Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Mencerna Fenomena Hoax

    2017-02-07 07:53:17
    Images

    Mencerna Fenomena Hoax

    Oleh Fransiska Eka

    Staff UPT Publikasi dan Humas

    HP/Email: 081237520087/ekawangge@gmail.com

     

    Sepanjang akhir pekan minggu pertama bulan Januari, publik disuguhkan berita spektakuler oleh Dailymail menyangkut pembenaran “ramalan” hari kiamat. Ternyata berita semacam ini hanyalah fiksi ilmiah semata. Berita hoax lainnya yang ramai dibagikan misalnya teori bumi berbentuk datar, teori pendaratan di bulan yang disebut-sebut hanya fakta imajiner belaka, dan badai matahari yang bisa menimbulkan gangguan dalam sistem komunikasi.

    Istilah hoax dipopulerkan oleh pengguna internet sejak tahun 2006 silam bersamaan dengan dirilisnya film berjudul “The Hoax” yang mengisahkan tentang terbongkarnya skandal penulisan biografi palsu seorang milyarder AS bernama Howard Hughes oleh novelis bernama Clifford Irving pada tahun 1970. Namun, kata hoax disinyalir bersumber dari abad ke-18, merupakan versi lain dari kata hocus yang sering diartikan sebagai tindakan melakukan kecurangan/pemalsuan. Kata hocus sendiri diambil dari istilah hocus pocus sebuah istilah umum yang digunakan dalam dunia sulap ketika pesulap sedang beraksi memberikan efek kejutan kepada penonton, setara dengan istilah abrakadabra.

    Sementara itu di dunia maya, istilah hoax merujuk kepada berita palsu dalam bentuk tulisan, foto maupun video. Berbeda dari kesalahan informasi yang sifatnya tidak sengaja, berita hoax memang sengaja diciptakan untuk target tertentu. Misalnya, menjatuhkan kredibilitas sebuah lembaga, menakut-nakuti pembaca/menimbulkan kepanikan massal, dan meraup keuntungan finansial lewat peningkatan jumlah pengunjung situs.

    Secara umum hoax memiliki ciri-ciri khusus jika dibandingkan dengan berita faktual. Pertama, judul berita hoax umumnya “wah” disertai klaim yang bertentangan dengan akal sehat. Kiamat, konspirasi, penampakan, keajaiban adalah empat kata yang paling lazim digunakan penulis hoax untuk menggugah rasa penasaran pembacanya.

    Kedua, untuk memperkuat isi berita hoax - penulis mencatut nama lembaga yang kredibilitasnya diakui namun tidak menyebut dengan pasti siapa narasumber dari lembaga dimaksud yang dirujuk sebagai sumber klarifikasi berita. Atau, mencatut nama (dan gelar) individu tertentu tanpa menulis latar belakang pendidikannya.

    Ketiga, penulis hoax mengalih-bahasakan berita dari situs luar negeri tanpa mengecek kelayakan situs atau mengutip isi buku tanpa mengecek kaidah keilmuan buku tersebut. Situs berita dailymail misalnya, merupakan situs berita populer yang tidak direkomendasikan sebagai referensi acuan ilmiah semacam peristiwa tabrakan antar planet. Situs resmi yang layak untuk memberikan informasi tersebut adalah LAPAN (www.lapan.go.id) atau NASA (www.nasa.org). Celakanya, situs Dailymail pun menulis beritanya berdasarkan isi sebuah buku berjudul  “Planet X – The 2017 Arrival” karangan David Meade seorang ilmuwan riset yang meraih gelar master di bidang statistika dan gemar “mencangkok”  teori-teori sains dengan ramalan tentang akhir jaman dalam Alkitab. Konfirmasi terakhir NASA menegaskan bahwa Planet X yang juga sering disebut sebagai Planet Nibiru adalah hoax yang dipopulerkan di dunia maya,

    Keempat, penulis berita hoax menggunakan istilah ilmiah yang memanfaatkan ketidaktahuan pembaca awam, bahkan untuk berita-berita atau artikel yang sifatnya umum. Dalam artikel lengkap tentang isu kiamat 2017 yang dimuat di www.gatra.com misalnya, penulis menggunakan istilah “partikel energi plasmatik” yang diklaim sebagai penyebab gangguan yang terjadi di bumi. Ironisnya,  konsep “partikel energi plasmatik” itu sama sekali tidak diberikan porsi penjelasan.

    Kelima, cenderung mengabaikan formula 5W+1H. Ciri ini biasanya menempel pada hoax yang disebarkan lewat medium foto atau video. Foto atau video obyek-obyek aneh semacam jenglot, penampakan hantu atau kemunculan sosok tertentu di awan yang tidak menyertakan keterangan siapa, di mana dan dalam situasi apa foto atau video itu diambil untuk diunggah ke dunia maya. Juga, apakah foto atau video telah melewati proses editing termasuk di dalamnya manipulasi obyek foto dan penambahan atau pengurangan adegan video dengan memanfaatkan teknologi yang ada untuk menciptakan kesan tertentu sesuai dengan tujuan pembuatnya.

    Keenam,  berita hoax meminta agar beritanya dibagikan lewat sosial media melalui penggunaan kata atau kalimat semisal “sebarkan”, “informasi penting”, “Anda mungkin bisa menyelamatkan nyawa seseorang”, “ketik angka 1 di kolom komentar dan saksikan apa yang terjadi”, “like, share dan aminkan”.

    Dari ciri-ciri di atas, penulis menawarkan dua strategi yang bisa dilakukan agar terhindar dari kemungkinan menyebarkan berita hoax baik dalam tulisan, foto maupun video, yaitu: 1) memelihara sifat skeptis, yaitu sifat meragukan sesuatu. Derasnya arus informasi saat ini bukan tidak mungkin menimbulkan efek samping, yaitu hilangnya sifat meragukan isi informasi yang disajikan sebagai akibat dari banyaknya jumlah orang yang membagikan informasi tersebut. Sebuah informasi dinilai sebagai kebenaran hanya karena dipercaya oleh banyak orang, bukan karena didukung oleh fakta, dan 2) mengecek kebenaran isi berita hingga kepada sumber pertama yang dicatut nama lembaga/individunya dalam isi berita dengan memanfaatkan jasa mesin pencari di internet.*

Berita Terkait