Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Mempersoalkan Bahasa Asing di Tempat Wisata

    2015-04-16 16:26:34
    Images

    Mempersoalkan Bahasa Asing di Tempat Wisata

     

    Oleh Basilisa Ngindang

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI),

    FKIP, Universitas Flores, HP 085337310752

     

    Beberapa waktu yang lalu penulis mengisi waktu liburan dengan berpiknik ke  tempat wisata Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, ingin menyaksikan secara langsung satwa langka komodo yang sangat terkenal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ketika tiba di Pulau Rinca (salah satu tempat wisata komodo) penulis terkejut dengan tulisan asing yang terpampang pada leter “Well Come.” Saat memasuki lokasi wisata tertulis pada papan informasi “Komodo Nasional Park, Resort Loh Buaya. Ketika menuju ke perbukitan ada tulisan lain  “Medium Trek.

    Sebagai orang Indonesia khususnya sebagai orang Flores, saya merasa terganggu dengan tulisan-tulisan yang ada. Mengapa? Tulisan itu sangat tidak menolong karena tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang dinobatkan sebagai bahasa resmi negara telah dikebiri oleh orang Indonesia sendiri. Jatidiri bahasa Indonesia pelan-pelan dikubur, sedangkan bahasa Inggris terus diwariskan.

    Perlakuan seperti ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 36, yang menyatakan “Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia.” Ketika bahasa Indonesia telah termaktub dalam UUD 1945 maka bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara yang wajib dipakai pada setiap instansi atau tempat-tempat yang berbau resmi termasuk tempat wisata. Tulisan asing dapat berdampak pada minimnya tingkat pemakaian bahasa Indonesia oleh orang asing dan merosotnya posisi tawar bahasa Indonesia di mata dunia internasional.

    Orang Indonesia sebagai tuan rumah sepertinya lebih percaya diri ketika menggunakan bahasa Inggris, sedangkan bahasa sendiri diabaikan. Hal ini menjadi sebuah bentuk kecurangan terhadap eksistensi bahasa Indonesia. Menilik realitas yang terjadi selama ini bahwa apabila kita ingin keluar negri, kita dipaksa untuk menguasai bahasa Inggris. Kita dituntut untuk kursus bahasa Inggris sehingga fasih dalam berkomunikasi.

    Yang menjadi pertanyaan, apakah setiap turis yang datang ke Indonesia menikmati pariwisata kita, fasih berbahasa Indonesia? Apakah setiap mereka pernah mengikuti kursus bahasa Indonesia? Tentu saja “tidak,” karena di Indonesia telah disiapkan guide, pemandu yang mampu berbahasa Inggris. Dengan eksistensi aset wisata, semestinya kita bisa manfaatkan momen yang ada untuk mempromosikan jatidiri bahasa kita.

    Memang harus diakui bahwa bahasa internasional adalah bahasa Inggris, tetapi tidak kemudian harus menganaktirikan bahasa nasional dan bahasa negara kita. Semakin bahasa Inggris ditonjolkan, kecil kemungkinan para turis domestik (lokal) berkunjung ke tempat wisata, karena tidak memahami bahasa Inggris. Jangan sampai orang kita sendiri malah tersesat di daerah wisata sendiri.

    Bahasa asing sangat tidak membantu terutama bagi mereka yang tidak mengenyam pendidikan. Jangan heran bila orang kita sendiri yang notabene tidak berpendidikan tinggi jarang dan bahkan sama sekali tidak berminat untuk datang mengunjungi tempat pariwisata yang bertaraf internasional. Ini tidak terlepas dari perasaan “minder” terhadap ketidaktahuan dalam berbahasa Inggris dan juga tempat wisata yang dominan didatangi oleh orang-orang berduit. Sungguh sangat memprihatinkan ketika tuan rumah yang terpaksa harus menghindar dari rumahnya sendiri. Ini berangkat dari penggunaan bahasa yang tidak setara akan bermuara pada ketidakseimbangan para pengunjung. Kita semestinya bangga karena bangsa dan negara kita memiliki bahasa sendiri sebagai aset dan kekhasan untuk menyatukan perbedaan, suku, ras, agama, dan golongan.

    Ketika kembali melihat persoalan tadi menunjukkan kita tidak mensyukuri dan menghargai keberadaan bahasa resmi negara kita. Namun tidak berarti bahwa penulis tidak menyepakati soal penggunaan bahasa asing. Tentu saja sepakat, tetapi keseimbangan dalam penggunaan bahasa harus dijaga. Yang semestinya ditonjolkan itu adalah bahasa persatuan kita, sebagai tuan rumah atas apa yang menjadi keunikan budaya kita.    

    Keanekaragaman budaya Indonesia yang sifatnya khas tentu tidak dimiliki oleh negara lain. Keanekaragaman budaya hanya bisa dipersatukan oleh bahasa. Bahasa menjadi  jembatan yang menghubungkan satu pihak ke pihak yang lain. Tanpa adanya bahasa semua bentuk aktivitas dan transaksi lainnya akan lumpuh. Eksistensi bahasa hari ini sangat diperhitungkan pihak manapun. Oleh karena itu, pelestarian terhadap bahasa harus terus dilakukan secara turun-temurun.

    Tawaran solusi yang penulis kemukakan adalah tulisan-tulisan asing memang diperlukan, namun sebaiknya disertakan pula dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia,  bahkan lebih bermartabat lagi apabila dicantumkan juga dalam bahasa daerah setempat. Hal ini bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya kita pada turis asing. Jatidiri daerah kita yang kaya akan budaya menjadi lebih terkenal dan menarik banyak peminat yang berkunjung.

    Penulis sangat meyakini bahwa pengunjung yang datang tidak sekedar para pencinta dan penikmat pariwisata, namun ada juga peminat bahkan peneliti bahasa dan budaya. Momen ini menjadi tepat untuk memperkaya bahasa Indonesia maupun bahasa daerah yang mungkin saja diteliti oleh para peneliti. Cara seperti ini yang kemudian membuat budaya kita lebih terkenal dan terus dibudidayakan. (Flores Pos, Sabtu, 24 Mei 2014 ).   

Berita Terkait