Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Membangun Kultur Damai di Sekolah

    2015-04-19 21:17:38

    Membangun Kultur Damai di Sekolah

                                                                                 

     Oleh Drs. Yosef Moan Banda, M.Pd

    Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi, FKIP,

    Universitas Flores, Hp 081339381258

     

                Kultur atau budaya merupakan seluruh proses dan hasil karya manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya untuk kehidupan manusia yang lebih baik (Poespowardojo,1989). Ketika manusia mengalami konflik, budaya muncul sebagai faktor yang dapat meredam konflik. Oleh sebab itu, siapapun yang berusaha menangani konflik harus memiliki pemahaman memadai tentang konteks budaya pihak-pihak yang terlibat konflik, apalagi melibatkan para pihak yang berbeda latar budaya.

                Budaya perdamaian berusaha mempertahankan keseimbangan kreatif antara ikatan, kedekatan, dan kebutuhan masyarakat yang memisahkan ruang gerak kehidupan manusia. Sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam pengembangan kultur perdamaian harus menerapkan model-model kecakapan yang diorganisasi benar sebagai suatu sumber pendidikan. Kultur (budaya) adalah salah satu model kecakapan yang diorganisasi itu.

                Sistem nilai budaya ditanamkan sejak dini dalam diri anak didik, baik dalam  keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Persoalan nilai budaya paling berharga dalam kehidupan. Kultur perdamaian dapat terpelihara manakala semua anggota warga menaati pedoman tingkah laku, adat-istiadat, sistem norma, aturan etika, moral serta sopan-santun yang dijadikan sebagai ideologi masing-masing pribadi.

                Banyak kejadian di sekolah yang tidak mencerminkan kultur perdamaian. Misalnya, guru memukul murid, murid juga terkadang memukul guru, guru melakukan tindakan amoral terhadap anak didiknya. Antara sekolah sering terjadi tawuran para siswa yang dapat merenggut nyawa.

                Mengapa hal-hal seperti ini terjadi? Antara lain karena (1) adanya kontradiksi dalam sistem persekolahan kita, (2) adanya kekecewaan terhadap kondisi dan situasi kenyamanan sekolah, (3) model-model kecakapan kultur perdamaian di sekolah belum terorganisasi baik sebagai sumber pendidikan, (4) lunturnya kultur perdamaian dalam kelompok, dan (5) hilangnya norma hidup dan nilai budaya yang menjiwai pedoman tingkah laku masyarakat.

                Menurut Colman Mc Carthy (2001), fungsi sekolah adalah mendidik perdamaian kepada anak dirik. “Jika kita tidak mendidik anak-anak kita tentang perdamaian, suatu saat nanti orang lain yang akan mengajarkan mereka berperang.”

                Adakah sekolah memiliki program seperti pemeliharaan perdamain (peacekeeping level)? Sekolah mestinya menerapkan aturan yang keras, menghukum atau mengendalikan siswa yang terlibat tindakan kekerasan di sekolah. Juga dibangun program perdamaian sehingga dapat mendukung para guru di kelas untuk mengkondisikan suasana perdamaian dalam lingkungan sekolah.

                Sujana (1988) mengartikan budaya dalam pendidikan sebagai upaya membina dan mengembangkan cipta, rasa, karsa manusia. Mendikbud Anies Baswedan mencanangkan berdirinya Direktorat Keayahbundaan yang memprioritaskan program pokok, yakni (1) meningkatkan peran orang tua dalam mencapai hasil belajar anak secara optimal, (2) memberi perhatian serius kepada orang tua dalam menanamkan kualitas pendidikan keayahbundaan, (3) mengupayakan peningkatan wawasan, pemahaman, dan keterampilan tentang kiat mendidik anak sejak dalam kandungan, masa kanak-kanan hingga dewasa, dan (4) mencegah perilaku destruktif (merusak), meningkatkan perilaku konstruktif, dan meningkatkan kualitas belajar anak didik melalaui pendampingan menyeluruh.

                Program ini menggugah orang tua. Orang tua merasa bahwa menitipkan anaknya di sekolah mendapatkan banyak nilai budaya yang bermanfaat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menekankan aspek kognitif (pengetahuan) saja, sementara aspek afektif dan psikomotorik diabaikan. Dalam pendidikan ketiga aspek ini harus mendapat perhatian yang sama.

                Untuk mendidik generasi muda yang berkualitas, proses pendidikan harus diorganisasi dengan baik dan benar untuk mencapai kebutuhan hari ini dan masa yang akan datang. Lembaga yang memainkan peranan krusial adalah keluarga, sekolah, media dan lingkungan masyarakat. Dengan peranan ini diharapkan bisa membantu anak didik berhasil dalam belajar. Hal yang membuat anak didik menurun semangat belajarnya karena rendahnya tingkat motivasi mereka dari lingkungan. Bila kondisi ini tidak disadari orang tua maupun guru dikhawatirkan akan berlanjut sampai usia dewasa.

                Beberapa tips berikut bisa digunakan guru dan orang tua dalam membantu anak didik agar hasil belajarnya meningkat. Pahami karakter anak. Karakter yang berbeda akan membuat pendekatan juga berbeda. Cara lain adalah belajar sambil bermain. Ini sangat penting  dilakukan bagi anak berusia di bawah kelas tiga SD. Ciptakan suasana nyaman. Ini digunakan ketika anak sedang belajar, misalnya, sambil belajar anak mendengarkan musik kesayangannya. Cara terakhir, hargai prestasi anak. Jangan pernah menggerutu kepada anak bila dia belum berhasil dalam pelajaran.

                Kiat-kiat ini bisa bermanfaat bagi sekolah dalam memecahkan masalah belajar anak didik. Kalau dirinci, peran sekolah adalah (1) sekolah harus berperan aktif dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa lembaga pendidikanlah yang mampu mengembangkan strategi ke arah suatu resolusi damai, (2) sebagai lembaga pendidikan sekolah harus mengembangkan kultur perdamaian dengan model kecakapan sebagai sumber pendidikan, (3) sebagai lembaga pendidikan sekolah harus menjalin kolaborasi antara lembaga pendidikan dan LSM serta pemerintah dalam mengatasi konflik yang sering terjadi di sekolah, dan (4) sekolah harus bisa menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan, penuh dengan kedamaian.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Rabu, 1 April 2015).

     

Berita Terkait