Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Menenun Dalam Arsitektur

    2016-05-25 10:10:34
    Images

    Menenun Dalam Arsitektur

    Oleh : P. Jhon Alfred D.D

    Dosen Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik

    Universitas Flores, Email: alfred_ff@yahoo.com

    No.HP: 082144230183

     

    Seiring perkembangan jaman, kemajuan teknologi telah berkembang dengan pesat. Salah satu implikasi logis dari akselerasi teknologi adalah  perubahan peradigms mengenai ruang-waktu. Dimensi ruang dan waktu yang sebelumnya menjadi kendala, justru saat ini bukan lagi menjadi masalah. Hampir semua kejadian di muka bumi ini telah dapat diketahui hanya dalam waktu sekejap dan tidak ada lagi batasan-batasan, semua saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Fakta menciutnya ruang dan waktu inilah yang kedian disebut dengan globalisasi.

    Globalisasi memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam berbagai bidang di Nusa Tenggara Timur termasuk bidang arsitektur.  Fakta yang tidak terelakkan adalah adanya proses akulturasi budaya terutama pada bangunan-bangunan moderen di Nusa Tenggara Timur. Untuk mengembalikan identitas budaya pada bangunan-bangunan tersebut, diperlukan upaya untuk menggali nilai-nilai lokal yang dapat ditampilkan, mengingat bahwa sebenarnya Nusa Tenggara Timur kaya dengan berbagai macam budaya yang dapat dijadikan sebagai mode inspirasi rancangan arsitektur. 

    Menurut penulis, globalisasi dalam bidang arsitektur di Nusa Tenggara Timur mempunyai dampak ganda. Segi positifnya adalah berkembangnya investasi dan pembangunan juga pemanfaatan teknologi dan bahan bangunan. Sementara itu, dampak negatifnya adalah terjadi perubahan paradigma berpikir di masyarakat. Perubahan paradigma ini teridentifikasi melalui proses akulturasi budaya pada bangunan-bangunan moderen baik bangunan umum maupun pada perumahan. Atas dasar itulah sehingga bangunan kehilangan identitas kelokalannya.

    Banyak bangunan moderen di Nusa Tenggara Timur yang mengapdosi gaya arsitektur Barat, yang dapat terlihat dari pengolahan dinding facade yang hampir seragam yakni sebagian besar permukaannya menggunakan bahan kaca. Selanjutnya, dari segi bentuk juga hampir sama dengan bentuk dasar minimalis kotak-kotak sehingga tidak terlihat identitasnya, darimana bangunan tersebut berasal. Ditemukan pula bahwa banyak bangunan yang dibangun tanpa berakar pada filosofi berarsitektur yang sesuai sebab gaya arsitektur Barat diadopsi langsung tanpa mempertimbangkan kultur budaya, sosial serta kondisi iklim lingkungannya.

    Arsitektur bukan soal bentuk fisik semata. Bila menggunakan mode pakaian sebagai analogi, maka proses adaptasi terhadap kain tenun di Nusa Tenggara Timur sudah sangat berhasil. Bahan kain tenun tradisional dapat diaplikasikan ke dalam berbagai karya pakaian dengan mode terbaru yang begitu indah dengan motif dan warnanya yang artistik serta tekniknya beragam-ragam dengan ciri khas masing-masing pulau, yakni Flores, Timor, Sabu, Sumba, Rote, dan Alor. Saat ini, kain tenun di Nusa Tenggara Timur sangat dicintai oleh berbagai kalangan masyarakat, karena sudah cukup lama dikenal dan sudah merasuk di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, kain tenun dari Nusa Tenggara Timur di tangan Oscar Lawalata yang merupakan salah satu perancang busana terdepan Indonesia itu menjadi sangat moderen. Oscar Lawalata mengeksplorasi kain tenun Nusa Tenggara Timur dengan gagasan masa kini namun sama sekali tidak menghilangkan unsur-unsur tradisionalitasnya.  

    Sebetulnya menenun dan arsitektur adalah dua aktivitas yang serupa. Para arsitek dalam mendesain bangunan juga melakukan teknik yang sama seperti yang sering digunakan pada pembuatan kain tenun, seperti: melipat, mengkait, memotong, menumpuk, menskala, membungkus, menganyam, mewarnai, dan lain-lain. Adanya beberapa kesamaan antara mendesain kain tenun dengan mendesain bangunan, yaitu: kain tenun bertujuan melindungi badan, sedangkan bangunan bertujuan melindungi aktivitas manusia. Keduanya dapat mengekspresikan identitas seseorang, baik itu identitas budaya maupun identitas status sosial.

    Salah satu metoda rancang dalam arsitektur yang dapat digunakan untuk menterjemahkan kain tenun ke dalam desain arsitektur adalah metoda analogi, di mana metoda analogi merupakan suatu cara membandingkan suatu hal yang belum kita ketahui dengan mengibaratkannya dengan sesuatu yang telah kita kenal. Sebagai contoh adalah pola kain tenun dalam bentuk bidang rupa kain 2 dimensi ditransformasikan ke dalam rancangan arsitektur dalam bidang rupa bangunan 3 dimensi. Dengan cara, melakukan eksplorasi terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam kain tenun untuk kemudian diwujudkan sebagai “basic form?, dalam hal ini meliputi motif, bentuk, warna, komposisi dan proporsi geometris, sehingga dapat digunakan sebagai rancangan arsitektur.

    Desainer pakaian bisa membuat baju-baju yang up to date dengan bahan dari kain tenun, dan itluah yang seharusnya dilakukan oleh arsitek. Pola pikir dan pola desain seperti desainer pakaian tadi yang harus digali, sehingga nilai-nilai lokal tidak terkesan kuno. Seperti itulah seharusnya adaptasi nilai-nilai lokal terhadap arsitektur masa kini. Tidak harus terlihat tradisional secara fisik (bukan duplikasi atau replikasi), namun mengandung makna-makna lokal yang dapat ditelusuri asal muasalnya. Eksplorasi terhadap kekayaan nilai lokalitas seperti kain tenun yang ada di Nusa Tenggara Timur ke dalam desain arsitektur masa kini, diyakini akan dapat menghasilkan karya-karya arsitektur dengan identitas budaya lokal, sehingga tidak hanya lestari, namun juga mengalami perkembangan.*

    Opin telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor pada Harian Umum Flores Pos edisi 5 Maret 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor.

     

     

Berita Terkait