Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Memuliakan Tulisan

    2015-04-18 22:02:10
    Images

    Memuliakan Tulisan

     

    Oleh Alexander Bala Gawen, S.Pd, M.Pd

    Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Universitas Flores, Hp 081353989718

     

    Jelajahi dunia dan akhirat dengan membaca,

    dan ikatlah dengan menulisnya” (Anonim)

     

    Terima kasih adalah kata yang paling tepat dan pantas untuk menyatakan rasa syukur atas jejak buah pikiran para pemikir besar dunia lewat tulisan mereka.

    Atas kemasyhuran tulisan para pemikir itulah kita dapat menyibak, mengenali,  dan memahami dunia secara lengkap. Lewat tulisan mereka pula telah meletakkan sebuah landasan berpikir yang kokoh, kuat, dan bertanggung jawab dalam pewarisan berbagai nilai, sikap, pandangan, dan keterampilan manusia.

    Kita perlu menyebut sejumlah nama pemikir besar yang pikiran dan pandangannya diabadikan lewat tulisan, baik ditulisnya sendiri maupun ditulis orang lain (pengikutnya). Mereka antara lain, Socrates, Plato, Aristoteles, Ibnu Kaldun, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Francis Bacon, Newton, Thomas Hobbes, Noam Chomsky, dan pemikir besar dunia lain dari manapun mereka berasal.

    Dari rentang waktu mereka hidup dan berkarya, buah pikiran mereka sudah menempuh perjalanan panjang ratusan bahkan ribuan tahun, melintasi batas-batas suku, bangsa, geografis, dan budaya. Pertanyaannya, mengapa buah pikiran dan pandangan mereka bertahan sampai ratusan bahkan ribuan tahun kepada kita generasi sekarang ini? Jawabannya, karena buah pikiran dan pandangan mereka terekam dalam tulisan.

    Tulisan telah menyelamatkan dan memantapkan buah pikiran menjadi warisan peradaban dunia. Tanpa tulisan, mungkin saja masyarakat sekarang tak bakal mengenali peradaban manusia di masa lampau. Ada keterputusan nilai dan peradaban yang dapat mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan masyarakat secara luas, sebagaimana disebut Anderson sebagai “amnesia kultural” (1996).  

    Dalam konteks dan niat yang sama, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Flores Pos, Pater Steph Tupeng Witin, SVD, dalam acara penandatanganan perpanjangan MoU rubrik “Suara Uniflor” di Flores Pos edisi hari Sabtu, menyebut penerusan tradisi menulis senantiasa mencerdaskan publik sekaligus membuat “sejarah menjadi abadi.” Beliau mengajak kita untuk “memuliakan tulisan.” Rektor Uniflor, Prof. Stephanus Djawanai, juga berpendapat sama bahwa dunia tulis-menulis merupakan dunia yang mengekspresikan ciri keintelektualan manusia, untuk mengenal inti budaya dan kehidupan manusia universal (Flores Pos, 23/3/2015).  

    Jelaslah bahwa “amnesia kultural” yang disebut Anderson terjadi lantaran tak disangga oleh tulisan. Inilah pesan penting para pemikir dan penulis kaliber dunia yang karyanya masih tetap relevan bagi persemaian peradaban dan ilmu pengetahuan sampai dengan abad kita ini.

    Berpikir, membaca, dan menulis menurut B.J. Habibie merupakan terapi-diri (self-healing). Untuk mencegah apa yang disebut sebagai black-hole, yaitu kondisi psiko somatic malignan, yakni gangguan emosional berdampak negatif pada sistem organ vital manusia. Untuk memperpanjang umurnya, Habibie memilih melakukan kegiatan yang melibatkan secara intensif pikiran maupun emosionalnya dengan “menulis” (Habibie & Ainun, 2012: xiv). 

    Banyak bangsa dan negara di dunia yang memiliki tradisi ilmu yang kuat selalu memiliki tradisi berpikir-membaca-menulis yang kuat pula. Tradisi membaca dan menulis memerlukan tradisi berpikir, terutama berpikir kritis dan kreatif yang disangga  penalaran yang benar. Tradisi berpikir diikuti tradisi membaca dan menulis melahirkan peradaban keberaksaraan (literacy) yang fundasiya pada teks, bukan peradaban kelisanan (orality) yang fundasinya pada tuturan.

    Bagaimana dengan masyarakat kita? Masyarakat kita lebih terpola pada tradisi lisan. Coba amati dan bandingkan, bagaimana aktivitas para penumpang domestik dan turis asing di ruang tunggu bandara. Penumpang mancanegara terlelap dengan bahan bacaan di tangannya, sedangkan penumpang domestik sibuk melisankan berbagai aneka pengalaman di antara mereka.

    Perhatikan juga bagaimana para turis asing ini ketika berjalan. Yang digepit adalah buku, peta, dan bahan bacaan lain untuk dibaca mengisi waktu luang. Kalau kita,  bertemu sesama, kita tercebur dalam cerita yang tidak tentu arah, bahkan tanpa batas waktu. Semua yang diceritakan akan hilang begitu saja dihembus angin.

    Apakah pola ini terus mentradisi tanpa niat dan kemauan untuk meninggalkan jejak tulis kepada generasi yang akan datang bahwa tradisi tulis-menulis penting? Tentu kita tidak meremehkan tradisi lisan. Kitapun sadar bahwa adanya kita sekarang ini karena memulainya dengan tradisi lisan. Namun, kita coba memulai sesuatu yang baru dengan mentradisikan tulis-menulis.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai karya khazanah fatis yang ada, hidup, terawat, dan awet dalam masyarakat kita. Kapan dan siapa yang bertanggung jawab mengaksarakan berbagai karya khazanah fatis dalam tradisi lisan tadi menjadi tradisi tulis? Paling kurang generasi yang akan datang dapat mengetahui dengan runut dan runtut khazanah-khazanah fatis dimaksud melalui tulisan.

    Ada pesan moral yang disampaikan, yakni bagaimana menghargai kehidupan ini dengan menuliskannya? Lembaga-lembaga dan satuan pendidikan merupakan salah satu pengemban amanat mulia tradisi tulis-menulis ini. Karena itu, harus memiliki dan memelihara kebiasaan “berpikir-membaca-menulis” yang baik dan benar.

    Kegiatan berpikir-membaca-menulis sekaligus mengasah penguasaan bahasa tulis diikuti pelayanan yang memadai. Ini merupakan langkah konkret memuliakan tulisan.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Sabtu, 28 Maret 2015).

Berita Terkait