Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Memoria Opus Magnum Etnolog Verheijen

    2017-12-12 13:16:25
    Images

    Memoria “Opus Magnum” Etnolog Verheijen

     

     

    Oleh Kanisius Rambut

    Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Flores

    Hp.082147797716

    Email. St.kanisius@yahoo.com

     

     

     

     

    Julius (Jilis) Antonius Joseph Verheijen lahir 26 Maret 1908 di Zevenaar, Belanda.Verheijen adalah seorang Pastor Misionaris asal Belanda yang ditabiskan sebagai imam pada 28 Januari 1934 di Tetaringen. Setelah ditabiskan, imam muda ini diutus ke Flores bersama misionaris lainnya yakni, Pater J. Eben, Wilhem Maas, dan Rud van de Velden. Pastor-pastor yang sakramen imamatnya masih belia ini memang dipersiapkan untuk dikirim ke Flores-NTT.

    Rombongan misionaris Belanda ini tiba Jakarta 24 Oktober 1935. Kemudian, perjalanan diteruskan ke Ende Flores sebagai terminal akhir ziarah perjalanan misioner yang panjang. Imam-imam muda ini dibekali kursus pengenalan budaya dan bahasa Melayu di Mataloko, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seusai kursus itu, pada tanggal 31 Januari 1936 Pater Verheijen ditempatkan sebagai imam misionaris yang bertugas di Ruteng Manggarai  

                Merujuk pada pokok pikiran Pastor J. Dami Mukese, SVD dan rekannya Rm. Eduard Jebarus, Pr bahwa sosok Pater Verheijen SVD dapat dipahami dari dua optik yang saling mengandaikan yaitu sebagai misionaris sekaligus sebagai ilmuwan dalam bidang kebudayaan dan linguistik. Sebagai imam misionaris, ia memulai karya pelayanan pastoralnya sebagai pastor paroki di Pagal Manggarai Utara dari tahun 1936 sampai dengan tahun 1941. Jadi, kehadiran serta karya-karya arkeologisnya yang berbobot dinilai sangat berfaedah bagi masyarakat Manggarai khususnya dan umat Katolik Flores pada umumnya.

                Betapapun demikian, sebuah pengalaman tragis dalam hidupnya sungguh mengusik tugas pewartaannya yakni ketika ia bersama mionaris Belanda lainnya dikirim ke Sulawesi oleh tentara Jepang sebagai tawanan. Pada tahun 1945 Indonesia merdeka, semua misionaris yang ditawan, kembali bertugas di Flores. Pada tahun 1948 Pater Verheijen ke Eropa untuk cuti dan studi. Kemudian, tahun 1951 ia kembali ke Manggarai dan diangkat oleh Uskup Wihelmus van Bekkum sebagai provikaris keuskupan. Sejak saat itu tugas kegembalaan sebagai pastor paroki perlahan-lahan ditinggalkan, namun tetap melayani kebutuhan rohaniah umat.

                Alkisah, pada tahun 1960 Pater Verheijen mulai melakukan tourne ke paroki-paroki sambil berdiskusi tentang agama asli, adat, dan bahasa Manggarai. Sejak saat itu, ia mulai menaruh respek yang sangat serius terhadap inti kejeniusan lokal yang dipresentasikan di dalam praktik agama asli, adat, bahasa, dan budaya Manggarai. Pater Verheijen kemudian menyelami “roh” bahasa Manggarai sebagai “pintu masuk” bagi keberhasilan tugas pewartaan injil. Minat untuk mendalami kultur orang Manggarai ini didukung pula oleh kemampuan akademik yang luar biasa sehingga memungkinkan keberhasilan kerja etnografis maupun tugas-tugas perutusannya.

                Riset-riset “klasik” etnografis monumental yang dikerjakan Pater Verheijen berupa cerita-cerita rakyat Manggarai dan istilah hukum, perkawinan, kehidupan keluarga, pertanian, flora, fauna, permainan anak-anak, dan nyanyian zaman dahulu dan lain sebagainya. Sementara itu beberapa pustaka elementer yang merupakan karya etnografis Verheijen sebagai berikut. 1) Het Hoogste Wzenbij de Manggaraiers 2) Manggaraian Texts (18 bagian, 2051 halaman) 3) Assonanties in het Manggaraisch, dalam: Tijdschrift voor Indisch Taal, Land-en Volkenkunde 81 (1941) 455-483 dan 4) Zodenk de Ma Manggaraier, dalam De Khatolieke Missien 68 (1947-1948) 40-42.

                Karya-karya ilmiah di atas dipulikasikan di dalam dan luar negeri, terutama di tiga Universitas di Belanda. Hampir seluruh hasil penelitian Verheijen disimpan di Rijksmusseum van natururlijke historie atau herbarium negeri di Leiden. Puluhan karya klasikal monumental itu dikerjakan oleh Misionaris ilmuwan asal Belanda ini dari tahun 1960 sampai tahun 1992. Konon, “pekerjaan” akademis itu masih dilanjutkannya di negerinya ketika kembali ke kampung asalnya. Bahkan sebelum wafat, ia masih sempat menyelesaikan beberapa buku tentang Manggarai. Dengan nada kecewa ia mengatakan masih tertinggal di Ende data mentah yang belum sempat diolah. Dari pancaran wajahnya tersirat pertanyaan besar: Siapakah yang bisa meneruskan pekerjaan besar ini?

                Tulisan kecil ini bertujuan untuk memperkenalkan gagasan Pater Verheijan, baik sebagai imam misionaris maupun etnolog-linguitik yang membaktikan dirinya demi pewartaan injil dan pengembangan ilmu linguistik dan antroplogi, terutama menyangkut kebudayaan Manggarai. Memang karya keilmuannya begitu bebobot dan bervariasi, namun sayangnya publikasi karya Pater sebagian besar disimpan di Perpustkaan Leiden. Betapapun demikian, karya Pater Verheijen, SVD khususnya yang berkaitan dengan bahasa dan budaya Manggarai telah menginspirasi dan memotivasi para pakar bahasa Flores dan Lembata untuk berusaha meneruskan idealisme keilmuan linguistik dan budaya yang masih “mengendap” dalam memori kolektif dan masih berwujud kepingan informasi keilmuan linguistik dan sastra lokal yang tercecer. Para pakar kebahasaan tersebut berusaha dan bertekad meneruskan karya misionaris etnolog itu melalui riset dan mempromosikan bahasa dan budaya lokal Flores dan Lembata sebagai “mahkota” dari kejeniusan generasi terdahulu *

     

     

     

     

Berita Terkait