakin bertambah luas. Jikalau seseorang memiliki kultur membaca maka pekerjaan menulis makalah ilmiah, bahkans kripsi sekalipun bukan seharusnya menjadi momok yang menakutkan.

    Dalam sebuah fórum bedah buku, penulis pernah bertanya pada seorang penulis kawakan Romo Sindhunata, SJ mengenai strategi menulis dan bagaimana memberi “roh” pada sebuah tulisan. Jawaban Romo cukup sederhana ”membacalah dan jangan pernah berhenti berlatih menulis”. Strategi menulis sebagaimana dianjurkan oleh Romo Sindhu itu mengandaikan dua kata kunci yang praktis perlu dicermati.

    Ketika ingin menulis sesuatu, sebetulnya tidak mulai dari titik nol, seperti dunia seorang bayi yang masih bersifat tabula rasa. Pengalaman keseharian dan lebih-lebih pengalaman perjumpaan seseorang melalui aktivitas membaca merupakan “sumur” pengetahuan yang hampir tidak pernah kering karena inspirasi menulis sesungguhnya berasal dari “sumur” pengetahuan itu sendiri. Jadi, pada intinya untuk bisa menulis kita perlu memiliki pengalaman membaca. Selain kebiasaan membaca kita juga perlu berlatih menulis secara terus-menerus. Mustahil kita memiliki skill menulis secara kritis, logis, sistematis, dan imajinatif jikalau kita tidak pernah sedikit-pun melakoni latihan menulis.

    Karena skill dan kemampuan menulis itu bukan merupakan faktor genetika maka tidak perlu takut saat diminta membuat opini, makalah, laporan penelitian, laporan Tugas Akhir (LTA) maupun skripsi. Namun, untuk mencapai tahap kematangan dalam menulis butuh perjuangan penuh resiko. Butuh kedisiplinan dalam mengelola dan membagi ruang-ruang waktu kita untuk sekian aktivitas. Jadi, kematangan dalam menulis itu tidak jatuh dari langit. Pun tidak seperti pepatah orang kejatuhan duren melainkan melalui perluasan pengalaman membaca dan latihan menulis secara intens. Sehingga hanya orang-orang yang tekun berlatilah yang mampu survive dalam dunia tulis-menulis.*

     

Berita Terkait