Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Menata Pola Pikir Mahasiswa dalam Membangun Desa

    2016-05-26 09:22:41
    Images

    Menata Pola Pikir Mahasiswa dalam Membangun Desa

    Lely Suryani, M.A.

    Prodi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Flores

    Hp: 081372445544

     

    Mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang mampu mensinergikan segala potensi yang ada dalam diri dengan lingkungan tempat tinggalnya. Di antaranya menumbuhkan  pola pikir baru mahasiswa setelah dia lulus nanti:  apa yang harus dilakukan, dan bagaimana hidupnya nanti agar dapat bermanfaat buat dirinya sendiri, keluarga, teman dan masyarakat. Umumnya mahasisiwa berpikir bahwa kuliah adalah tempat untuk mencapai gelar sarjana dan  kemudian berusaha lulus dengan nilai indeks prestasi yang tinggi. Banyak mahasiswa yang lulus dari Ende maupaun dari luar daerah berorientasi menjadi Pegawai Negri Sipil. Ada menjadi guru honorer walaupan tidak digaji karena tidak ada pilihan lain. Bahkan, ada yang tidak memiliki sumbangsih apa-apa di tengah masyarakat. Setelah lulus mahasiswa menjadi beban buat orang tua yang memikirkan bagaimana kehidupan dan masa depan anaknya nanti. Tentu kita butuh paradigma lain atas kondisi seperti ini.

    Paradigma adalah cara berpikir yang telah berakar dan secara langsung mempengaruhi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Paradigma berpikir adalah bagaimana mendorong perilaku maupun tindakan orang. Perubahan paradigma adalah kunci utama untuk menatap hidup lebih baik dan lebih maju. Di lingkungan tempat tinggal kita, di desa-desa khususnya, masih dikuasai oleh paradigma lama. Ide-ide cemerlang bukan dipandang sebagai peluang  inovasi baru, melainkan sebagai hambatan yang mesti dilenyapkan, bahkan mendapat sindiran dan dikucilkan. Masyarakat telah merasa nyaman dan tidak perlu merubah hidupnya, meskipun perubahan itu sangat dibutuhkan. Banyak sarjana pun terjebak dalam kondisi demikian, dan sulit sekali menciptakan ide-ide atau gagasan baru yang berguna buat kehidupan masyarakat. Ada yang ingin menciptakan lapangan kerja baru, misalnya mengelola tanah warisan keluarga (bertani), tetapi menjadi bahan perbincangan masyarakat setempat dan dianggap sebagai pekerjaan tidak cocok bagi yang bergelar sarjana. Pandangan masyarakat, apabila seseorang sudah sarjana, ia harus berpakaian rapi dan bekerja di kantor.

    Pemerintah mencanangkan konsep Revolusi Mental. Soekarno menggagas revolusi mental untuk menggembleng manusia Indonesia agar manjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Misi revolusi mental  harusnya direspon positif oleh mahasiswa sebagai instrumen awal untuk membuat perubahan terhadap diri dan masyarakat. Apalagi, di era informasi digital dangan kemajuan signifikan dan tak terbendung. Mahasiswa harus berani merubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku melalui internalisasi nilai-nilai esensial diri yang lebih modern, produktif, berprestasi, dan inovatif. Mahasiswa harus mulai menggerakan diri sebagai generasi anak bangsa yang mandiri. Kita sering kali tidak menyadari bahwa sesuatu telah berubah. Kita tetap berdiam di tempat dan menganggap kitalah yang paling benar. Misi revolusi mental tepat untuk membangun gerakan hidup baru, cara pandang, cara pikir dan cara kerja baru.

    Membangun desa menjadi paradigma baru mahasisswa

    Membangun desa berbasis ekonomi dengan sumber daya alam lokal menjadi langkah kongkret.  Mahasiswa sejak dini mulai membuat ancangan program penelitian di desa kemudian merekomendasikannya kepada aparat desa. Hasil penelitian tersebut dijadikan sebagai program desa untuk mempercepat proses pembangunan desa. Mahasiswa sebagai generasi muda yang terdidik adalah harapan membangun bangsa dari pinggiran. Harapan ini jelas tercantum dalam Undang-Undang Desa No.6 tahun 2014 tentang Desa, point ketiga “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, diharapkan menjadi landasan pijak fundamental untuk membakar semangat berkarya, dimulai dari desa, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi muda bangsa.

    Desa merupakan basis pembangunan. Dari desa banyak hal bisa dimulai. Lakukanlah dengan tanggung jawab, pantang menyerah dan konsistensi. Generasi muda yang terdidik harus mempunyai  semangat juang yang tinggi, berkemauan keras, dan  bersemangat. Abaikan cibiran, desakan dan respon negatif masyarakat karena mereka akan ikut berubah ketika proses gagasan kegiatan kita sudah mulai menuai hasil. Masyarakat akan merasa terketuk hatinya dan membuka diri untuk ikut terlibat ketika melihat perubahan baru yang kita tunjukkan dalam waktu tertentu. Kata kunci yang harus kita pegang adalah kerja, dan terus bekerja untuk manggapai hasil. Kesuksesan kita diukur oleh seberapa besar kontribusi kita untuk membuat perubahan besar yang bermanfaat buat masyarakat. Lebih dirasakan, ketika perubahan yang kita lakukan mendatangkan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

    Uraian di atas mensyaratkan bahwa mahasiswa sebagai generasi muda bangsa yang terdidik mempunyai tanggung jawab untuk membangun desa. Pengabdian kepada masyarakat tidak saja syarat untuk kelulusan mahasiswa dalam momentum Kuliah Kerja Nyata, misalnya, tetapi dialami dan dilaksanakan secara bertanggung jawab untuk mendapatkan pengalaman baru sebagai bekal mengabdikan diri dan ilmu di desa. Di luar kegiatan akademik, mahasiswa harus meluangkan waktu untuk berinteraksi dangan masyarakat. Dengan demikian, keberadaan kaum intelektual dengan segenap ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat bermanfaat untuk masyarakat. *

    Berita telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor, Harian Umum Flores Pos  edisi 23 April 2016  Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor.

Berita Terkait