Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Menjaga Keharmonisan Hubungan Dua Gheta Lulu Wula, Manusia dan Lingkungan

    2016-05-25 09:35:43
    Images

    Menjaga Keharmonisan Hubungan

    Dua Gheta Lulu Wula, Manusia dan Alam

    Oleh : Pasifikus Mala Meko, SST.Par.,M.Par.

    Dosen Pendidikan Sejarah, Staf Publikasi Uniflor Ende

    CP : 085389905044

     

    Dewasa ini, hampir tidak disadari, mata rantai keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia, dan lingkungan mulai tergerus. Hubungan antara manusia kepada Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya mulai perlahan-lahan lepas dari sebuah kekuatan lain, sel rekat afinitas, yakni kekuatan karena adanya pertalian batin yang kental dan kuat lantaran ada pengalaman yang sama yang bersumber pada sikap religiositas. Harapan akan tegaknya keharmonisan dimaksud kian tergerus dan menipis ketika dikaitkan dengan berbagai fenomena yang terjadi masa kini. Hubungan antara manusia kepada Tuhan, dapat diwujudkan dari segi keimanan dengan perantaraan sikap dan perilaku. Manusia dengan lingkungan yang mesti diwujudkan dalam konsep hospitality seakan tidak nampak. Sedangkan hubungan antara manusia dengan sesama lebih terorientasi pada apa yang diberikan dan mengharapkan apa yang harus diterima. Semuanya selalu dipersepsi dan ditakar secara ekonomis. Itulah sebabnya, nilai humanis kemanusian semakin diabaikan, bahkan mulai terpinggirkan. Ketidakharmonisan antara ketiga unsur itu selalu membawa dampak yang negatif dalam sikklus kehidupan manusia.

    Hubungan manusia dengan Tuhan ditandai oleh kurangnya ketaatan dan pengamalan nilai religius yang boleh jadi mengakibatkan munculnya berbagai bentuk perilaku yang tidak searah dengan ajaran agama. Antara manusia, ditengarai akibat putusnya komunikasi sebagai media persatuan, menjadi sumber konflik di antara individu, maupun kelompok masyarakat. Tidak disadari bahwa konflik inilah menjadi pemicu lunturnya nilai-nilai kebersamaan yang menjadikan “keharmonisan” asali yang menjadi kekuatan semakin jauh masuk ke dalam “ketidakharmonisan”. Padahal, kita tahu bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat menjunjung jati diri yang tidak lain merupakan warisan para leluhur dulu.

    Dengan alam, kita tidak mendapati lagi keindahan yang sempurna, hijau alam raya yang asri. Justru kita tengah merasakan kehilangan keharmonisan jagat raya dan isinya. Bunyi perkutut dan kicau burung pagi, di kampung sekalipun. Betapa mudah dan permisif kita bisa menyaksikan polusi akibat ingar bingar jalanan kota, juga sampah bekas biarpun ada program untuk “membuang sampah pada tempatnya.” Lebih parah, aktivitas pertambangan, penebangan,  dan banjir bandang adalah fakta faktual betapa kita mulai resah dan bumi kian “gerah” dengn ulah kita.

    Dalam masyarakat Lio, misalnya konsep keharmonisan sudah dicontohkan oleh leluhur. Kepercayaan masyarakat Lio mengenai asal mula Ine Pare dan keberadaan bukit Keli Ndota adalah bukti sejarah keharmonisan tersebut. Secara turun-temurun kepercayaan akan Ine Pare dan Keli Ndota mempunyai kaitan erat dengan fungsi tanah sebagai tempat manusia berpijak, mencari makan, dan menanam, serta tinggal. Berbagai bentuk ritual adat yang telah diwariskan oleh leluhur terdahulu memberi makna syukur dan rasa terima kasih atas apa yang telah diberikan Sang Pencipta melalui berbagai bentuk media ataupun sarana. Salah satunya, ritual neka tana atau melukai tanah. Hewan dan darah yang menjadi simbol dalam ritual tersebut memberikan makna dan fungsi untuk mempererat hubungan antarmanusia dengan Sang Pencipta (Dua Ngga’e Ngeta Lulu Wula), sesama dan lingkungan. Hewan dan darah yang dikurbankan, selain sebagai bentuk pengucapan syukur kepada Sang Pencipta, juga sebagai simbol persatuan masyarakt adat dan tokoh adat sebagai perpanjangan tangan dari leluhur di bumi dan Tuhan. Konsep keharmonisan yang digambarkan di atas berlaku pada setiap wilayah atau persekutuan adat pada etnis-etnis yang ada di Nusantara ini. Kendati terimplementasi dalam berbagai wujud penghormatan yang berbeda-beda.

    Hemat penulis, keharomonisan itu bisa terjaga ketika penerapannya sesuai dengan apa yang mesti dilakukan oleh setiap kita. Jika tidak, maka petaka akan didapat sebagai sanksi darinya. Oleh itu, kita diharapkan untuk membangun komunikasi yang elegan agar senantiasa menyatukan perbedaan persepsi di antara kita. Alam atau lingkungan mempunyai cara tersendiri untuk mereklamasi dirinya, namun proses tersebut dapat muncul seketika maupun melalui tahapan waktu yang disadari atau tanpa kita sadari proses tersebut dapat membawa dampak yang buruk bagi kehidupan baik manusia hewan maupun tumbuhan.

    Manusiapun punya cara tersendiri untuk menaggapi ketidakharmonisan tersebut melalui dua model yang berbeda, melalui proses merefleksikan diri dengan berpedoman pada apa yang menjadi keharusan dalam nilai religious dan buadaya dalam adat, ataukah ikut tergerus dalam konflik yang berkepanjangan yang secara sadar ataupun tidak, akan menjadi bagian yang tereliminasi dari proses reklamasi alam atau lingkungan. *

    Opini telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor pada Harian Umum Flores Pos edisi 27 Februari 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor.


Berita Terkait