Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Memoria Conefo dan Ganefo

    2016-06-25 10:56:29
    Images

    Memoria Conefo dan Ganefo

    Oleh Drs.Yosef Tomi Roe,M.A.

    Dekan FKIP, Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah

    Hp. 081339184663

     

    Gagasan Conefo dan Ganefo dihadirkan Ir. Soekarno untuk menghimpun kekuatan negara-negara berkembang atau negara bekas jajahan di benua Asia, Afrika, Amerika Latin untuk bersama-sama menentang “ideologi” neo-kolonialisme dan neo-Imperialisme. Istilah Nekolim diajukan oleh Soekarno untuk mempertegas identitas bangsa Indonesia yang pernah dijajah oleh bangsa lain. Penjajahan dalam prisma pembelajaran sejarah merupakan perwujutan ekspansi kewilayahan yang sarat dengan nuansa kekerasan dan penderitaan dari warga negara yang dijajah.

    Sesudah lepas dari penjajah, Soekarno membentuk Conference of The New Emerging Forces (CONEFO) yang merupakan suatu kekuatan blok baru yang beranggotakan negara-negara berkembang untuk mengimbangi otoritas dua negara adidaya, Unisoviet dan Amerika Serikat. Kehadiran Conefo dimaksudkan sebagai tandingan terhadap keberadaan perserikatan bangsa-bangsa. Barangkali yang dipikirkan Soekarno kala itu adalah bagaimana mungkin iklim kedamaian dunia bisa tercipta apabila PBB yang seharusnya berposisi netral justru dikendalikan negara Adidaya.

    Kehadiran Conefo diharapkan agar menyejajarkan bangsa Indonesia yang baru berkembang ini dengan bangsa-bangsa yang sudah maju, untuk sama-sama mengupayakan ketertiban dunia. Pembukaan UUD RI alinea ke -4 mempertegas obsesi Bangsa untuk berperan aktif dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

    Sebuah nilai luhur terpatri kuat bahwa bangsa kita adalah “pelaksana” ketertiban dunia. Ketika di belahan dunia lain masih terjadi penjajahan dan pemerasan, justru bangsa Indonesia lewat Soekarno, menggalang segenap kekuatan untuk memproklamirkan kemerdekaan. Merdeka adalah hak alamiah yang sudah semestinya sehingga penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan (Alinea Pertama UUD 1945).

    Obsesi untuk menjaga ketertiban dunia, juga dibuktikan melalui terselengaranya konferensi Asia-Afrika yang merupakan gambaran betapa besar peran bangsa kita, bangsa yang sangat dihormati dan bersedia menjadi moderator ketika terjadi kebuntuan politis para pemimpin negara berkembang waktu itu.

    Perjuangan Bangsa Indonesia bukan saja terfokus pada kemerdekaan satu bangsa, melainkan kemerdekaan bagi nilai-nilai kemanusiaan. Bangsa-bangsa yang tidak menghendaki adanya penjajahan kembali menyusun strategi untuk membentuk sebuah gerakan baru yang cukup disegani oleh negara Adidaya waktu itu yakni Gerakan Non Blok yang artinya tidak berpihak kepada blok Unisoviet dan blok Amerika Serikat.

    Selanjutnya untuk mewujudkan idealisme kebangsaannya, Soekarno membangun sebuah gedung olahraga dekat Gelora Senayan yang dananya diperoleh dari bantuan Unisoviet dan pengembaliannya dibayar dengan karet mentah selama dua tahun. Bangunan tersebut menggunakan filosofi pesawat, sesuai dengan keinginan Soekarno. Secara simbolik, sayap pesawat yang terbelah itu ingin menunjukkan kepada segenap rakyat Indonesia bahwa saat ini bangsa kita sedang terbang menuju tatanan dunia baru.

                Setelah era perjuangan fisik, Soekarno pada tahun 1957 menandaskan bahwa nation building memerlukan revolusi mental. Segera setelah itu Soekarno berkeyakinan bahwa, selain olahraga sebagai sarana pembentuk jasmani, olahraga sekaligus sebagai instrumen pembangunan mental dan rohani yang efektif. Atas dasar itulah, olahraga dapat dijadikan salah satu alat untuk membangun bangsa sehingga dapat dimaterialkan dalam bentuk kurikulum di sekolah-sekolah dan menggencarkan kegiatan olahraga di kalangan rakyat.

    Seokarno juga memanfaatkan ajang kejuaraan untuk mempromosikan nama bangsa Indonesia di kancah Internasional. Demi terwujudnya gagasan ini, maka pada tanggal, 10 sampai 22 Nopember 1963, Soekarno membuka perhelatan olahraga akbar di Jakarta dengan nama Ganefo (Games of The New Emerging Forces). Tercatat ada 2.200 atlit dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur yang mengikuti turnamen ini. Mempertimbangkan besarnya jumlah peserta lomba dan banyaknya cabang olahraga yang dipertandingkan maka, Ganefo pantas disebut sebagai Olympiade tandingan dengan semboyan Onward ! No Retreat. (Maju terus, pantang mundur). Kalau Olympiade Internasional yang didasarkan pada kompetisi murni untuk mencari juara, Ganefo justru didorong oleh spirit untuk memperkuat persaudaraan dan solidaritas.

    Soekarno sendiri menegaskan kepada para atlit Indonesia bukan hanya memajukan kemampuan personal dalam bidang olahraga, tetapi juga membina persahabatan dengan atlet dari negara lain. Pada perhelatan olahraga akbar ini Indonesia menduduki peringkat ke tiga setelah RRT dan USSR. Dengan demikian, ketika lembaran sejarah dunia mengenai olahraga dibuka kembali, maka keberhasilan Indonesia melaksanakan Ganefo pada tahun 1963 merupakan prestasi besar dan mengagumkan dan sulit rasanya terulang kembali saat ini.

    Ganefo kedua, yang dijadwalkan tahun 1967 mengalami kegagalan karena di dalam negeri telah terjadi perubahan peta kekuatan politik. Terjadi pengalihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto yang juga masih menyimpan banyak misteri. Meskipun demikian, proyek gedung yang menggunakan analogi filosofi sayap pesawat itu dilanjutkan oleh Soeharto. Saat ini gedung tersebut difungsikan menjadi gedung MPR/DPR RI yang berdiri tegak sebagai saksi sejarah.*

     

    Opini telah dimuat pada Rubrik Suara Uniflor, kerjasama Harian Umum Flores Pos dan Universitas Flores, edisi 25 Juni 2016.

Berita Terkait