Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Mengelola Pantai Ria di Kota Ende

    2017-03-17 09:41:38
    Images

    Mengelola Pantai Ria di Kota Ende

    Oleh Josef A. Gadi Djou, S.E, M.Si.

    Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Flores, Ende

     

    Kabupaten Ende yang berada di tengah Pulau Flores memiliki berbagai objek wisata yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara. Kota Ende sebagai ibukota Kabupaten Ende berada pada posisi strategis di pantai selatan Laut Sawu yang membentang luas.

    Kota Ende sebagai kota tua di Flores menyimpan energi sejarah unik dan sejumlah objek wisata yang dapat memikat banyak wisatawan. Sejumlah lokus berpotensi menjadi sentra objek wisata, baik kategori wisata budaya maupun wisata bahari, antara lain Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, Gedung Imakulata, Lapangan Pancasila, Dermaga Ipi, Pantai Bita Beach, dan Taman Pantai Ria.

    Salah satu kekuatan daya pikat di Taman Pantai Ria adalah menyaksikan moment tenggelamnya matahari di sore hari. Selain itu, Pantai Ria berpasir hitam, di tempat lain berpasir putih. Potensi pemandangan yang unik ini dapat dikembangkan secara profesional menjadi taman bermain anak, tempat berjualan makanan dan minuman untuk para wisatawan atau warga Kota Ende pada umumnya. Sejak sore sampai malam hari Taman Pantai Ria bisa menjadi objek wisata kuliner di Kota Pancasila yang menjanjikan.

    Jadi, di Taman Pantai Ria ini dapat dikembangkan menjadi beberapa jenis objek wisata. Opsinya bisa berupa objek wisata bahari, wisata bermain anak, dan wisata kuliner. Bagi wisata kuliner, yang paling gampang adalah memperluas area berjualan makanan dan minuman, serta jenis-jenis makanan dan minuman dengan berbagai variasi yang menarik selera wisatawan atau warga Kota Ende secara keseluruhan.

    Kalau diperhatikan pada saat ini, ternyata area untuk menjual makanan di Taman Pantai Ria hanya diberikan “kaplingan” kecil dengan rombongan pedagang yang banyak. Pemandangan menjadi kurang asri sebab nampak sangat padat dan tidak efektif sebagai tempat makan yang nyaman bagi para tamu. Selain itu, menu makanan yang dijajakkanpun bersifat homogen dan kurang merepresentasikan selera lokalitas karena sesungguhnya makanan khas masyarakat Kabupaten Ende tidak tersedia. Padahal beragam makanan bisa dibuat, dikemas, dan dijual di Pantai Ria yang memendarkan aura makanan lokal orang Ende.

    Keinginan untuk berwirausaha dalam keadaan ekonomi seperti saat ini pasti mengundang minat banyak pihak di Kota Ende. Pengamatan penulis, sebagian besar pedagang makanan di Pantai Ria adalah orang-orang yang sama, hanya saja memiliki rombongan jualan lebih dari satu dengan nama yang berbeda-beda terdaftar di dinas terkait. Hal ini dapat terjadi karena dinas tersebut belum mempertimbangkan aspek transparansi dalam pengadaan dan pengalokasian rombongan yang ada.

    Setiap wirausahawan perlu selalu mengingat bahwa pasar mempunyai hukum permintaan dan penawaran. Sebesar apapun penawaran tetapi kalau daya tarikya lemah, maka tidak akan mempengaruhi permintaan. Penawaran yang optimal harus disertai dengan inovasi dan kreativitas produk. Apabila semua pelaku usaha melakukan inovasi dan kreativitas atas produknya secara sehat di antara para pedagang, maka gerak grafik permintaan akan mengikuti penawaran. Tinggal mengelola secara positif suasana persaingan agar tidak saling mematikan.

    Sementara itu, tempat bermain anak yang ada di Pantai Ria tampak seadanya saja dan tidak dikelola dengan baik. Orangtua tentu menjadi tidak nyaman apabila meninggalkan anakya bermain sendiri karena fasilitas yang disediakan kurang memadai. Objek wisatanya kurang nampak terutama dari aspek ketersediaan fasilitas. Agar potensi Pantai Ria tidak hilang dan menjadi biasa saja seperti saat ini, maka dinas terkait perlu membentuk badan pengelola. Badan pengelola sebaiknya dari perusahaan daerah atau perusahaan swasta dalam bentuk sharing keuntungan. Banyak anak muda kreatif bisa mengelola objek wisata Pantai Ria menjadi baik. Sebaiknya intervensi pemerintah dikurangi sebab tugas profetik pemerintah  adalah membuka lapangan kerja. Semua pemangku kepentingan perlu menyumbangkan pikiran bernasnya agar pemanfaatan Pantai Ria dapat dioptimalkan. Penataan dan pemanfaatan Pantai Ria sudah dirasakan mendesak; terutama agar tidak berbenturan dengan kepentingan pelabuhan Ende tempat keluar masuknya barang kebutuhan masyarakat Kabupaten Ende. Termasuk juga dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ende berkaitan dengan lokasi tangkapan ikan masyarakat. Koordinasi ini dalam rangka mensinergikan pemanfaatan fasilitas laut dan fasilitas darat Taman Pantai Ria.

    Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten Ende tidak akan maksimal diterima kalau produk wisata yang dijual di Pantai Ria hanya seperti itu. Minimnya inovasi dan pengembangan kreativitas menyebabkan nilai objek wisata Pantai Ria menjadi minus. Karena nilainya biasa-biasa saja, maka penghargaan yang diterima juga kecil dan kurang berfaedah. PAD yang besar hanya akan tetap menjadi obsesi, jika penawaran tidak menarik minat orang untuk datang dan menikmati potensi wisata Taman Pantai Ria. *

Berita Terkait