Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Menakar Identitas Kolektif (Boruk Tana Bojang)

    2016-06-03 09:00:15
    Images

    Menakar Identitas Kolektif

    (Boruk Tana Bojang)

    Oleh Drs. Yosef Moan Banda, M.Pd.

    Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi,

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores

    Hp. 081339381258

     

    Secara eksistensial manusia terlahir sebagai seorang individu, dan terlempar ke tengah masyarakat menjadi makhluk sosial sehingga memiliki naluri untuk hidup bersama dengan orang lain. Manusia juga diberi predikat sebagai social animal karena sejak masa pra-eksistensinya manusia dibekali dengan dua “instink” dasar yaitu naluri untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (masyarakat), dan naluri untuk bersinergi dengan suasana alam lingkunganya, (Soekanto,2012: 101).

    Representasi spirit moralitas kolektif semacam ini dapat teridentifikasi pula dalam penegasan identitas kolektif antara orang Boru dan orang Hikong. Penuturan tua-tua adat berikut dapat dijadikan sebagai titik pijak: Boruk Tana Bojang, kebo kilibatu sukun pulu wot lima, akeng rua plebong telu. Liwu, Lewar, Tukan, Boruk, Soge, Tapun, Mau Rawa. Teri ora nian, era ora tana, mula ai, pa,at tali, tena nian a,un giit, tana a,un mangan. Artinya, Boruk Tana Bojang, tanah persekutuan sealihwaris, bersaudara seketurunan leluhur persekutuan suku-suku. Ini tanah tumpah darah kami, di sini kami menanam pohon dan melindungi hutan serasi selaras tanah air, lestari bumi hunian, (Thomas Uran, et-al; 2008:3).

    Untaian syair adat di atas, dijadikan sebagai perekat dasar identitas kolektivitas antara orang Boru dan orang Hikong yang secara administratif kewilayahan dipisahkan oleh Pemerintah RI setelah masa penjajahan Belanda, tepatnya di wilayah perbatasan antara Kabupaten Sikka dan Flores Timur.

    Genealogi masyarakat Boru dan Hikong dapat ditelusuri melalui narasi lisan yang dituturkan dari generasi ke generasi. Diriwayatkan ada dua kelompok masyarakat yang hidup di wilayah ini yaitu Bubuk Bekor atau secara harfiah berarti tumbuh dari tanah dan Tena Mao yaitu pendatang dari laut. Tokoh kunci dalam kelompok Bubuk Bekor yaitu Gego dan Arong. Kedua tokoh legendaris perempuan ini, muncul dari tanah yang diperkirakan berlokasi di Nale. Setelah menjelmah menjadi manusia, mereka turun mandi di sungai dan tempat pemandian tersebut sampai saat ini disebut Liwun Tarun. Dikisahkan pula bahwa suku Mau, Rotan, Iri, dan Lewuk merupakan turunan dari Gego dan Arong. Sementara itu suku Liwu, Lewar, Tukan, Soge, Tapun, merupakan pendatang dari laut yang disebut Tena Mao.

    Sebelum suku pendatang dari laut itu turun dari perahu, tanah-tanah di wilayah ini masih digenangi air. Selanjutnya, untuk mengeringkan genangan air mereka mengucapkan mantra berikut “dedu watu mela ai, ai naha laja boga, watu mitan dibitak, para bura dilenang, wair naha baja, watu naha gogo pout. Sesudah mengucapkan mantra, air di wilayah ini kering, sehingga memungkinkan mereka melanjutkan pengembaraan.

    Mula-mula mereka tiba di bukit Wengot yang merupakan wilayah Boruk Tana Bojang. Meskipun berstatus sebagai suku pendatang, namun kehadiran suku Tena Mao diterima oleh penduduk asli (Bubuk Bekor). Atas dasar itulah sebagian suku pengembara tersebut memilih untuk tetap tinggal di wilayah ini dan sebagiannya lagi masih melanjutkan pengembaraan ke arah wilayah Timur, yakni di wilayah Nobo dan sekitarnya.

    Narasi lisan di atas, memberikan petunjuk bahwa sudah sejak zaman nenek-moyang telah terjadi kontak antara orang Boru dan orang Hikong. Kontak antarkedua suku ini, tidak hanya terbatas pada pemenuhan kepentingan artifisial semata melainkan melampaui itu semua. Lebih dari itu, kontak antara kedua suku ini telah melahirkan sebuah “kontrak sosial tradisional” yang memiliki dasar filosofi identitas yang sangat mendalam, kokoh dan teruji hingga melampaui alur waktu yang begitu panjang

    Seturut penuturan tua-tua adat, untuk mengikat tali persaudaraan antara warga kedua suku dengan para leluhur maka diwariskanlah sebuah kahe (spirit) berikut: Ami Boruk Tana Bojang, kebo kili batu, tana goen uak tukan, ekan goen wai matan, Nuba i,in go tobo lodo, nara i,in go dein gere. Mula kaan puken mege, paat kaan kate mangan. Giit biri baru sina, mangan bao aran jawan. Artinya, kami orang Boruk yang berdiam di tana Bojang. Tana kami yang subur, berkelimpahan mata air. Di bumi ini kami ada. Untuk menanam, menanam lagi, agar kami bisa sejahtera, kuat selamanya.

    Sejak adanya regulasi UU Nomor 5/1979 tentang Desa, warga komunitas yang berdiam di wilayah Selatan disatukan dalam satu desa yaitu Desa Boru. Setelah itu, tahun 1999, Desa Boru dimekarkan menjadi dua desa, yaitu desa Boru dan desa Boru Kedang. Sementara itu, warga Hikong menjadi bagian dari desa Hikong Kabupaten Sikka. Meskipun dipisahkan wilayah administrasi, warga masyarakat masih tetap menghayati nilai solidaritas kolektif di antara mereka yang terungkap dalam sebuah aforisme nian ue wari, tana kera pu, ue wari naha tota dadin, kera pu naha topo baler, artinya tanah persekutuan, tanah kepunyaan bersama, bersaudara seketurunan, tidak mengenal batas waktu. Kita bisa belajar banyak dari aforisme yang padat makna ini.*

Berita Terkait